
"Iya, Pak. Ada apa?" tanya Sang sopir menundukkan kepalanya.
Seorang penjaga dengan rambut sebahu menarik kerah kaos Sang sopir seraya mengacungkan jarinya ke wajah sopir itu. "Apa kamu BUTA? HAH! Tulisan segede papan tulis pun tidak berguna. LIHAT!"
Sang sopir mengikuti arah jari pria di depannya yang menunjuk ke arah tumpukan ban. Sesaat dirinya tak memahami hingga tulisan yang memudar mulai dirangkai dari dalam hati.
Ruang eksekusi. ~ batin Sang sopir.
"Maaf, Pak. Saya akan pindahkan truk ditempat lain....,"
Duug!
Satu tendangan mendarat sempurna di perut sang sopir. Tangannya mengepal menahan emosi seraya menghitung dari satu hingga sepuluh di dalam hatinya. Hanya tatapan mata perlawanan dengan bibir terkunci rapat, membuat preman di depannya berdecak kesal.
"Apa, lihat-lihat gue? Mau ku colok hah!" bentak preman itu ngegas, tapi tiba-tiba saja suara sirine alarm peringatan menyala.
Toot!
Toot!
Toot!
Langkah kaki terdengar berlarian menuju pintu gerbang dengan suara senjata siaga.
Door!
Door!
Door!
__ADS_1
Door!
Empat suara tembakan mengubah suasana menjadi tegang. Namun, wajah preman penjaga di depan sang sopir masih kesal dan enggan kembali ke tempat pos penjagaan nya sendiri.
"Pak, semuanya bersiaga. Lalu, kenapa bapak masih menatapku seperti ayam kelaparan?" tanya sang sopir dengan muka polos.
Niat hati ingin membalas ejekan sang sopir, tapi suara sirine alarm masih berbunyi.
"B52! Ayo!" seru rekan preman penjaga dengan melambaikan tangannya.
Sang sopir mengulurkan tangannya mempersilahkan pria di depannya untuk pergi. Hal itu, membuat B52 menghentakkan kaki lalu berjalan menjauh dari area terlarang.
"Posisi SIAGA!" lapor sang sopir melipir dengan waspada menuju ruangan eksekusi.
Mungkin keberuntungan ada di pihaknya. Sebenarnya bukan seperti itu, karena semua sudah terencana, dan dalang dari operasi kali ini adalah pimpinan terbaik di kantor polisi pusat.
Pintu besi berkarat di beberapa titik, membuat sang sopir mengamati seluruh sisi dengan teliti. Hingga tatapan matanya menemukan tuas di belakang tumpukan ban bekas. Tanpa ragu pria itu bergegas mendekati sisi kirinya.
Sekali. Dua kali. Hingga tiga kali percobaan, barulah tangan sang sopir berhasil menarik tuas ke bawah. Tanpa dirinya sadari. Jika menarik tuas, bukan hanya membuka pintu ruangan eksekusi. Namun juga mengaktifkan semua sistem hukum otomatis yang tersambung di seluruh markas.
Kleeek!
Kleeek!
Kleeek!
Pintu besi ruangan eksekusi yang berbentuk seperti pintu garasi mobil itu perlahan naik ke atas. Hembusan angin mulai menyusup ke dalam, lalu berputar arah kembali keluar membawa aroma busuk yang menyengat. Sang sopir mengibaskan tangannya di depan hidung.
"Baunya busuk sekali." Sang sopir membuka dua kancing kaosnya, lalu mengambil sebuah pulpen yang terjepit di manset.
__ADS_1
Ctit!
Pulpen dengan tombol atas ditekan satu kali. Lalu dijepit kan ke kerah bajunya seraya melangkahkan kaki memasuki ruangan eksekusi. Bukan hanya bau busuk yang menyengat saja, tapi aroma anyir darah juga ikut mengkontaminasi udara disekitarnya.
"Roger satu! Apa semua terlihat jelas? Mulailah merekam!" Sang sopir menyibak selembar plastik buram yang menggantung di depannya.
[Dirga! Keluar!]~ titah dari seberang, dimana seorang wanita mulai panik ketika melihat dari dalam laptop di atas pangkuannya.
Dari posisi seorang penonton. Wanita itu melihat apa yang tidak diperhatikan oleh rekan kerjanya. Sinar laser yang siap membidik. Serta beberapa alat pemotongan yang terselip di antara dinding.
"Wina, tenanglah! Ini hanya ruangan eksekusi off. Jadi jangan panik! Semua akan baik....,"
Sliiing!
Hap!
Wuush!
Sebuah pisau tajam mengkilap terbang dari sisi kanan menuju Dirga. Beruntung pria itu siaga dan langsung salto ke belakang.
"Hampir saja." Dirga mengusap dadanya dengan rasa syukur, tapi dari arah lain. Satu pisau lain terbang menyusul.
Sreet!
"Aww. S!al!" umpat Dirga memegang lengan kirinya yang tergores dan mengeluarkan cairan merah.
Melihat situasi Dirga sudah terluka. Wina memilih menutup laptopnya, lalu mengambil senjata miliknya, dan turun dari mobil dengan wajah kecemasan.
Dirga bertahanlah? Aku akan datang membantumu.~batin Wina mulai mengendap-endap berjalan jongkok di antara pepohonan yang tidak begitu rindang, tapi cukup untuk menjadi penyamarannya saat ini.
__ADS_1
"Itu....,"
Satu jari terangkat, dan langsung membungkam bayangan itu. "Periksa mobil itu!"