My Secret Life

My Secret Life
Bab 141: Alasan pernikahan Abhi Vs Asfa


__ADS_3

Sinar mentari perlahan menyentuh kelopak mata Abhi, dengan enggannya mata Abhi terbuka. Didalam lengannya tak ada lagi sosok mungil yang berbagi peluh sepanjang malam. Dan tempatnya terbaring bukan lagi teras atas villa tapi kini dirinya ada di dalam kamar pribadi dengan nuansa gelap namun tirai terbuka sedikit. Dari sanalah sinar mentari menyusup.


"Kemana kamu? Coba aku periksa ke kamar mandi."


Tanpa alas kaki, Abhi mendekati pintu kamar mandi. Tapi nihil, tidak ada Asfa didalam kamar mandi. Sejenak Abhi berfikir, jika dirinya tidur dikamar dan kini tubuhnya sudah berpakaian. Lalu siapa yang membawanya ke kamar dan siapa yang memakaikan pakaian ke tubuhnya?


Bergegas Abhi keluar meninggalkan kamar, dekorasi rumah masih sangat indah. Namun terasa sunyi, seakan semua penghuni menghilang di telan bumi. Suara langkah kaki Abhi menuruni tangga terdengar begitu jelas, sejauh mata memandang didalam Villa memang tak ada manusia selain dirinya sendiri.


Kemanapun langkah kaki berjalan, Abhi berharap menemukan Asfa atau setidaknya menemukan satu orang yang bisa di tanya. Disudut ada seseorang yang membiarkan Abhi seperti orang kehilangan arah, dengan tubuh tertutup rangkaian bunga. Orang itu mengamati setiap langkah Abhi, hatinya ingin memahami seberapa jauh Abhi membutuhkan seorang Asfa.


"Sepertinya aku harus keluar villa! Yah itu ide bagus." gumam Abhi memutar arah dan berjalan menuju pintu utama villa.


Ceklek… (Abhi keluar dari Villa dan membuat sang pengintip keluar dari tempat persembunyian)


"Kalian sudah sampe? Okay. Kabari apapun yang terjadi. Jaga diri kalian!" ucap sosok itu dengan earphones ditelinga yang menyala.


Suara langkah kaki terdengar mendekat kearahnya. Siapapun yang datang dirinya tahu pemilik langkah kaki itu. "Ada apa Rhey?"


"Nyonya, apakah rapat pusat tetap malam ini?" tanya Rhey dengan menundukkan kepala.


Nenek Ara membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah Rhey yang menunduk. Assisten sekaligus tangan kanan terbaiknya itu selalu memberikan laporan tanpa melihat sikon. "Tunda, jadwalkan 3 hari lagi. Biarkan nona muda dan tuan muda yang mewakili ku. Ini sebagai debut mereka di keluarga Aranda. Siapkan keamanan, dan pastikan hanya nama King dan Queen Aranda Family."


"Siap nyonya." jawab Rhey dan undur diri.


Tangan nenek Ara mendial satu nomer penjaga luar. "Katakan pada tuan Abhi. Nona muda pergi untuk pekerjaan darurat."

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban, nenek Ara mematikan sambungan telepon dan memilih duduk di ruang tamu untuk menunggu kedatangan Abhi. Benar saja, hanya dalam sepuluh menit Abhi kembali masuk ke dalam villa. "Duduk! Kita harus bicara."


Suara nenek Ara terkesan tegas tanpa bantahan. Abhi ragu untuk duduk tapi hatinya tetap memiliki nurani untuk menghormati orang yang lebih tua, terlebih itu nenek istrinya dan kini menjadi neneknya juga. "Apa nenek Ara tahu dimana Asfa?"


"Asfa memiliki pekerjaan darurat dan terbang ke kota. Sekarang katakan padaku, kenapa kamu mau menikah dengan cucuku?" tanya balik nenek Ara dengan posisi duduk seperti seorang pembisnis wanita.


"Awalnya, aku menikah dengan Asfa karena permintaan kakekku. Bisa dianggap pertukaran mempelai wanita. Tapi kesederhanaan Asfa, membuat hatiku tergerak untuk melindunginya. Waktu yang singkat, banyak kecurigaan dan pertanyaan menumpuk didalam fikiranku. Tapi aku sadar, ketika keadaan ku lumpuh dan buta. Asfa tetap bersamaku, merawatku tanpa mengeluh dan memberikan dukungan yang sangat ku butuhkan. Banyak kejutan yang kudapatkan, tapi satu hal pasti bagiku. Mata Asfa memiliki misteri yang tak mampu ke jelajahi. Aku bersyukur menikah dengan gadis yang luar biasa, meskipun aku harus tenggelam dalam lautan pertanyaan." jawab Abhi dengan nafas teratur dan mata berbinar.


Kuharap cinta mu menyatukan keluarga, bukan menghancurkan. Alka, aku telah menepati janjiku padamu. Kini cucumu dalam pengawasan dan perlindungan cucuku. Tenanglah disurga, biarkan kami yang memikirkan masalah didunia ini.~ batin nenek Ara.


