My Secret Life

My Secret Life
Bab 72: Mansion di kebun jeruk bali


__ADS_3

Sedangkan di tempat lain di dalam sebuah kamar yang luas dengan berbagai hasil lukisan terdapat satu sosok yang tengah tertidur dengan tubuh tengkurap memeluk satu bantal hitam, dengan pakaian nya yang masih style di luar rumah tetap saja sosok itu tertidur dengan dengkuran halus.


Terdengar sebuah lagu yang mulai mengisi kamar tersebut dengan lembut nya dan tampak tangan sosok itu berusaha meraba sisi tempat tidur nya untuk menangkap asal suara yang mengusik tidur nya. Setelah mendapatkan dengan lirikan di balik bantal di geser nya icon hijau di genggaman tangannya, dan dengan malas meletakkan benda pipih itu di telinga nya.


"Tuan muda dimana? Cepat lah pulang, tuan besar mengalami serangan jantung." ucap panik dari seberang.


"Apa! Ok aku pulang." seru sosok itu dan segera bangkit dari posisi ternyaman nya.


Dengan membasuh wajah di wastafel dan menarik jaket kulit di sofa, dengan buru-buru sosok itu meninggalkan apartemen pribadinya.


Motor sports hitam itu melaju dengan kecepatan maksimal membelah ramai nya jalan raya tanpa mempedulikan umpatan pengendara lain, hingga memasuki sebuah wilayah dengan deretan kebun jeruk bali dan di antara perkebunan itu terdapat sebuah mansion yang megah dan klasik berdiri sendiri tanpa atap rumah lain nya selain kebun jeruk bali.


Pintu gerbang langsung terbuka dengan seorang satpam yang sudah siaga bekerja di dalam pos nya, setelah motor sports tuan muda nya memasuki pelataran mansion, pintu gerbang di tutup kembali. Terlihat tuan muda nya buru-buru memasuki pintu utama tanpa menyapa satpam ataupun dua bodyguard penjaga pintu utama.


Langkah nya terdengar berlari menuju ke sebuah kamar yang ada di lantai bawah, kamar yang selama satu tahun ini menjadi milik papa nya setelah di larang naik tangga oleh dokter pribadinya.


Ceklek....

__ADS_1


"Tuan muda." ucap seorang pria usia 40 tahun dengan jas putih nya melihat sosok pemuda yang baru saja membuka pintu.


"Pa." panggil pemuda itu setelah mendekat dan duduk di sisi tempat tidur papa nya yang terbaring dengan selang infus dan alat pernafasan.


Tidak ada jawaban selain tatapan yang mengatakan papa baik-baik saja dan jangan khawatir, yah begitulah papa nya selama ini. Bukan nya sebagai putra tunggal dirinya tidak tahu keadaan papa nya tapi dirinya tidak ingin papa nya semakin sedih jika melihat putra tunggal nya meratapi ke tidak lengkapan keluarga nya, maka dari itu papa nya tidak pernah mengekang ataupun bersikap impulsive.


"Doc, bagaimana keadaan papa? " tanya pemuda itu dengan mengecup tangan papa nya yang terbebas dari infus.


"Tuan besar Vicento mengalami serangan jantung setelah jatuh dari kamar mandi, beruntung pelayan menemukan tuan besar dan langsung memanggil ku. Tapi tolong bujuk papa mu nak, berhenti lah bekerja dan mulai fokus untuk kesehatan nya saja." ucap docter itu dengan menepuk bahu pemuda di depannya.


"Terimakasih paman, bisa tinggalkan kami berdua." ucap pemuda itu tanpa mengalihkan pandangan dari papa nya.


Kepergian semua orang dan tertutup nya pintu kamar membuat pemuda itu sejenak memejamkan mata nya dengan helaan nafas yang terdengar seperti melepaskan beban yang di tanggung nya selama ini, mata nya kembali terbuka dengan tatapan berbeda. Di pandang nya wajah keriput nan pucat di hadapan nya tapi mata tua itu masih memancarkan sebuah kebahagiaan dengan kasih sayang yang tulus untuk dirinya, tidak di pungkiri selama lima tahun hanya papa nya yang menjadi kehidupan nya.


"Maafkan Rei pa, tapi Rei harus mengambil alih semua nya mulai hari ini. Papa cukup dukung dan berdoa untuk Rei, izinkan Rei menjadi pemimpin perusahan milik papa. Rei mohon pa, lihatlah Rei dan berikan satu kesempatan agar Rei layak menjadi putra Tuan Vicento." ucap Rei tegas lembut tapi penuh arti.


