
Ternyata mudah sekali membuat jalan kehancuran kalian. Sekarang waktunya beraksi.~ batin orang itu dan melipat koran, membenarkan penampilan dan bersiap menghampiri client Asfa.
Tapi langkah kakinya, kalah cepat dengan langkah seorang pria dewasa yang sudah berdiri di hadapan para client Asfa. "Selamat pagi menjelang siang. Maaf atas keterlambatan saya, queen mengalami drop sehingga berhalangan hadir. Sekiranya, izinkan saya untuk mewakili Queen dalam rapat kali ini."
"Mari silahkan duke. Kami harap Queen segera sembuh." jawab seorang client mempersilahkan Justin duduk di kursi yang tersisa.
Justin memulai rapat yang tertunda dengan tenang dan serius. Bagaimana dirinya bisa sampai ditempat queennya berada? Seseorang mengirimkan pesan tentang kejadian yang menimpa queen, membuat Justin meninggalkan seluruh pekerjaan di perusahaan RA company dan meluncur ke hotel bintang 3 tempat Asma berada.
Rapat yang berjalan lancar, membuat tangan seorang pria paruh baya mengepal hingga kuku memutih. Wajahnya merah memendam amarah, pria itu pergi meninggalkan cafe hotel dengan muka tak sedap dipandang.
Rapat berakhir setelah satu jam berdiskusi dan menemukan titik akhir. Justin menutup map terakhir, dan menautkan kedua tangannya di atas map. "Terimakasih atas waktu kalian. Semua sudah saya catat dan keputusan terakhir akan saya kabarkan, setelah mendapatkan keputusan Queen. Sebagai permintaan maaf atas keterlambatan saya, maka makan siang kali ini saya yang traktir."
"Tidak perlu repot duke. Kami selalu senang bekerjasama dengan queen, terlebih beliau selalu bersikap adil." ucap seorang client yang mempersilahkan Justin bergabung dalam rapat.
Justin hanya mengangguk, sembari memanggil pelayan dengan lambaian tangan. Seorang pelayan wanita dengan pakaian seragam menghampiri meja rapat Justin. "Tulis semua pesanan client saya dan bayar dengan kartu ini."
"Baik tuan." Pelayan itu menerima kartu kredit milik Justin dan mulai mencatat pesanan sesuai permintaan setiap orang di meja tempat Justin berada.
Sembari menunggu makanan datang, perbincangan santai mulai terjadi.
"Duke, kapan queen akan mengumumkan tender terbaru? Bukankah setiap lima bulan sekali ada perebutan tender dengan keuntungan fantastis." cetus seorang client yang lebih banyak diam saat rapat.
Justin hanya tersenyum tipis, sembari mengecek pekerjaan melalui ponselnya.
"Benar, tapi sepertinya tidak ada bisikan kabar terbaru dari RA Company. Apa semua baik-baik saja duke?" tanya client lain dengan wajah penasaran.
Justin berhenti mengutak-atik ponselnya. "All fine. Queen just have more busy life."("Semua baik. Queen hanya memiliki kehidupan yang lebih sibuk")
__ADS_1
Jawaban Justin membuat reaksi anggukan kepala dari para client, tak berselang pesanan datang. Membuat semua sibuk menikmati hidangan makan siang, peraturan yang selalu membuat para client damai. Menikmati makanan tanpa perlu perdebatan, terlebih jika ada Queen. Sudah pasti hanya kaku dan canggung.
Lima belas kemudian, Justin meminum jus dan mengelap bibirnya. "Silahkan lanjut. Maaf saya masih memiliki pekerjaan lain. Selamat siang."
"Siang juga duke. Terimakasih atas kepercayaan queen kepada kami."
Justin mengangguk dan meninggalkan meja makan, kini langkah Justin berjalan menuju lorong dimana sang nona muda berada. Setelah menemukan pintu kamar Asma, Justin melihat keadaan sekitarnya. Sepertinya Asfa kurang refresing, buat apa menyewa dikamar tanpa keamanan sama sekali.
Tanpa memerlukan kunci duplikat, Justin mengambil pistol di balik jas. Tanpa menunggu lama, Justin membidik kan pistol miliknya ke lubang kunci. Dengan sekali bidik, kunci terbuka. Untung saja pistol itu sudah memiliki peredam, jika tidak banyak penghuni kamar hotel terkejut.
Ceklek…..
Pintu terbuka, mata Justin langsung menemukan sosok gadis dengan tingkah laku sesuka hati diatas ranjang dengan tubuh yang meringkuk. Wajah Justin cemas melihat posisi Asfa yang memberikan kesan tengah merasakan sakit. Bergegas Justin mendekati Asfa dan memeriksa kening serta leher Asfa.
Panas. Mungkinkah demam? Sebaiknya, aku bawa ke rumah sakit utama. Bertahanlah queen.~ batin Justin menggendong Asfa ala bride style setelah memastikan semua barang bawaan Asfa masuk ke saku celananya.
