My Secret Life

My Secret Life
Bab 109: Game


__ADS_3

"Hmmm. I come in if you still want to pass the secret path. How? (Hmmm. Aku ikut jika kamu tetap ingin melewati jalan rahasia. Bagaimana? ) " tanya Lovely dengan satu alis terangkat yang membuat wajah gadis itu terlihat serius.


Bukan nya sebuah jawaban tapi dengan gerak cepat Zain melangkahkan kaki nya menuju pintu penumpang dan membuka pintu nya sebagai jawaban atas permintaan Lovely, sedangkan Lovely masih berdiri di bawah gapura dan menikmati sikap manis kakak nya.


" Love! " seru Zain yang membuat Lovely nyengir kuda menampilkan deretan gigi putih nya dan melangkahkan kaki nya mendekati kakak nya yang masih setia di pintu penumpang.


Brak...


"Earphones!" perintah Love setelah Zain sudah duduk di kursi pengemudi.


Dengan tangan kiri Zain menerima satu earphones dari adik kecil nya, dan dengan jelas suara dari seberang mulai terdengar memberikan arahan menuju jalan rahasia yang di ingin kan oleh dirinya. Sedangkan di sebuah mansion tengah terjadi kericuhan dengan kondisi ruang pertemuan seperti kapal pecah dengan banyak nya kertas berserakan di lantai, membuat seorang pria tanpa pakaian atas mengepalkan tangan nya dengan kuku yang memutih.


Wuuss.. Praaang..


"Apa yang kalian tunggu? Keluar ! " seru pria itu dengan keras membuat anak buah nya berlarian tanpa ritme meninggalkan pemimpin mereka yang tengah murka karena mendapatkan laporan dan juga begitu banyak tagihan bank dari satu kucing centil peliharaan nya.


"Das@r kucing liar! Bukan aku yang memanfaatkan nya tapi justru dia yang memanfaatkan ku, awas saja kalau kalau balik. " ucap pria itu dengan menyambar sebotol wine yang tersaji di atas meja sebelah tempat nya duduk dan langsung membuka tutup botol wine dengan kasar.


Glug.. glug.. glug...


Suara meneguk wine nya bahkan bisa terdengar sampai keluar pintu tempat nya duduk, tanpa menyadari jika mansion nya sudah di awasi dari berbagai sisi. Banyak alat-alat canggih berupa lebah mungil yang sudah terbang mengitari mansion dan memantau keadaan di dalam mansion yang ternyata cukup lenggang, dari layar laptop yang berada di pangkuan seorang sniper handal di dalam mobil dengan jarak dua ratus meter dari mansion.


Sembari meneguk wine langkah kaki pria itu keluar dari ruang pertemuan dan berjalan menyusuri setiap inci lantai keramik dengan ukiran batik yang sangat kontras dengan penampilan vulgar pemilik mansion, langkah itu berjalan menaiki tangga tanpa menyapa siapapun yang menyapa nya. Sedangkan di luar para lebah mulai memasuki mansion melalui lubang ventilasi tanpa halangan, yang membuat sang pengintai tersenyum karena target nya tidak memberikan pengamanan yang baik demi perlindungan penghuni mansion.


"Dalam hitungan satu serang mansion!" perintah sang sniper yang memberikan komando melalui earphones nya.


Limaa...


Empaat...


Tigaa...

__ADS_1


Duaa...


Satuuuu....


Dooor... dooor... dooor... Pyaaar.. Praaang... Duuaarr....


Suara tembakan dari arah depan atas dan samping menyerbu mansion yang membuat para penghuni mansion di barisan depan langsung terkapar tak bernyawa di tambah property yang langsung rusak parah karena ledakan yang berasal dari lemparan bom mini rakitan yang datang seperti lemparan kelereng. Melihat mansion dalam keadaan lemah, para ninja merah yang bersembunyi mulai bermunculan dan menerobos masuk mansion yang sudah kehilangan pelindung terdepan sedangkan sang komando penyerangan masih memilih diam dan melihat pergerakan dari pasukan ninja merah nya melalui laptop di pangkuan nya.


