
"Ada apa? Latihan darurat emergency sudah selesai. Kembali ke tempat!" serunya membubarkan para preman lainnya.
"Hey! Apa kalian ini tuli? Kenapa tidak paham penjelasan ku." seru Justin.
Seruan Justin menarik perhatian preman yang baru saja memberikan perintah pada seluruh anak buahnya. Pria itu berjalan menghampiri empat penjaga gerbang.
"Minggir!" titahnya. "Siapa dia?"
"Agen J." jawab Justin tegas.
Tanpa menunggu lama, preman itu maju. Kemudian memasukkan password gerbang. "Masuk!"
Mendengar ucapan Clovis, ke empat penjaga menunduk. Ternyata menahan pria di luar gerbang itu, bisa menjadi masalah sekarang. Agen J masuk membawa tahanannya. Clovis kembali menutup pintu gerbang setelah mata-mata sang bos berdiri di depannya.
Benar saja. Tatapan Clovis langsung berubah bengis menatap ke empat penjaga gerbang. "Apa kalian sudah bosan hidup? Jaga gerbang dengan benar!"
"Kamu, ikuti aku!" sambung Clovis seraya melambaikan tangannya.
Keempat penjaga gerbang memberikan jalan dengan wajah menunduk membiarkan pemimpin Clovis membawa Agen J beserta sang tahanan. Ketiganya berjalan beriringan menuju pintu besi yang berjarak lima belas meter tanpa ada percakapan apapun.
Sementara Asfa yang stay di atas pohon masih sibuk mengawasi serta mencari titik yang tepat untuk menyusup. Bahkan para penjaga tidak ada yang sadar. Ketika penjaga menara sudah tumbang di atas sana.
Jika aku melompat dari pohon terdekat, penghalang ku adalah listrik yang siap membuat ku pingsan dan sadar keesokan harinya. Jalan teraman adalah lewat pintu gerbang utama, tapi harus melawan empat penjaga. Itu artinya penjaga lain akan datang seperti lebah berdengung.~batin Asfa memperhitungkan langkah untuk masuk ke markas Dark Cobra.
__ADS_1
Tidak ingin membuang waktu lebih lama, akhirnya Asfa melompat dari atas pohon dengan pendaratan sempurna. Kegelapan di sekitarnya seperti sebuah keberuntungan, membuat wanita itu berlari secepat mungkin hingga bersembunyi di sisi kiri gerbang. Dimana tembok setinggi tiga meter menjadi penghalang tubuhnya.
Keempat penjaga yang masih saja berdiam diri di tempat sebelumnya tengah bergosip. Bukan masalah apa yang di gosip kan, tapi hal itu dimanfaatkan Asfa dengan mengambil beberapa batu kerikil lalu satu bidikan tepat mengenai salah satu penjaga gerbang.
"Auw....,"
"Kenapa loe?"
"Ada yang nimpuk."
"Ngarang, nih. Mana ada....,"
Asfa sekali lagi melemparkan kerikil ke arah penjaga lain.
"Kalian ini, jangan ngada-ngada ya! Ayo periksa sekitar, dan juga periksa luar gerbang!" ajak penjaga gerbang yang tidak mempercayai tahayul.
"Cuus lah, aku periksa luar, kalian periksa kesana dan kesana!"
Keempat penjaga gerbang berpisah memeriksa sisi kanan, sisi kiri bagian dalam markas, sedangkan dua penjaga lagi membuka gerbang dan memeriksa bagian luar. Kesempatan itu digunakan Asfa untuk masuk ke dalam markas dengan cepat tanpa ketahuan. Kegelapan sangatlah menguntungkan.
Perlahan tapi pasti. Langkahnya menyusuri dalam markas dengan mengendap-endap seraya menghindari para penjaga yang terkadang lewat. Dari semua area, tujuannya adalah mobil truk yang terparkir. Setelah berusaha tak terlihat. Asfa berhasil mencapai titik terdekat dari truk itu seraya bersembunyi di balik sebuah drum minyak tanah.
Ruangan eksekusi. ~batin Asfa, lalu mengambil kacamatanya untuk dikenakan.
__ADS_1
Kacamata khusus yang tembus pandang dengan media apapun selama sesuai dengan diameter ketebalan. Kacamata itu sangat berguna di saat menjalankan misi. Berkat itu, kini Asfa melihat seorang pria tengah berjuang mempertahankan hidup di tengah perangkap kematian.
Dasar ceroboh! Sepertinya, aku harus kirim Justin menjadi anggota polisi. Lumayan bisa mengajari para abdi negara yang suka main petak umpet. ~batin Asfa seraya mengedarkan pandangan ke seluruh tempat dari posisinya.
Seketika ide cemerlang mengetuk tanpa permisi untuk dijalankan. "Duke, listen me! Aku akan menyelamatkan rekan Wina, urus di dalam markas, dan pastikan dia jadi milikku. Begitu alarm berbunyi, lakukan tugasmu!"
Setelah memberikan perintah. Asfa mengeluarkan pistolnya, lalu membidik sebuah tabung yang berisi ntah cairan apa di atas markas. Tak ada suara tembakan karena pistol sudah diberikan peredam. Akan tetapi, akibat dari kebocoran tabung itu, membuat beberapa penjaga yang berdiri di bawahnya berteriak kesakitan.
Benar saja teriakan beberapa penjaga sekaligus mengaktifkan alarm peringatan penyusup, dan itu membuat para penjaga lain berlarian menolong rekan mereka.
"Damn it! Cairan kimia." Asfa kembali meninggalkan tempat persembunyiannya, dan bergegas menghampiri tuas yang digunakan untuk membuka gerbang ruangan eksekusi.
Sementara di dalam markas. Ketegangan terasa menekan udara hingga menipis. Clovis baru selesai menjelaskan tentang apa yang terjadi di luar, dan memperkenalkan Agen J sebagai mata-mata bayangan.
Tuan Mahendra mengangguk paham seraya menikmati pijatan tangan Kanza di pundaknya. "Wah sepertinya mantan menantuku semakin lemah. Hay, Asfa. Apa kabarmu?"
Pertanyaan itu, membuat Wina mengerutkan alisnya di balik topeng. Apa maksud pria tua di depannya? Mantan menantu? Apakah yang dimaksud pria itu adalah istri dari putra tunggal keluarga Bagaskara? Jika iya, kenapa seorang mantan menantu ingin menyerang markas mertuanya?
Begitu banyak pertanyaan di dalam benak Wina. Sementara reaksi diam wanita bertopeng itu, membuat papa Mahendra menepis tangan Kanza dengan kasar. Pria tua itu bangun dari tempatnya, lalu berjalan menghampiri Wina.
Tanpa perasaan Papa Mahendra merampas topeng hitam yang menutupi wajah Wina. Selama beberapa saat wanita bertopeng itu dianggap Asfa. Bukan hanya terkejut, tapi pria itu melongo melihat wajah asing.
"Siapa kamu?!"
__ADS_1