Tuan Vicento tidak sanggup menjawab tapi di sudut mata nya mengalir kan air mata haru, sungguh dirinya tidak menyangka jika putra tunggal nya sudah dewasa dan mulai berfikir tentang tanggung jawab. Sebagai orang tua dirinya tahu jika putra tunggal nya itu sering mengikuti balapan liar dan nongkrong di club tapi tidak melebihi batasan terlalu jauh karena seberapa larutnya pemuda itu kembali ke apartemen tetap lah dalam keadaan sadar dan tanpa membawa seorang wanita.

__ADS_1


Melihat air mata mengalir di mata papa nya membuat Rei menghapus air mata itu dengan sebuah gelengan kepala, agar papa nya berhenti menangis. Tangan papa nya mulai bergerak dan Rei memperhatikan itu dan mencoba memahami apa yang di inginkan oleh papa nya yang tidak bisa berbicara dengan alat pernafasan yang menutupi mulut dan hidung nya.


Sebuah uluran tangan yang menunjuk ke sebuah lemari di pahami oleh pemuda itu dan mengikuti arahan jari papa nya, satu pintu lemari putih di buka. Terlihat beberapa berkas yang tertumpuk rapi, dengan sabar pemuda itu melihat satu persatu berkas hingga menemukan sebuah map coklat yang ada di urutan terbawah.


Map itu seperti sebuah map untuk melamar sebuah pekerjaan, setelah di buka dirinya memahami apa keinginan papa nya. Di tutup nya almari itu dan kembali duduk di dekat papa nya, satu map coklat kini ada di dalam genggaman tangan nya. Di pandangi nya mata papa nya yang penuh harapan untuk dirinya dan entah dari mana sebuah anggukan kepala akhirnya terjadi.


"Rei akan lakukan seperti yang papa inginkan, cukup papa fokus dengan kesehatan dan jangan fikirkan lagi urusan perusahan. Rei sayang papa." ucap Rei.


Mendengar hal itu membuat Tuan Vicento merasa lega dan kini dirinya bisa mulai memulihkan keadaan nya, setelah memastikan papa nya tertidur. Pemuda itu keluar dari kamar dan berpindah ke kamar atas dimana kamar nya berada, begitu pintu terbuka tampak dengan jelas ruangan besar itu di penuhi lukisan yang menempel di dinding kamar.


Direbahkan nya tubuh yang tidak lelah tapi lelah hati nya membuat pemuda itu menatap atap tempat tidur nya dengan segala fikiran yang mulai memasuki kepala nya, kehidupan nya tidak lagi lengkap setelah ibu nya memilih bercerai dan menikah lagi dengan ntah siapa. Tapi papa nya selalu memberikan segala nya tanpa di minta, bukan hanya harta tapi juga kasih sayang, tidak ada sejarah nya papa nya itu memberikan sebuah tekanan hanya karena untuk menyebutnya sebagai putra yang membanggakan.


Bahkan di saat dirinya memilih kuliah dengan jurusan seni pun tetap mendapatkan dukungan seratus persen dan semua alat lukis di dalam kamar nya ada lah hadiah pertama dari papa nya setelah mendapatkan surat penerimaan dari universitas. Wajah tenang, bahagia dengan senyuman khas itu selalu menjadi cambukan untuk menjadi yang terbaik di dalam tujuan hidup nya dan hari ini sudah waktu nya bagi dirinya untuk menjadi putra sesungguhnya.


Sekali lagi di buka amplop coklat yang masih ada di genggaman tangan nya, sebuah surat penyerahan perusahan yang akan resmi menjadi milik nya setelah dirinya bisa membuat kontrak kerjasama dengan sebuah perusahan. Tapi dirinya masih tidak tahu apa pun tentang perusahan yang akan menjadi kunci penyerahan perusahan papa nya, dengan tekad yang kuat membuat hati lelah nya kembali bangkit.


"Come on Rei, you can do it." ucap Rei dengan menepuk dada nya sendiri.

__ADS_1


Tanpa berganti pakaian, di ambilnya laptop di atas meja kaca nya dan memasuki halaman pencariaan yaitu goggle yang bisa memberikan segala informasi dalam waktu singkat. Dengan menekan satu persatu huruf yang ada di dalam kepala nya, kini sebuah tulisan yang menjadi fokus pencarian telah memasuki kolom pencarian dan dengan menekan enter beberapa yang cukup membuat pusing muncul satu persatu.


"Oh my gosh, what is this." gumam Rei dengan mengerjapkan mata nya beberapa kali.


__ADS_2