
"Jika begitu, mari berteman Tuan Luxifer." Jawab seseorang yang kini sudah berdiri di depan kedua tamu pentingnya.
Tatapan mata keduanya saling terpaut, senyuman semakin mengembang. Asfa yang memperhatikan semua itu ikut tersenyum.
"Ekhem! Awas jatuh cinta....,"
"Hahahaha, kamu ini periku. Ayo, masuk! Cuaca semakin ekstrim, sebaiknya kita ngobrol di dalam saja." ajak Sang Tuan Rumah dengan tawa renyahnya.
Tuan Luxifer menyenggol lengan Asfa untuk memastikan penglihatannya tidak salah lihat. Sebagai putri yang mengenal baik setiap isyarat sang papa. Maka Asfa tersenyum dengan anggukan kepala.
"Sejak kapan pria tua itu bisa tertawa?" bisik Tuan Luxifer.
Asfa menggandeng tangan papanya. Membimbing pria itu mengikuti langkah sang tuan rumah. "Kakek Burhan menerimaku sebagai cucunya. Meskipun butuh usaha yang keras untuk meluluhkan hatinya. Papa tahu 'kan bagaimana beliau?"
"I know, pria tua yang cukup kental tradisi dan sejenisnya." Jawab Tuan Luxifer masih setengah berbisik.
Kakek Burhan berhenti tepat di depan pintu dengan lambaian tangan agar kedua tamunya masuk terlebih dahulu. Namun, Asfa justru memposisikan diri ditengah dan menggandeng kedua pria itu agar masuk ke istana bersama-sama.
__ADS_1
"Nah, kan jadi kompak. Oh iya, dimana Elisa?" tanya Asfa setelah memasuki istana dan disambut pemandangan yang luar biasa indahnya.
Desain eropa modern bercampur seni klasik dari beberapa lukisan yang terpajang di dinding. Tirai menjuntai penutup kaca besar menyatu dengan hiasan kristal lonceng mini. Beberapa ukiran bunga tulip menonjol menghiasi beberapa titik dinding. Istana yang dipenuhi oleh nilai seni yang tinggi. Satu kata yang bisa diucapkan. Menakjubkan.
"Elisa! Tante Queen sudah datang." Seru Kakek Burhan cukup kencang.
"Sudahlah, Kek. Aku saja yang ke kamar anak itu. Pa, aku tinggal dulu. Selamat bersenang-senang." Asfa berpamitan tanpa mau merespon kode mata sang papa yang tidak ingin ditinggalkan bersama pria di sebelahnya itu.
Kakek Burhan tahu, pria yang menjadi papa cucunya sedikit tidak nyaman dengan dirinya. "Ayo, Tuan Luxifer! Kita ke bar saja, menikmati kopi hitam sambil berbincang. Bagaimana?"
"Tentu," Jawab Tuan Luxifer sedikit ragu.
"Anda suka kopi jenis apa, Tuan Luxifer?" tanya Kakek Burhan yang berniat meracik kopi untuk tamunya.
Tuan Luxifer memperhatikan setiap nama di label tutup botol kaca. Berbagai jenis kopi dalam dan luar negeri benar-benar lengkap tersedia. Hanya saja aroma yang nikmat tetap kopi luwak asli Indonesia.
"Kopi luwak saja, aromanya lebih nikmat. Gula dua setengah sendok teh, dan kopi satu seperempat sendok teh." Jelas Tuan Luxifer, membuat Kakek Burhan manggut-manggut paham. "Sejak kapan Anda di Indonesia?"
__ADS_1
Kakek Burhan mengisi teko dengan air galon lalu meletakkan ke atas kompor listrik. "Sekitar satu bulan terakhir. Setelah kabar kelahiran Rose ku dapatkan, tapi istana sudah di bangun setahun yang lalu."
"Anda tahu soal Rose?" tanya Tuan Luxifer menaikkan satu alisnya.
"Cucuku mencintai Asfa tanpa mau memberikan syarat. Selain itu, mana mungkin aku melepaskan kedua cucuku begitu saja? Bukankah musuh kita lebih licik? Aku harus berjaga-jaga." Jawab Kakek Burhan seraya menyelesaikan takaran kopi di cangkir putih bermotif bunga mawar.
"Begitu rupanya, bagaimana dengan hubungan Vans dan Asfa?" tanya Tuan Luxifer sekali lagi.
Kakek Burhan terkekeh mendapatkan begitu banyak pertanyaan dari tamunya. "Ku pikir seorang pemimpin mafia Phoenix akan seperti patung yang ku buat. Ternyata semua itu tidak benar. Sebagai seorang ayah, seorang pemimpin yang ditakuti juga bisa sangat sensitif."
"Begitulah seorang ayah. Harapan, dan doa hanya ingin anak-anaknya bahagia." Balas Tuan Luxifer.
"Vans tidak pernah memintaku untuk melamar Asfa." Kakek Burhan menyodorkan secangkir kopi ke atas meja di depan Tuan Luxifer. "Hubungan bukan hanya tentang status, sebesar apapun cinta itu jika takdir berkata bukan miliknya. Dia tidak akan memaksakan takdir menjadi miliknya. Mencintai putrimu bukan sebuah pilihan, tetapi sebuah persembahan."
"Aku tidak ingin menghancurkan hati cucuku. Apapun pilihannya, aku akan berusaha memahami dan menerimanya. Termasuk memberikan cinta tanpa meminta atau berharap mendapatkan balasan." sambung kakek Burhan, membuat Tuan Luxifer menatap kopinya begitu dalam.
Warna hitam pekat dengan aroma harum sangat menggoda, tetapi ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Apalagi jika bukan tentang hubungan Vans dan Asfa. Tidak bisa dipungkiri, bagaimana pengorbanan seorang Vans yang memilih menjadi pelindung putrinya. Keheningan memberikan cabang pikiran yang jelas. Hingga helaan nafas panjang mengakhiri semua pergulatan di dalam hati dan pikirannya.
__ADS_1
"Mari kita nikahkan mereka!"