
"Itu bukan hak ku. Apa kamu berpikir, seorang queen tidak tahu apapun? Dia bisa pergi jauh dari kita, tapi tidak dengan pengawasannya." Justin menggeser posisinya, dan berhadapan dengan seorang wanita, "Queen is queen. No one can change it."
(Ratu adalah ratu. Tidak ada yang bisa mengubahnya.)
"Kamu benar, tapi tuan besar akan lebih baik jika mendapatkan support putrinya. Aku tidak tega dengan kesedihan yang melanda tuan besar." Jelas Bunda Anya, lalu berlalu pergi meninggalkan Justin tanpa menunggu jawaban.
Kepergian Bunda Anya, membuat Justin menarik nafas panjang. Ia tahu bagaimana rasanya kehilangan orang terkasih. Sangat menyesakkan. Meskipun berteriak sekencang mungkin. Tetap saja luka di hati masih menganga. Hanya dalam hitungan bulan. Semua hal berubah drastis dari bisnis maupun hubungan setiap orang di dalam lingkup kehidupannya.
"Sebaiknya aku coba bicara malam ini, tapi sebelum itu. Aku siapkan makan malam terlebih dulu." Ucap Justin.
Langkah kaki pria itu bergegas menuju kamar pribadinya. Tentu saja untuk membersihkan diri setelah diguyur hujan di tengah cuaca yang dingin. Sementara di lantai atas. Asfa baru saja keluar dari kamar mandi dengan penampilan segar dan santai.
"Aku akan memeriksa pekerjaan terlebih dahulu," Asfa menarik kursi kerjanya, lalu duduk dan mulai berselancar bermain papan ketik di atas meja.
__ADS_1
Komputer yang sudah lama tak tersentuh dirinya masih menyala. Tentu saja dengan pengoperasian jarak jauh. Semua selalu dalam pengawasan. Meskipun untuk melakukan pekerjaan secara diam-diam. Setelah beberapa saat akhirnya deretan e-mail dan file nampak memenuhi layar virtual. Bukan hanya itu saja karena Asfa juga tengah memantau CCTV di waktu yang sama.
"Rumahku seperti kuburan. Kenapa wajah-wajah muram berkeliaran? Aku harus lakukan sesuatu," gumam Asfa dengan senyuman tipisnya.
Lima belas menit kemudian.
Suara heli dari luar mengalihkan perhatian para bodyguard penjaga utama. Heli yang berputar-putar di atas gerbang tak diketahui siapa identitasnya, bahkan Justin yang baru saja masuk ke dapur bergegas lari keluar mansion. Tentu saja setelah menerima laporan yang mencurigakan.
"Hey, kalian arahkan heli untuk pendaratan di luar!" teriak Justin, membuat beberapa bodyguard berlarian menuju gerbang diiringi pintu gerbang yang terbuka otomatis.
"Malam, Bunda. Ayo kita keluar bersama!" ajak Asfa melambaikan tangan
Jarak keduanya tidak begitu jauh. Sehingga di saat bersamaan bisa berjalan berdampingan. Bunda Anya ikut tersenyum karena nona mudanya terlihat bahagia.
__ADS_1
"Bunda kenapa diem?" tanya Asfa dengan logat seperti ajak kecil.
"Aku senang sekali bisa melihat senyuman nona Angel, lagi. Rasanya sudah cukup lama....,"
"Bunda, Aku bahagia dan tidak ingin bersedih untuk perubahan yang sudah terjadi dalam hidupku. Bukankah kita hidup untuk merajut masa depan. Bukan menggenggam masa lalu. Percayalah Allah selalu tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya." sela Asfa.
Bunda Anya mengangguk pelan, "Apa kehebohan di luar rencana nona muda?"
"Maybe, sebaiknya kita pastikan dulu." jawab Asfa ambigu.
Tidak ada lagi pembahasan karena pintu mansion sudah di depan mata. Bunda Anya membukakan pintu untuk nona mudanya. Seketika tatapan matanya tak teralihkan dengan apa yang ia lihat. Tidak ada kata lagi, selain shock atas pemandangan di depan sana. Hitungan menit saja depan mansion sudah berubah menjadi cafe dadakan.
"Non, itu semua....,"
__ADS_1
Asfa terkekeh pelan melihat reaksi pusing para bodyguard yang harus ikut membantu persiapan makan malam bersama. Sementara Justin memilih diam dengan tangan memijat pangkal hidung, dan Bunda Anya yang melongo dengan mata membulat sempurna.
"Hidup terlalu singkat, Bunda. Bolehlah kita bersantai sejenak, dan berbincang bersama. Ayo!" ajak Asfa tanpa permisi menggandeng tangan Bunda Anya.