My Secret Life

My Secret Life
Bab 140: Ini malam kita.


__ADS_3

Abhi membawa Asfa pergi, dengan lift khusus keduanya menuju tempat istimewa.


Tiiing...


"Ayo. Ini hanya untukmu." bisik Abhi dengan hembusan nafas hangat.


Gelap...


Tidak ada apapun, meskipun terlihat samar beberapa benda memenuhi tempat dimana kakinya berdiri. Abhi masih terdiam dengan melirik jam di pergelangan tangannya.


Three.....


Two.....


One.....


Kliiik...


"Surprise My wife."


Kegelapan itu berganti dengan sesuatu di luar imaginasi Asfa, mata birunya mengerjap. Ada perasaan haru dan bahagia dengan apa yang dilihatnya. "Semua ini?"


Sungguh pemandangan di sekelilingnya penuh dengan cahaya, lentera bergantungan. Bunga mawar bertebaran, dengan lilin di piring kecil membentuk jalan menuju sebuah panggung kecil dengan tirai menjuntai. Didinding kaca tertulis Happy Birthday Queen Asfa Luxifer, bersama kue menjulang tinggi dengan desain ala kerajaan. Semua hal berbau manis seakan tertumpah hanya untuk malam ini.


Abhi melepaskan tangannya dari pinggang Asfa. Dan beralih menghadap istrinya, kaki ditekuk dengan tangan terulur. "My wife, maukah berdansa denganku."


"Sure." jawab Asfa dan menerima uluran tangan Abhi.


Abhi menuntun Asfa menuju lantai dansa dengan jalan lilin, lentera tergantung dan tirai menjuntai. Pergantian malam yang mendebarkan, hubungan baru di hari special. Sungguh kebahagiaan berlipat ganda bagi Abhi.


Sebuah lagu Bhula Diya dari Darshan Raval mengiringi dansa pasangan baru. Lagu yang menyiratkan betapa besarnya cinta sang kekasih pada pasangannya, menjadikan cintanya sebagai tujuan hidup. Kedua tangan Abhi memegang pinggang Asfa dengan erat, Asfa merangkul kan kedua tangannya ke leher Abhi.


Pandangan mata dengan warna iris sama, seakan menjadi cermin untuk satu sama lain. Alunan lagu dengan ritme romantis membuat Abhi terlena, semakin lama tenggelam dalam ketenangan Asfa. Abhi semakin memangkas jarak, menarik tubuh Asfa kedalam dekapannya. Membiarkan Asfa mendengarkan detak jantungnya, malam dengan cahaya bunga. Musik dengan ketenangan alam, menjadikan moment first day kedua pasangan itu semakin special.


"Apa kamu tidak mau tahu siapa aku?" bisik Asfa dengan lembut.


Abhi merasakan sensasi berbeda. Suara bisikan Asfa terdengar lebih menggoda. "Aku menerima mu apa adanya. Tapi, jika kebenaran mu menjauhkan ku darimu. Simpanlah kebenaran itu." tutur Abhi dengan memainkan rambut Asfa.


Asfa menghentikan gerakan tubuhnya. Melepaskan pelukan Abhi. Di tatapnya Abhi dengan serius, mata biru itu menjadi tajam dan siap menerkam. "Bagaimana kamu melindungi ku? Jika kamu saja tidak tahu siapa musuhku!"


Wuuss… Greeeb…


Tangan Abhi kembali membawa Asfa kedalam pelukannya. Satu tangan kiri Abhi memegang dagu Asfa dengan cinta. "Cukup katakan apa yang harus ku lakukan. Kini aku mengabdi padamu. Kamu dunia ku. Aku tahu tidak ada cinta di hati mu, tapi cinta ku cukup untuk kita berdua."

__ADS_1


"Sungguh?" tanya Asfa dengan senyuman tipis.


Abhi mendekati wajah Asfa. Tidak ada pejaman mata, Asfa menantangnya. Istrinya itu terlihat sangat nakal dengan senyuman tipis di wajah. "Mau bukti?"


Bukan jawaban, tapi satu kedipan mata dari Asfa membuat Abhi tersenyum penuh arti. Tanpa menunda, Abhi merenggut bibir semerah cerry milik Asfa. Sensasi kenyal dengan kelembutan terasa begitu manis, perlahan sesapan lembut Abhi lakukan. Menyesap sari yang begitu menyegarkan dahaganya. Sesuatu mulai mengikuti pergerakan Abhi.


Lirikan mata Abhi menangkap tangan Asfa yang melakukan sesuatu di dada bidangnya. Tangan mungil itu membuat tubuh Abhi meremang, kecupan semakin dalam. Dua sensasi yang membangkitkan sesuatu dibawah sana. Asfa semakin menyentuh kulit Abhi dengan nakal. Tangan mungilnya tak berhenti dari satu titik ke titik lain. Abhi baru memulai sesapan dibibir tapi Asfa justru menjelajahi setiap inci tubuh Abhi dengan liarnya.


"Eemm…aaahhgg…" desah Abhi tak tahan dengan permainan Asfa.


