My Secret Life

My Secret Life
Bab 120: Pernyataan Asfa


__ADS_3

Klik...


"Apa aku boleh masuk?"


Bukan jawaban yang di dapat tapi sebuah senyuman di sela isak tangisnya, aneh tapi nyata gadis dengan rambut kuncir satu itu justru tersenyum manis setelah melihat siapa yang datang.


"Apa kamu terpaksa menerima kontrak kerjasama baru?" Asfa memasuki kamar Rania yang sudah di pindahkan ke kamar khusus oleh papanya.


"Lalu apa alasanmu menerima kontrak kerjasama yang baru?" selidik Asfa setelah Rania hanya menjawab dengan gelengan kepala saja.


"Anda alasanku." jawab Rania dengan binar mata yang penuh semangat namun Asfa justru menaikkan alisnya.


"Maksudku, sejak masuk ke dalam mansion Tuan Besar, seluruh orang hanya memuji satu nama yaitu Queen. Dan ternyata Queen adalah nona muda dari Tuan Besar, rasa penasaranku membuat ku menggali semua informasi tentang anda. Dan semakin mengenal anda dari setiap kata yang kudengar, rasa kagum ku semakin besar dan aku ingin menjadi salah satu yang bisa di andalkan oleh anda." jelas Rania dengan iringan senyum yang menyiratkan kebahagiaan.


"Aku kesini untuk mengatakan sebuah kebenaran, apa kamu siap?" cetus Asfa dan memilih duduk di samping Rania.


Sikap dingin Asfa tak melunturkan senyum di wajah Rania, terlebih lagi dengan pemilihan tempat duduk Asfa justru memberikan kesan di hargai sebagai orang asing.


"Apapun yang anda katakan, aku siap mendengarkan." tukas Rania dengan serius dan wajah memerah karena malu.


"Apa kamu ingin menemui keluarga mu? Ibu kandung mu." ucap Asfa dengan memandang Rania lembut nan dingin.


"Aku bisa menemui keluarga ku di makam, tapi setelah menikah saja." Rania tidak memahami tujuan dari pertanyaan Asfa dan justru menjawab secara sederhana.


"Aliska, dia ibu kandung mu. Keluarga yang mengasuhmu hanya mengadopsi dirimu sejak bayi, atau lebih tepatnya memang di serahkan untuk di rawat orang lain setelah kelahiranmu." jelas Asfa dengan pelan.


"Apa aku bayi terlarang? Atau keluarga asli ku membenci ku?" cecar Rania dengan suara yang tercekat dan hembusan nafas yang memburu.


Greeeb...


"Tenanglah. Jauhkan over thinking mu!" bisik Asfa dengan menarik tubuh Rania ke dalam pelukannya.


"Aku..." sela Rania dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Ssstt. Dengarkan aku, kini kamu menjadi kakak iparku sekaligus menjadi adikku. Aku di sini selalu bersamamu. Paham!" tutur Asfa dengan mengelus kepala Rania.

__ADS_1


Hiks... hiks... hiks...


Suara isakan mulai terdengar membuat Asfa menghentikan niat hatinya untuk berbicara serius dengan Rania, dan Rania seperti terhantam badai. Ucapan Asfa seperti sebuah tornado yang menghempaskan rasa percaya diri di dalam hidupnya.


Bagaimanapun selama ini dengan bangga dirinya menyebut nama kedua orang tuanya, tapi kini masihkah bibirnya diizinkan untuk mengucapkan nama keluarga yang telah membesarkannya? Atau ikatannya selama ini hanya sebuah hubungan sementara dan palsu. Meskipun hidupnya dalam kekurangan tapi tetap saja kasih sayang yang didapatkan sungguh berlimpah ruah, tapi kenangan demi kenangan seakan enggan mengatakan kejujuran tentang dirinya.


"Lupakan ucapan ku, sekarang istirahatlah. Esok hari pernikahan mu." pinta Asfa dan melepaskan pelukannya.


"Hiks.. jangan pergi." cicit Rania memelas dengan mata sembabnya.


"Hmm. Ayo berbaring!" perintah Asfa dan membimbing Rania untuk menjadi penghuni kasur lembut dengan sprei motif bunga mawar.


"Queen." Rania memanggil Asfa dengan pelan.


"Nama mu Rania Carlotte, putri Aliska. Sudah, cukup itu yang perlu kamu tahu." tukas Asfa yang melihat reaksi Rania seperti orang penasaran namun bingung bagaimana caranya bertanya.


Pernyataan Asfa membungkam mulut Rania, sebuah memori melintas di dalam kepalanya. Seakan seperti sebuah remote control, memori 3 tahun lalu disaat usianya masih 15 tahun akhirnya kembali berputar secara otomatis di dalam kepalanya.


Flashback


"Yah, ibu juga takut. Tapi ayah tahu kan , Nia paling anti ama namanya pondok. Hhaaah, gimana ini ya yah?" tutur ibu Rania menghela nafas dengan kasarnya.


"Gimana kalau kita coba hubungi mbak Aliska? Bukankah kita masih menyimpan nomernya?" saran ayah Rania dan sukses membuat gerakan tangan istrinya berhenti dan menatapnya dengan tajam.


"Jangan yah! Nia itu putri ku bukan putrinya. Jadi hanya aku yang berhak atas Nia." sergah ibu Rania dan menyilangkan kedua tangannya.


"Tapi mbak Aliska itu.." balas ayah Rania yang terhenti karena suara putri kesayangannya tiba-tiba saja terdengar memasuki kamar sederhananya.


"Pagi ayah, ibu. Apa kalian siap untuk jalan-jalan?" tanya Rania dan membuka pintu kamar orang tuanya.


"Wah putri ayah sudah siap, sana panasi dulu mobilnya nak. Biar ayah bantu ibu untuk mengemas pakaian ganti." tutur ayah Rania dengan menetralkan ekspresi wajahnya.


"Okay yah, Nia tunggu ayah dan ibu di depan." ucap Rania dan menggambil kunci mobil sewaan yang biasanya digunakan oleh ayahnya untuk berjualan sayur keliling.


Melihat wajah tegang ibu dan ayahnya, sungguh membuat hatinya bergejolak namun rasa penasarannya teralihkan dengan tujuan jalan-jalan yang sudah di rencanakan sejak lama. Memang ucapan yang masuk ke telinganya hanya sekilas dan tidak dari awal, tapi nama yang sama kini melewati gendang telinganya sekali lagi.

__ADS_1


"Ekhem!" dehem Asfa yang membuat Rania menggaruk keningnya sendiri.


"Tidurlah!" perintah Asfa dengan nada yang dingin membuat bibir Rania mengerucut.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di bandara tengah terjadi kericuhan. Banyak pasang mata memandang para pengawal pribadi yang jumlahnya tak tanggung-tanggung, dengan body sixpack dan juga kacamata hitam yang menutupi mata semua pengawal. Tapi bukan itu yang menjadi fokus utama semua orang, melainkan seorang pria dengan pakaian casual yang tengah duduk di atas kursi hasil perampasan dari meja resepsionis.


...~~...


.


.


. hay guy's, apa kabar?


.


.


. Othoor minta maaf kemarin gak bisa up, beneran dunia nyata membuat othoor ngeleg plus cape fisik dan hati.


.


.


. Intinya jangan lupa like, comment, favorit, vote, tips plus happy Reading ya reader's.


.


.


.



~🥰🔥🥰

__ADS_1


__ADS_2