My Secret Life

My Secret Life
Bab 52: Kepercayaan seorang kakak


__ADS_3

Kedua nya bersiap untuk melakukan pertandingan tinju namun sebuah suara menghentikan keduanya yang langsung berbalik menatap pintu kaca yang menjadi pintu masuk, terlihat seorang pria dengan rambut acak-acakan sudah berdiri dan lihatlah pakaiannya yang akan membuat kaum hawa meneteskan air liur. Celana training ketat dengan kaos singlet warna hitam tipis itu, memperlihatkan delapan roti sobek yang terbentuk sempurna bahkan bunda Anya terlihat mengagumi sosok pria nan menggoda itu.


"Pergilah! Aku sendiri yang akan berlatih dengan queen." ucap pria itu setelah berdiri di hadapan dua wanita.


Terlihat bunda Anya masih travelling ntah kemana membuat Asfa menggelengkan kepala nya, dan menepuk bahu bunda Anya yang mengembalikan kesadaran wanita nyentrik itu. Satu isyarat membuat bunda Anya meninggalkan ruangan latihan dengan tidak ikhlas, sedangkan pria yang di lirik hanya sibuk memakai sarung tinju yang ada di tempat penyimpanan alat olahraga.


"Siap? " tanya pria itu memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri melakukan peregangan.


"Kenapa kakak disini? Bukankah seharusnya kakak menyiapkan ruangan operasi? " tanya balik Asfa melepaskan sarung tinjunya.


"Kenapa di lepas hmm? Kakak tahu mood mu tidak baik, ayo pakai lagi." ucap Alvaro mendekati adiknya.


"Dengan otot besi itu? Aku masih waras ka, kita adu menembak saja." sindir Asfa.


"Hehehe ternyata ada yang adikku takutkan. Ayolah sudah lama kakak tidak berlatih." ajak Alvaro dengan mata memelas.


"Aku adikmu bukan samsak! Ayo berenang atau yang lainnya saja." ajak Asfa turun dari ring tinju tanpa mempedulikan puppy eyes Alvaro.


"Hhaah baiklah, bagaimana dengan halang rintang? " tanya Alvaro melepaskan sarung tinju nya.


"Tidak saat ini ka, yang lainnya." jawab Asfa.


"Baiklah queen, ayo kita adu pernafasan. Sudah lama itu tidak di lakukan, sekalian pemeriksaan jantungmu." ajak Alvaro menarik tangan Asfa.


Keduanya melewati pintu samping dimana langsung mengarah ke sebuah kolam renang dengan bentuk lingkaran, air biru yang terlihat segar terlihat jernih dengan atap di atas sana. Tanpa basa-basi kedua nya saling memandang dengan jemari Alvaro yang menghitung, ketika tiga jari yang terangkat sudah menggepal kedua nya terjun bersama ke dalam kolam renang.

__ADS_1


Byuuuur....


Kedua nya berlomba dengan dua kali putaran yang harus di menangkan oleh salah satunya, terlihat gerakan Alvaro yang lebih cepat di bandingkan adiknya terlebih lelaki itu memiliki tubuh yang lebih tinggi dengan kaki jenjangnya. Putaran terakhir yang sudah jelas di menangkan oleh Alvaro meskipun jarak waktu hanya satu menit tapi bagi nya itu sebuah keterlambatan, dirinya ingat terakhir kali lomba renang bersama adiknya itu hanya menyisakan jarak waktu tiga puluh detik.


"Very late! What happen doll? (Sangat telat! Apa yang terjadi boneka?)"" tanya Alvaro mensejajarkan tubuhnya di depan Asfa.


"Hehe makhlum saja ka, ini pertama kalinya aku berenang setelah beberapa bulan bersemedi." jawab asal Asfa yang langsung mendapatkan hadiah toyoran lembut di keningnya.


"Hanya karena pria tak berguna, adikku menjadi lemah. Mulai hari ini aku kembalikan semua jadwal latihan mu." putus Alvaro.


"Ya ampun singa ku kembali, papa tolong aku." ucap Asfa dengan puppy eyesnya menatap kakaknya.


"Kakak tidak terpengaruh dengan mata imut mu, keputusan ku mutlak. Ayo mulai dari latihan nafasmu!" perintah Alvaro mengatur waktu di jam pergelangan tangannya.


"Baik singa ku." jawab Asfa pasrah menarik nafas nya dan menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air.