"Bersiaplah! Perjalanan mu baru dimulai. Rhey akan mengajari mu banyak hal. Waktu mu hanya 3 hari untuk pelajaran pertama. Dan, Asfa tidak akan pulang ke Villa." jelas nenek Ara menghapus binar mata Abhi.


Bukankah hubungan dirinya dan Asfa baru dimulai? Lalu kenapa Asfa pergi tanpa pamit, terlebih setelah melewati malam panjang bersama. Fikiran Abhi sudah travelling ke awan dengan pahatan sosok istrinya yang menggoda, membuat nenek Ara meninggalkan Abhi tanpa kata.


Puk…


Abhi melihat Rhey sudah ada di samping tempat duduknya dan pakaian pria paruh baya itu terlihat berbeda. Dengan kaos oblong dan celana olahraga. "Apa yang harus aku pelajari?"


"Beladiri apa yang kamu bisa?" tanya Rhey menatap Abhi dengan santai.


"Aku bisa taekwondo, dan juga tinju. Senjata api juga bisa, dan berkuda." jawab Abhi lugas.


Rhey manggut-manggut, dan berfikir sejenak. "Ayo ikut denganku!"


"Kemana?" tanya Abhi dengan alis terangkat.

__ADS_1


"Ikut saja! Tidak perlu banyak tanya boy." tukas Rhey berjalan menuju samping tangga.


Helaan nafas panjang. Kini dunia Abhi di penuhi dengan perintah dan juga menjadi anak baik. Sedangkan di perusahaan RA Company tengah terjadi keributan. Bahkan tidak ada yang menjaga batasan masing-masing. Satu wanita bertopeng hitam masih diam dan menikmati tontonan melalui layar virtual di depan matanya.


"Sampai kapan hanya menonton? Pergilah nak bereskan masalah itu!" titah Tuan Luxifer dengan lembut.


Asfa menyandarkan tubuhnya ke kursi kerjanya. Sungguh raganya masih terasa remuk akibat ulah Abhi, tapi satu panggilan dari Justin membuat mimpi indahnya lenyap. Panggilan darurat dan nyatanya diperusahaan memang terjadi kericuhan. Justin yang harus menangani dua perusahaan sekaligus, sepertinya tengah mengalami kesulitan. "Biarkan bayangan papa saja! Apakah paman tidak mau membantuku?"


Merasa dirinya disindir, Diego langsung melengos keluar ruangan Asfa dengan sikap merajuk. Sedangkan tuan Luxifer justru menepuk kening karena sikap putrinya yang jail. "Papa sudah putuskan untuk membiarkan Varo kembali ke perusahaan keluarga Aranda. Bagaimana menurutmu?"


"Jangan memutuskan hal yang papa tahu jawabannya. Ka Varo selalu bermimpi memiliki pusat penelitian medis dengan nama brand nya sendiri. Aku memiliki lahan yang cocok, Tinggal mendesain bangunan seperti impian ka Varo. Masalah perusahaan, biarkan ka Varo putuskan sendiri pa. Seperti papa membebaskan aku, mendirikan Royal Asfa Company." tutur Asfa dengan tenang dan santai..


Tuan Luxifer memikirkan pernyataan Asfa. Benar apa yang dikatakan Asfa, dirinya harus bersikap adil untuk kedua anaknya. "Lalu apa keputusan mu tentang Abhi?"


"Untuk itu. Biarlah mengalir seperti air pa. Papa tahu apa alasanku menikahi Abhi." jawab Asfa memejamkan matanya.


Fikirannya melayang menembus satu ingatan, dimana hidup mengajarinya untuk memilih jalan terbaik. Abhi adalah jalan terbaik, seperti memanah tiga burung dalam sekali bidikan. Hanya saja tanggungjawab semakin besar, terlebih Abhi memiliki hati yang jauh lebih lembut darinya. Lalu bagaimana Abhi akan bertahan di tengah kucuran darah keluarga dan musuh luar serta musuh dibalik selimut.


Ku harap kamu siap masuk ke dunia bintang ku. Sejauh kamu mempertahankan diriku. Aku akan mempertahankan mu lebih dari harapanmu. Siapa aku tergantung padamu suamiku Abhi.~ batin Asfa menghela nafas.


"Baiklah. Papa sudah urus resepsi kalian. Apa ada request?" tanya tuan Luxifer mengalihkan pembicaraan ke topik tanpa tekanan.


"Lakukan seperti yang papa inginkan. Pastikan semua datang hanya untuk mengucapkan selamat bukan membawa siasat." ucap Asfa membuka matanya.


Keduanya saling pandang. Ada satu jalan dimana kedua jiwa ayah dan anak itu hanya perlu menggunakan telepati. Hingga keduanya membalikkan pandangan kearah pintu masuk dimana seorang wanita berpakaian glamor baru saja mendobrak pintu dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


Braaak….


"Dimana dia?!"


__ADS_2