
Tuan Luxifer memandang ruangan makan yang kosong. Villa yang hanya dijaga diluar bukan di dalam, membuat tuan Luxifer kebingungan bertanya pada siapa.
"Pa? Mana Asfa?" tanya Alvaro yang baru keluar dari lorong perpustakaan.
"Bantu papa mencari Asfa! Tanyakan pada penjaga luar, apa ada penerbangan heli atau kendaraan apapun yang meninggalkan villa lima belas menit lalu," jelas tuan Luxifer membuat Alvaro cemas.
Alvaro mengangguk. Bergegas melangkahkan kaki meninggalkan villa. Hampir saja langkah kakinya melewati ambang pintu. "Papa hutang penjelasan pada Varo!"
Ucapan Alvaro, tak membuat kecemasan tuan Luxifer mereda apalagi menghilang. Saat ini hanya Asfa yang memenuhi fikirannya, gadis keras kepala dengan aturan hidup tegas. "Nak kemana kamu sembunyi?"
Sepuluh menit berlalu...
"Bagaimana? Apa Asfa sudah ditemukan?" tanya nenek Ara dengan gelisah.
Tuan Luxifer menggeleng lemah, kemunculan Alvaro membuat kedua orang tua itu saling pandang. Jika dilihat dari mimik wajah Varo, sudah pasti wajah itu lega. "Nak?"
"Tenang pa, nek. Asfa tengah berkuda dan Abhi mengikuti Asfa dengan mobil." jelas Alvaro dan membuat nenek Ara dan tuan Luxifer bernafas lega.
Melihat ketegangan dengan wajah serius bertopeng kecemasan, sungguh papa dan neneknya patut di curigai. "Jelaskan!"
__ADS_1
Sekali lagi nenek Ara dan tuan Luxifer saling pandang. Ada hal yang tak bisa dikatakan tapi Varo memiliki kepribadian hampir sama seperti Asfa. "Nak, ikutlah dengan nenek."
"Pergilah Xifer! Biarkan aku yang tangani disini." Nenek Ara mengambil alih tanggungjawab Alvaro seperti keinginan tuan Luxifer.
Tuan Luxifer mengangguk, dan menghampiri putranya Alvaro. "Ini kesempatan langka nak, berikan sedikit waktu mu untuk beliau. Ajari Rania dunia kita. Ingatlah musuh kita tidak memandang gender, semua tahu seperti apa keluarga Phoenix."
"Seperti yang papa inginkan. Tapi jaga doll, aku akan kembali dan lebih kuat dari sebelumnya." ucap Alvaro memeluk sang papa dengan kehangatan.
"Tolong ajari menantu Phoenix senjata! Rania memiliki trauma tentang itu." tukas tuan Luxifer sebelum meninggalkan ruang aula Villa.
Langkah kaki tuan Luxifer meninggalkan Villa. Menyisakan tatapan nenek Ara pada Alvaro, Alvaro memang seperti mendiang suaminya. "Varo, kapan kamu kembali?"
"Adikmu hanya mencoba melindungi mu. Amarahmu membuat Asfa bertindak jauh! Apakah kamu tahu, jika Asfa diam hanya untukmu." jelas nenek Ara membuat Alvaro memejamkan mata.
Nenek Ara mendekati Alvaro. Mencoba menenangkan cucu pertamanya itu dengan mengusap pundak Alvaro. "Nak, kalian adalah satu koin dua sisi. Tapi lingkaran koin itu hanya satu. Jika tergores, maka kalian berdua sama-sama merasakan sakitnya. Amarahmu terlepas tanpa beban, sampai kapan Asfa menjadi penenangmu? Kamu tahu bagaimana dunia mafia, Rania mungkin gadis labil tapi dia mampu menjadi obat untukmu."
"Aku tidak masalah tentang Rania. Pilihan doll menjadi pilihanku. Tapi hanya satu pintaku, jangan sembunyikan apapun dariku tentang putri raja ku. Aku tidak bisa hidup tanpanya." Alvaro menggenggam tangan nenek Ara dengan ketegasan dan kecemasan.
"Percayalah nak. Tidak ada yang bisa mengambil garis batas adikmu! Didikan dan hati Asfa telah menyatu. Bantu Abhi mendapatkan cinta adikmu." Nenek Ara mencoba membujuk Alvaro untuk apa yang menjadi tujuan hatinya.
__ADS_1
Alvaro melepaskan genggaman tangannya. Menatap nenek Ara dengan penuh selidik. Ada yang mengganjal di hatinya, sesuatu yang salah mencoba dibenarkan. "Ketika kepercayaan dipertanyakan, maka aku memilih diam. Aku tidak tahu apa tujuan nenek, tapi aku berjanji. Tidak akan kubiarkan seorang pun mengatur hidup adikku!"
Tanpa menunggu jawaban nenek Ara. Alvaro memilih kembali ke kamarnya, tanpa mempedulikan panggilan sang nenek. Kamar dengan desain eropa, semerbak aroma lavender menyambutnya. "Apa yang kamu pakai?"
Rania yang merasa terpanggil, berbalik menghadap pintu yang masih terbuka setengah. Senyuman manis terbit dari bibir gadis kuncir kuda itu. "Aku melihat itu! Dan mengikuti seperti intruksi di video, bukankah ini bagus?"
Braaak.. (Alvaro membanting pintu dengan kasar)
"Aaaapaa yang maauu.." cicit Rania.
Alvaro menarik tubuh ramping Rania, memandang mata gadis yang kini berstatus istinya itu. Semakin Rania bergerak, semakin erat pula tangan Alvaro melilit pinggang Rania. "Apa kamu menggodaku?"
Apa maksud paman ini? Menggoda? Aku hanya memakai pakaian malam! Lalu kenapa tangannya semakin erat memelukku. Aku harus apa?~ batin Rania memutar bola matanya.
Cup..
Tidak ada perlawanan, membuat Alvaro semakin memperdalam kecupan pertamanya. Seperti anak penurut saja, Rania hanya mengikuti gerakan sesapan dari Alvaro. Semakin lama, keduanya tenggelam dalam permainan hasrat.
"Apa kamu siap?" tanya Alvaro dengan suara serak, menahan sesuatu yang mulai menguasai insting memangsa didalam jiwa lelakinya.
__ADS_1