Justin melajukan mobil menuju rumah sakit utama. Tanpa disadari Justin, jika setiap pergerakannya diawasi. Satu pengawas dari balik jendela hotel dan satu pengawas lain dari dalam sebuah mobil. Pria yang mengawasi dari balik jendela, tengah melakukan panggilan dengan wajah serius. Meskipun tak mengikuti kemana Asfa dibawa, tapi mata dan telinganya pasti akan memberikan laporan 2 kali 24 jam.
Maaf, aku tidak bisa bersamamu. Aku tidak ingin melewati batasan, kamu selalu menjadi alasanku hidup. Sampai kapanpun.~ batin sang pengawas dengan menarik tirai jendela kamar tempatnya menginap.
Berbeda tempat, maka berbeda lagi suasana. Didalam Villa Aranda, kini dua menantu akan menjadi samsak untuk beberapa pria terlatih sekaligus. Hari ini adalah ujian fisik, Abhi yang memakai pakaian olahraga dan Rania yang memilih pakaian santai dengan gaya remaja kekinian. Tampak Alvaro hanya mengigit bibir melihat penampilan Rania, sedangkan Rhey tengah mengarahkan beberapa latihan yang akan dilakukan pada lima pria kekar di sudut ruangan.
"Doc. Kapan Asfa kembali?" tanya Abhi dengan lemas.
Alvaro melirik Abhi sekilas, bahu Alvaro terangkat. Rania yang melihat ketidaktahuan sang suami mengerutkan dahi. Bukankah malam pernikahan Asfa dan Abhi, kedua kakak adik itu membicarakan tentang beberapa pekerjaan. Lalu kenapa Alvaro seakan tak tahu apapun. "Mas, bukankah Queen melakukan pekerjaan ma…"
Alvaro langsung membekap bibir Rania dengan satu telapak tangan kanannya. Tatapan mata Alvaro tajam menusuk, membuat nyali Rania menciut. "Kamu tunggu paman Rhey saja. Aku mau ajari istriku sendiri."
__ADS_1
"Hey! Apa yang kalian sembunyikan." Abhi berteriak tanpa melihat tempat.
Fiiuuuh…..
Puuk…..
Rhey spontan melemparkan satu bola plastik kearah Abhi dan tepat mengenai kepala Abhi yang meringis, tapi tetap diam. Tatapan Rhey sudah cukup menyadarkan Abhi, tindakannya tidak di tempat dan waktu yang tepat.
Rhey melambaikan tangan, membuat kelima pria kekar di depannya menunduk dan mengambil posisi masing-masing. Rhey berjalan menghampiri Abhi yang tengah duduk di atas ring arena pertarungan. "Pernah melakukan pertarungan bebas?"
Abhi menaikkan satu alisnya. "Pertarungan bebas seperti dijalanan?"
"Artinya kamu benar-benar kacang mentah! Biarkan dua orang itu memberikan contoh, setelah itu kita ronde kedua. Kalian, cepatlah!" tukas Rhey dan membuat dua pria berlari menaiki arena pertarungan.
Tubuh keduanya sungguh seperti kutub utara dan selatan. Satu berbadan kekar dan tinggi besar, tapi lawannya berbadan pendek meskipun tetap otot-otot terlihat menonjol. Pastinya, kedua pria itu selalu memiliki latihan rutin. Tanpa ada pakaian pelindung ataupun peraturan, kedua pria memasang kuda-kuda.
"Three… Two… One… Let's Go!" Rhey memberikan aba-aba dan kedua pria di arena pertarungan langsung saling menyerang.
Mata Abhi masih mengamati bagaimana cara menyerang dan bertahan kedua petarung itu seimbang. Setiap pukulan pasti bisa ditepis, dan jika menyentuh kulit maka lawan pasti membalas tanpa ampunan. Pertarungan bebas, darah dan lebam pun sama nyatanya. Pertarungan selama sepuluh menit itu, mengajari Abhi arti pertarungan bebas.
Sejenak fikiran Abhi terbang, jika orang-orang disekeliling Asfa sangatlah liar. Bagaimana dengan sang istri? Apakah tangan lembut Asfa sanggup memukul pipi seseorang? Atau orang-orang di circle kehidupan sang istri, dilatih demi keselamatan Asfa. Lamunan Abhi, membuat Rhey geram.
Buug…..
"Kenapa memukulku?" tukas Abhi memegang perutnya.
Rhey mendelik sebal, sudah kesekian kalinya pria menantu keluarga Aranda sibuk melamun. Maka tanpa ba bi bu, Rhey memukul perut Abhi dengan satu pukulan. "Jangan bermimpi menjadi pasangan Queen. Jika kamu tidak tahu cara bertahan hidup!"
__ADS_1