Bagaimana liarnya jemari Asfa menelusuri setiap titik sensitif miliknya. Bahkan tidak ada raut gugup ataupun malu di wajah Asfa. "Kamu membangunkan pedang naga ku! Ku harap kamu bertanggungjawab."


Suara berat nan serak Abhi membuat Asfa tersenyum puas, jiwa liarnya kembali muncul setelah sekian lama. Bukan Abhi yang memulai penjelajahan, tapi tangan Asfa yang memulai perang malam ini. Dengan tarikan tangannya, Asfa membungkam bibir Abhi dengan bibirnya. Mengarahkan tangan kekar Abhi ke tempat seharusnya. Bagaikan kucing disodorkan ikan, Abhi menuruti setiap jalan yang dibuka oleh istrinya.


Sesapan demi sesapan memberikan Abhi kepuasan, ada kupu-kupu terbang di dalam hatinya. Asfa begitu memanjakan tubuhnya, dan bibirnya terasa candu. Tautan bibir keduanya berhenti. Asma membisikkan sesuatu. "Giliranmu."


"Apa kamu sungguh…" ucap Abhi tergantung dengan aksi nekad Asfa.


Bagaimana tidak tergantung, jika tangan Asfa semakin memanjakan tubuhnya dengan bergerak kesana kemari. Tak ingin kalah, Abhi membalikkan posisi. Kini tangan Asfa terkunci di belakang, tangan kanan Abhi merengkuh tenguk leher Asfa.


Cup…


Kecupan dengan keliaran mulai memanaskan hasrat keduanya. Tak hentinya Abhi menyesap bibir cerry Asfa hingga lipstik tipis Asfa tak berbekas. Kecupan beralih turun kebawah. Leher jenjang nan putih menjadi perjalanan kedua bibir Abhi, bekerja memberikan stempel merah yang menjadi bukti Asfa hanya milik Abhi seorang.


"Lakukan. Ini hak mu." bisik Asfa lembut.


Lampu hijau dari Asfa. Membuat Abhi menyergap dan menyesap menikmati puncak bukit kembar yang terpampang jelas, dengan tangan bergerak menyusuri setiap lekukan ciptaan Tuhan didepan matanya. Perlahan namun pasti Asfa terbawa suasana, gerakan lembut nan menuntut Abhi membuat Asfa tak tinggal diam. Tangan Asfa meremas rambut Abhi, membenamkan wajah Abhi kedalam pelukannya. Perjalanan tanpa henti membawa Abhi ke tujuan utama dalam sesi perkenalan kedua raga baru yang siap menikmati madu termanis didalam hidup.


Asfa menghentikan tangan Abhi, disaat tangan itu menyentuh kain tipis pemb@lut gua keramat. Dengan mata berkabut Abhi menatap Asfa dengan memelas. Hasrat yang memuncak membuat Abhi tak sanggup menahan kegilaan di dalam jiwa raganya. "Mari lanjutkan di kamar."


Bukan jawaban yang di dapatkan Asfa, tapi bibirnya terbungkam dengan keliaran kecupan panas Abhi. Tangan Abhi mengangkat kedua kaki Asfa agar melingkar ke pinggangnya. Kini Asfa seperti koala dengan bibir tak berdaya. Semakin lama, sesapan Abhi semakin menuntun. Jiwa Asfa tertantang untuk menjadi pemenang. Dengan liar Asfa mengigit kecil bibir Abhi, dan itu melepaskan pangutan Abhi.


Cup.. Cup.. Cup…


Asfa mengecup pipi, kening dan bibir Abhi secara berurutan seakan tengah mengabsen. Hingga bibir mungil itu mengecup leher Abhi dengan sesapan menggoda. Abhi terkejut mendapatkan serangan dari Asfa, tapi hanya sesaat hingga tubuh keduanya terjatuh diatas kasur penuh bunga. "Malam ini adalah malam kita. Tak akan kubiarkan kamu menyesali malam ini."


Asfa melepaskan sesapan dan meninggalkan jejak perjalanannya. Tatapan kedua nya kembali terpatri, seakan sepakat. Abhi dan Asfa menautkan bibir kembali, tangan yang ikut menjelah membuat hormon keduanya semakin meningkat. Hingga tangan Abhi berhasil menyingkirkan pemb@lut gua keramat milik Asfa. Panggutan berhenti.


Cup… cup… cup…


Tiga kecupan Abhi dengan absen yang sama seperti Asfa mengajarkan kecupan absen. Mata Abhi kini teralihkan ke gua keramat dengan warna putih mulus dan pintu gua merah muda. Sungguh terawat gua keramat Asfa, tanpa membiarkan lama. Abhi menjelajahi bibir gua keramat dengan sapuan lidahnya. Menyesap dan menikmati harum yang memabukkan. Tangannya pun tak tinggal diam, dengan penjelahan medan lainnya.


Dengan semangat Abhi memporak-porandakan gua keramat Asfa, hingga suara lenguhan keluar dari bibir Asfa. Lenguhan yang membakar semangat Abhi semakin liar. Bahkan gua keramat Asfa seakan tak ingin kalah, meskipun banyak sesapan dan sapuan tetap saja masih haus akan sentuhan manja.