Hingga pertarungan tak terelakkan terjadi di dalam mansion antara pasukan ninja merah dengan anak buah pemilik mansion, namun tujuan sang komando adalah membawa pemilik mansion tanpa luka sedikit pun. Dengan terpaksa membuat nya harus menutup pertunjukan dari laptop nya dan ikut turun tangan ke dalam mansion, langkah nya yang panjang seakan mempercepat niat nya untuk menjadi seorang pemenang.


Tanpa di sadari oleh nya jika dari arah lain sudah ada satu sosok yang menjadi saingan nya dengan wajah flat dan ikut melangkahkan kaki menuju mansion yang sudah setengah hancur, tidak ada keraguan dari langkah sosok itu hingga dengan santai nya melewati mayat-mayat yang berserakan di depan gerbang dalam.


Pertarungan yang terlihat biasa saja karena satu pihak terlihat jelas kekuatan nya dan pihak lain nya terlihat sangat lemah menjadi pertarungan tidak seimbang, dengan melipir seperti tengah bosan menikmati pertunjukan yang tidak bernilai meskipun ada rasa penasaran dengan pihak yang terlihat kuat namun langkah nya tetap menyusup di antara pertarungan dan menaiki tangga yang menuju ke atas, yang pasti nya menjadi tempat pemilik mansion.


Ada sekitar lima kamar dari ujung utara ke ujung selatan dengan desain pintu sama dan juga warna cat tembok hijau tosca dan sesaat langkah nya terhenti untuk mengamati sekitar nya namun ada aroma yang sangat di kenali nya, aroma wine dengan kualitas nomer dua puluh dengan harga sekitar sepuluh juta ke bawah. Tanpa menunda lama langkah nya kembali tertuju pada satu kamar yang ada di barisan kedua dari selatan dimana aroma wine itu menghilang di depan kamar yang tertutup rapat, sebuah senjata api yang ada di belakang punggung di ambil nya dan dengan menutup satu mata kiri nya mengarahkan senjata api itu ke knop pintu.


Doorr.. Klik..


"Siapa kamu? " tanya pria bertopeng tanpa menurunkan senjata api nya meskipun jarak kedua pria itu adalah tiga meter.


"Apa peduli mu? " tanya balik Zain dengan menurunkan senjata api nya dan memasukkan ke balik baju nya kembali di bagian punggung nya.


Yang dia lah Zain sosok yang datang di saat teakhir namun tepat dan tidak mengeluarkan banyak tenaga untuk menghancurkan mansion yang menjadi tujuan nya, mata Zain terhenti ke arah target yang akan membuat dunia nya di penuhi warna. Pria yang ternyata sudah teller karena wine dengan mata terbuka setengah dan racauan yang tidak jelas, kaos putih dengan kalung rantai yang menghiasi leher target nya pun ikutan basah dengan aroma wine.



"***Hey! Berhenti menatap mangsa ku! " seru pria bertopeng dengan nada mengancam yang justru membuat Zain menaikkan satu alis nya.


"You wrong, him my mission.( Kamu salah, dia misi ku.) " ucap Zain dengan senyuman tipis yang membuat pria bertopeng berdecak kesal karena baru menyadari pria macho di depan nya ternyata rival yang di maksud oleh queen nya.


"Welcome to the game. ( Selamat datang di permainan.) " ucap pria bertopeng dengan membidik sesuatu yang membuat Zain langsung menghindar.

__ADS_1


Duaarr.. Praaang***..


Bukan Zain yang di bidik oleh pria bertopeng melainkan sebuah Gucci yang ada di samping pintu belakang pria itu dan dengan kesempatan itu tangan pria bertopeng menarik target nya untuk berdiri dan berlari bersama nya mendekati pintu masuk kamar yang sudah tidak di jaga oleh Zain. Karena menembak gucci membuat Zain menyingkir dari jalan satu-satu nya untuk keluar masuk dari kamar pemilik mansion, sedangkan Zain masih terlihat santai meskipun setelah berguling ke arah lain hanya untuk menghindari peluru yang mengarah pada nya.


