My Secret Life

My Secret Life
Bab 246: QUEEN


__ADS_3

"Aku tidak pernah menyalahkan mu karena kamu adikku. Hanna juga mencintai kita sebagai keluarga. Pengorbanan yang dia lakukan akan selalu menjadi rasa syukur seumur hidupku. Jangan meminta maaf, mungkin ini yang Tuhan gariskan untuk kehidupan ku." bisik Justin seraya mengusap kepala Asfa penuh kasih sayang.


Keduanya membiarkan tetesan air hujan berlalu. Hingga rasa yang menyekat di hati perlahan terlepas. Belenggu rasa bersalah, dan penyesalan sedikit berkurang.


"Ayo, kita pulang, Ka." ajak Asfa melepaskan pelukannya.


"Ayo," Justin masih menggandeng tangan Asfa, "Btw, sekarang queen bisa di peluk lama. Apa bos ku ini meleleh?"


Ucapan Justin langsung di hadiahi cubitan ringan di perut yang terasa keras, tapi tetap saja cubitan hanya terasa seperti digigit semut.


"Hehehe main cubit nih? Kok gak sakit, ya?" celetuk Justin masih menggoda Asfa.


"Kurang? Mau ini?'' Asfa menunjukkan tinju tangan kanannya yang langsung menerbitkan senyuman lebar Justin, " I hope everything fine....,"

__ADS_1


"Calm down! Semua baik, dan akan tetap baik." Justin menetralkan emosi di dalam hatinya, ia tak ingin Asfa memiliki banyak beban pikiran.


Di dalam kehidupan seorang Asfa. Tanggung jawab bukan hanya pada keluarga, tapi pada setiap nyawa yang kini menjadi anak buahnya. Tanggung jawab perusahaan yang kini kembali digeluti setelah beberapa bulan vakum, dan juga tanggung jawab terbesar menjadi seorang pemimpin mafia Phoenix. Lalu, bagaimana dengan kerumitan hubungan di setiap aral rintang? Pengkhianatan papa mertua, tuduhan pembunuhan oleh mantan suami. Di tambah musuh-musuh yang selalu mengintai.


Jika ingin menggambarkan hidup seorang Asfa. Maka kehidupannya seperti bunga mawar di tengah lautan. Tidak ada penjelasan yang sanggup menjabarkan. Tak seorangpun bisa tetap berdiri. Setelah badai menghantam sedemikian rupa. Jatuh bangun, tetapi masih tetap teguh pada prinsipnya. Tidak ada keluhan, tidak juga putus asa.


Keduanya meninggalkan pemakaman umum dengan mobil masing-masing. Perjalanan di lewati dengan cepat. Bagaimana tidak, tanpa kesepakatan. Mobil Van hitam dan mobil sport hitam menyibak malam dengan mengasah keahlian mereka. Ditengah derai air hujan, mobil melaju tanpa memikirkan kecepatan. Perjalanan menjadi sangat singkat, hingga hitungan lima belas menit mencapai pintu gerbang nan tinggi yang terbuka otomatis.


Mobil sport berhenti di halaman luas dengan diikuti mobil van hitam dari belakang. Kedua pengemudi turun bersamaan. Setelah membuat para bodyguard tercengang karena kemunculan nona muda. Justru wajah Asfa dan Justin merasa puas atas balapan yang baru saja mereka lakukan.


"Ayo, masuk! Bersihkan dirimu, aku akan buatkan makanan favoritmu." Justin menggandeng Asfa, membimbing wanita itu masuk ke dalam mansion tuan besar.


"Malem, Queen, Duke." Sambut para bodyguard dengan sedikit membungkukkan tubuh mereka.

__ADS_1


"Pagi, guys." Jawab Asfa santai.


"Lanjutkan pekerjaan kalian!" titah Justin dingin.


Pintu utama terbuka tanpa harus mengetuk pintu. Keduanya masih saja berjalan bersama, sedangkan tatapan mata Asfa berkelana menelusuri seluruh ruangan. Setiap sudut, setiap inci. Tidak satupun perubahan dirinya lihat. Semua sama seperti terakhir kali.


"Tuan besar tidak mengizinkan satu benda pun bergeser dari posisinya. Semua kenangan kalian adalah sumber kekuatan baginya. Kamu tahu, papamu sangat kesepian disaat keputusanmu meninggalkan semua milikmu." Jelas Justin.


"I know, Ka. Aku ke kamar dulu, dan kakak juga bersihkan diri." Asfa berlari kecil meninggalkan Justin tanpa ingin menunggu jawaban.


"Selamat datang kembali, Queen. Aku bahagia kamu kembali. Dunia bisa saja berpikir sesuka hati tentangmu, tapi kamu adalah Queen. Tanpa di minta, kamu akan selalu mengulurkan tangan untuk memberikan pertolongan." gumam Justin.


Suara langkah kaki dari belakang kembali melanjutkan langkah kakinya, lalu berhenti di sebelah Justin. "Kapan kamu akan mengatakan kebenarannya?''

__ADS_1


"Itu bukan hak ku. Apa kamu berpikir, seorang queen tidak tahu apapun? Dia bisa pergi jauh dari kita, tapi tidak dengan pengawasannya." Justin menggeser posisinya, dan berhadapan dengan seorang wanita, "Queen is queen. No one can change it."


(Ratu adalah ratu. Tidak ada yang bisa mengubahnya.)


__ADS_2