__ADS_1


Abhi memposisikan tubuhnya di atas Asfa, mengalungkan kedua tangan Asfa ke punggungnya. Abhi membisikkan sesuatu ke telinga Asfa dengan suara serak. "Lakukan sesukamu padaku. Maafkan aku harus menyakitimu. I love you my wife."


Cup.. Cup.. Cup…


Perlahan Abhi memberikan usapan tangan dengan kecupan di beberapa titik candu. Membiarkan Asfa kembali tenggelam dalam rayuannya. Hingga sesuatu teramat besar mulai menyeruak masuk kedalam gua keramat, bahkan benda itu terlihat kesusahan untuk memasuki pintu gua. Hingga tangan Abhi terlihat memaksa, dan sedikit masuk. Hembusan nafas Abhi tertahan, dan pinggulnya terhentak maju dengan cepat dan penuh kekuatan.


"Aarrrgghh.." jerit Asfa dan langsung menggigit bibirnya sendiri.


Tubuhnya terasa terhempas dengan hentakan tanpa perasaan yang dilakukan Abhi, kukunya tertancap dalam di punggung Abhi. Rasa sakit bercampur air mata, membuat Abhi menahan pergerakannya. Ada rasa bersalah, ketika wajah Asfa begitu menahan sakit. Aliran hangat melewati pedang naganya membuktikan mahkota Asfa terjaga hanya untuknya.


"I love you so much My wife. You are mine. Only mine." ucap Abhi mengusap air mata Asfa dan memberikan kecupan dimata, kening dan bibir Asfa secara bertubi-tubi.


Asfa bisa merasakan betapa besarnya pedang naga milik Abhi, rasa sakit dari gua keramatnya membuat fikiran Asfa travelling. Meskipun melihat tubuh Abhi terbiasa disaat Abhi lumpuh dan buta. Tapi ternyata rasanya lebih menegangkan dan lebih menantang, pergulatan panas keduanya berhenti sesaat. Perkenalan antara gua keramat dan pedang naga seakan tengah saling menyapa.


"Mau lanjut atau.." ucap Abhi tak tega melihat wajah Asfa meringit kesakitan.


Tangan Asfa menarik tubuh Abhi kedalam pelukannya. Membuat si pedang naga semakin menancap di gua keramatnya. "Ini malam kita. Maka mari kita nikmati malam ini. Lupakan esok hari. Cukup biarkan malam ini menjadi penyatuan kita."


Aaah. Kenapa kamu selalu mengujiku? Tidak akan pernah aku menang dari permainan mu, kamu istri liar dengan sejuta misteri. Aku menyukai keliaranmu istriku.~ batin Abhi dan mulai menggerakkan pinggulnya perlahan.


Pangutan bibir dengan pergerakan naik turun tubuh Abhi menambahkan suara decitan kasur. Keduanya tenggelam dalam rasa yang memabukkan. Hasrat bergelora dengan penyatuan raga tanpa dosa. Pergulatan panas itu semakin lama semakin cepat hingga puncak pelepasan keduanya mencapai akhir.


"Aaarrrhhhhh… Love you Asfa." seru Abhi dengan kucuran hangat menyembur gua keramat Asfa.


Asfa hanya tersenyum dan membiarkan Abhi mendapatkan kepuasaan dalam hubungan pertama mereka. Penyatuan raga itu menjadi awal hubungan keduanya. Tubuh Abhi ambruk ke samping tubuh Asfa, tanpa melepaskan pedang naga dari gua keramatnya.


"Istirahat lah." bisik Asfa membiarkan Abhi merengkuh tubuh mungilnya, tenggelam dalam pelukan tubuh kekar Abhi.


Sinar mentari perlahan menyentuh kelopak mata Abhi, dengan enggannya mata Abhi terbuka. Didalam lengannya tak ada lagi sosok mungil yang berbagi peluh sepanjang malam. Dan tempatnya terbaring bukan lagi teras atas villa tapi kini dirinya ada di dalam kamar pribadi dengan nuansa gelap namun tirai terbuka sedikit. Dari sanalah sinar mentari menyusup.


"Kemana kamu? Coba aku periksa ke kamar mandi."


Tanpa alas kaki, Abhi mendekati pintu kamar mandi. Tapi nihil, tidak ada Asfa didalam kamar mandi. Sejenak Abhi berfikir, jika dirinya tidur dikamar dan kini tubuhnya sudah berpakaian. Lalu siapa yang membawanya ke kamar dan siapa yang memakaikan pakaian ke tubuhnya?



...~~~~~...


. Othoor gak niat buat nerusin bab hari ini, tapi nanggung.


Jadi anggap saja othoor selesaikan PR terberat selama penulisan... Bukan karena masih single, tapi part dengan hot selalu menjadi ujian terberat bagiku, rasanya pengen lari dan membayangkan darah bukan sesapan....🚶‍♀️


. Kuharap masih nyambut ya, part ini menguras tenaga, emosi dan fikiran othoor.

__ADS_1


Sungguh otakku travelling ke tempat jauh diatas awan ☁🤦‍♀️


__ADS_2