Seeet... Wuuuss.. Duug.. Bruug...


Dengan gerakan cepat Zain berlari memburu pria bertopeng yang nyaris menyentuh knop pintu dan menarik target utama nya ke arah nya dan menendang kaki pria bertopeng dengan kekuatan terbaik nya hingga membuat pria bertopeng merintih sakit sebelum keseimbangan nya tumbang dan jatuh dengan posisi duduk yang pasti membuat ****@* pria bertopeng panas plus ngilu.


"I hate game. ( Aku benci permainan.) " ucap Zain dan memilih membawa target meninggalkan pria bertopeng yang tengah menikmati rasa sakit akibat tendangan mematikan dari rival nya.


Tendangan Zain memang hanya sekali tapi tepat mengenai syaraf di kaki nya yang seakan membuat kekuatan seluruh tumpuan tubuh nya langsung lenyap begitu saja dan hati nya pun ikut ber tanya dari mana asal rival nya yang bisa langsung menumbangkan diri nya sekali pukul. Dengan menahan ngilu, di rogoh nya saku celana kanan yang menyimpan ponsel pintar nya dan sebuah nomer dengan simbol mahkota dan bunga di dial, bahkan dering ke lima masih saja panggil an nya tak terjawab.


"Queen I am Lose. ( Queen aku gagal.) " lapor pria bertopeng dengan suara terjepit yang langsung mengirimkan pesan suara nya ke nomer simbol mahkota dan bunga karena panggilan telepon nya tidak di jawab.


Sedangkan Zain sudah membawa target nya dan membuat pria dengan aroma wine yang sangat menyengat itu menjadi penghuni bagasi mobil nya, dan meninggalkan mansion yang sudah menjadi banjir darah dimana-mana. Mobil yang kini melewati jalan umum dan rute berbeda dari awal kedatangan nya, bahkan mobil yang bergerak dan melaju cukup kencang tak membuat gadis di kursi penumpang menurunkan buku novel nya.


"Love! " panggil Zain yang langsung membuat Lovely menutup buku novel dengan satu jemari manis nya menjadi pembatas buku.


"What's? (Apa? ) " tanya Lovely dengan raut wajah curiga dan tidak senang.


"Dimana aku menurunkan mu? " tanya balik Zain dengan menggaruk kepala nya yang tak gatal karena mendapatkan tatapan tak suka adik nya.


"Rumah Utama." jawab Lovely dan membuka novel nya kembali karena bisa di pasti kan jika kakak nya akan bicara panjang kali lebar setelah mendengar jawaban nya.


Rumah Utama dimana keluarga nya tinggal, sudah pasti menjadi tempat terlarang bagi kakak nya. Karena seorang Zain tidak suka hidup di atur dan di kekang bagi nya hidup adalah terbang sesuka hati nya dan motto hidup itu yang membuat kakak nya memilih hang out dari rumah Utama meninggalkan keluarga tanpa membawa satu fasilitas pun. Tapi tidak ada bantahan selain suara siulan kakak nya, siulan yang sudah lama tak di dengar lovely membuat gadis itu tersenyum di balik buku novel nya.


"Cinta membuat jiwa ku membara, my sweetheart.'' gumam Zain di sela siulan nya dan membiarkan jendela mobil di sebelah nya terbuka dan membiarkan hembusan angin menerpa wajah nya.


*Siapa dia ka? Aku ingin lihat seberapa cantik wanita yang membuat mu tergila-gila.* batin Lovely yang masih bisa mendengar gumaman Zain.


Suasana di dalam mobil begitu riuh hanya dengan siulan seorang Zain yang tengah di mabuk asmara, berbeda lagi dengan suasana yang panas di dalam sebuah kamar rawat. Dimana kini tiga pria berbeda usia duduk saling berhadapan dengan tatapan yang sulit di artikan, ada tatapan yang seolah me minta per tanggungjawab an, Ada yang me minta penjelasan hingga membuat ke tiga pria itu menghela nafas secara bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2