Tanpa menunggu Alvaro ikut menenggelamkan diri, dan adiknya masih melakukan latihan tapi mata nya terpejam membuat Alvaro khawatir. Tanpa menunggu latihan selesai di angkat nya tubuh adiknya yang tersentak ke permukaan, wajah mungil itu terlihat pucat namun tatapan mata nya mendandakan keterkejutan.


Greb...


"Maaf bukan maksud kakak mengejutkan mu, jangan ulangi seperti tadi." ucap lembut Alvaro memeluk adiknya.


Bagaimana dirinya tidak khawatir dengan keselamatan gadis satu-satunya di dalam hidupnya itu, bukan ketenangan yang di lakukan adiknya melainkan pelampiasan amarah. Setiap kali mata kecil itu tertutup di dalam air sudah pasti akan membuat dirinya khawatir, karena sudah dapat di pastikan konsentrasi dari adiknya tidaklah seimbang dengan emosi di dalam hati nya.


"Apa aku terlalu kasar ka? " tanya Asfa tanpa melepaskan pelukan Alvaro.

__ADS_1


"Seorang queen harus memiliki personality yang mutlak, meskipun itu terlihat kejam di mata orang lain tapi kakak percaya dengan semua tindakanmu." jawab Alvaro mengelus kepala adiknya.


"Bukan berarti aku setuju dengan keputusan kakak ya, meskipun kakak memujiku." ucap Asfa dengan senyuman.


"Hahaha kau ini. Kakak tidak akan mengubah keputusan yang menyangkut nyawa putri raja ini, dan tidak ada yang bisa menghentikan kakak sekalipun itu papa." ucap Alvaro melepaskan pelukan.


"Ayo bersiap, dua jam lagi operasi mata akan di lakukan." ajak Alvaro mengulurkan tangannya.


"Apa yang lain sudah datang ka? " tanya Asfa menerima uluran tangan kakaknya.


"Sepuluh menit lagi sampai, mau menemui mereka? " tanya Alvaro.


"Setelah operasi saja, biarkan operasi berjalan dalam ketenangan." jawab Asfa.


Keduanya meninggalkan kolam renang dengan keadaan basah kuyup, biarkan saja lantai menjadi basah karena pelayan akan langsung membersihkan kekacauan yang dibuat oleh queen mereka. Sementara Asfa santai berjalan dengan langkah basahnya, pria di samping nya kembali memasang wajah dingin di sepanjang langkah kaki nya seakan menegaskan jaga pandangan kalian kepada para bodyguard dan pelayan padahal tanpa tatapan tajam nya itu, sudah pasti seluruh penghuni akan menghormati adiknya.


"Queen." panggil seorang wanita dari arah pintu masuk.


"Di depan ada rombongan sirkus." ucap wanita itu setelah melihat reaksi Asfa yang hanya menaikkan satu alisnya.


"Masuklah queen, itu pasti mereka." perintah Alvaro dan berjalan meninggalkan kedua wanita yang berdiri di depan tangga.


"Bunda siapkan kamar di sisi sana untuk tamu baru ku." perintah Asfa menunjuk sisi kiri sebelah tangga dan berjalan menaiki tangga.


Melihat kepergian queen nya, bunda Anya segera melakukan pekerjaan yang diperintahkan oleh Asfa yaitu menyiapkan kamar yang ada di sisi kiri tangga. Ada tiga kamar yang disebut kamar tamu, dan setiap kamar selalu di bersihkan oleh pelayan mansion jadi bunda Anya hanya melakukan finishing saja agar tamu queen nya betah dan nyaman.

__ADS_1


Sedangkan di luar pintu utama mansion terparkir sebuah mobil yang jangan di bahas lagi, mobil itu hampir seperti rongsokan. Cat yang sudah terkelupas dengan body mobil penyok di beberapa bagian yang dibiarkan begitu saja tanpa perbaikan dan ntah bagaimana mobil itu bisa sampai dengan selamat ke mansion mewah , empat orang dengan dua pria dan dua wanita yang umurnya berbeda-beda sudah duduk ber selonjoran di atas jalan setapak depan mansion seakan baru menjelajahi dunia tanpa batas.


"Pantas saja wanita itu mengatakan ada rombongan sirkus, lihatlah penampilan kalian." sapa Alvaro menghampiri ke empat orang yang langsung mendongakkan kepala mereka.


__ADS_2