My Secret Life

My Secret Life
Bab 143: Pasien kamar 6A


__ADS_3

Asfa meninggalkan kopinya dan beralih berdiri dibelakang sang papa. Kedua tangannya mulai memijat pelan kepala tuan Luxifer. Sejenak membiarkan ketenangan dirasakan oleh papanya. "Pa, kami percaya padamu. Jika papa tidak mencintai mama Naura. Pasti saat ini ada wanita lain yang menyandang status ibu tiri. Bahkan jika papa ingin menikah lagi. Aku tidak keberatan. Karena papa juga membutuhkan sosok pendamping."


Pijatan lembut itu terasa lebih menekan, karena ucapan Asfa seakan menjebaknya. Ada sesuatu yang masih dirinya sembunyikan. Tapi tidak ada waktu yang tepat untuk mengatakan hal tersembunyi miliknya. Asfa tahu arah pembicaraannya tepat mengenai sasaran, senyuman tipis dari bibir Asfa terbit meskipun hanya sesaat.


"Seberapa jauh kamu menyelidiki papa?" tanya tuan Luxifer meraih tangan Asfa dan mengalungkan ke lehernya.


Asfa terdiam, pertanyaan sang papa bukan jawaban yang dirinya inginkan. Ntah sudah berapa kali tuan Luxifer menghela nafas hari ini, sepertinya ini hari terburuk untuknya. "Kemarilah nak." Tangan tuan Luxifer mengarahkan Asfa agar duduk di pangkuan sang papa.


Tatapan mata Asfa jelas menunjukkan penuntutan, tapi mata tuan Luxifer seperti masih enggan berkata jujur. Diam membisu membuat Asfa berniat bangun dari pangkuan sang papa, tapi pergerakannya di tahan. "Maafkan papa nak. Tapi sungguh papa tidak siap sekarang, berikan papa waktu."


"Papa adalah pemimpin. Kami selalu belajar dari papa, dan papa lah dasar hidup kami. Papa mengajari kami arti kejujuran sebagai keluarga. Apakah jalan papa berubah? Jika papa ingin kami seperti anak lain. Pasti tidak bisa, papa membentuk kami seperti apa yang papa harapkan. Kami adalah cerminan seorang Tuan besar Luxifer." Asfa berucap lembut dengan mengusap pipi sang papa, ada yang mengganjal hatinya tapi tak sanggup bertanya secara langsung.


Dengan perasaan bergemuruh, tuan Luxifer menerima pernyataan putrinya. Terkadang dirinya lupa, jika putra dan putrinya bukan anak biasa. Kekuasaan kedua anaknya hampir seimbang dengan dirinya, bahkan semua fasilitas dan juga orang-orang di bawah naungan Phoenix tidak dibatasi hanya menerima perintahnya. Terlebih Asfa justru menjadi queen yang membuat banyak persatuan dari berbagai wilayah, kurang apalagi dirinya? Meskipun dirinya lengser pun, Asfa dan Varo sudah bisa menangani semua masalah tanpa dirinya.


"Ayo kita temui dia malam ini." ajak tuan Luxifer setelah merenung.


Senyuman terbit dari bibir mungil Asfa. Senyuman puas dan kemenangan, sedangkan tuan Luxifer hanya menggelengkan kepala. "Papa pergilah dulu. Jam 7 malam aku akan sampai."


"Whats? Kamu tahu dimana dia tinggal?" tanya tuan Luxifer shock.


Tidak ada jawaban selain kedipan mata sang putri, ini seperti rahasia dalam dinding kaca tembus pandang. Untuk apa memiliki kekuasaan jika berujung semua terbongkar. Asfa memilih meninggalkan ruangan tanpa pamit, kini tugasnya baru dimulai. Langkah kakinya terdengar tegas menyusuri setiap lorong lantai khusus. Hingga tangannya memutar knop pintu satu ruangan rawat dengan pelan. Para dokter menengok dan membungkukkan setengah badan tanpa kata.


"Queen, biarkan aku berdua denganmu!" pinta pasien dengan memohon.


"Pergilah!" Asfa melambaikan tangan dan semua dokter satu persatu meninggalkan ruangan rawat.


Kini hanya ada Asfa dan sang pasien. Asfa memilih duduk disisi kiri brangkar sembari menatap sang pasien. Wajah yang pucat dengan mata sayu, benar-benar terlihat jelas pasien didepan Asfa tengah kritis. "Queen, kuharap dia masih…"

__ADS_1


"Tenanglah, aku sudah berjanji. Bagaimana kabarmu? Apa pengobatan berjalan baik?" sela Asfa tak ingin membuat pasien semakin tertekan.


Senyuman tanpa sari dari bibir memucat, sungguh itu bukan hal yang bisa dikatakan baik. Asfa hanya bisa mengusap tangan pasien dengan kasih sayang. Hanya itu yang bisa dilakukan saat ini, selama sang pasien masih meminta janjinya. "Aku tunggu kamu menarik janjiku. Aku tidak ingin melukaimu atau dia."


"Bagaimana kabarnya? Sudah sebulan kami tidak bertemu, aku merindukannya." tutur pasien dengan helaan nafas berat.


Asfa tersenyum penuh arti dan hanya membiarkan pertanyaan pasien tergantung tanpa jawaban. "Tunggu disini. Aku akan bicara dengan dokter. Istirahat lah."


"Kapan kamu datang lagi?" tanya pasien dengan mata harapan.


"Cukup tidur. Saat bangun, aku akan ada disampingmu." balas Asfa dan turun dari brangkar meninggalkan ruangan rawat.


Kepergian Asfa membuat sang pasien memejamkan mata, dan Asfa pergi ke ruangan konferensi rumah sakit utama. Langkah Asfa terkesan berat namun ada hal yang harus segera berakhir, semua rencana jadi buyar karena masalah datang tanpa pemberitahuan. Seorang pria dengan pakaian rapi sudah berdiri didepan ruangan. "Siang Queen. Milik anda."


Asfa menerima topeng hitamnya dan segera menutup wajah sebelum memasuki ruangan konferensi. Tentu saja ada satu duke yang akan selalu menemani Asfa, meskipun pekerjaan hanya akan dilakukan oleh dirinya sendiri.


"Selamat siang Queen." sambut para dokter serempak.


Asfa mengangguk dan memberikan isyarat tangan, agar para dokter kembali duduk. Kursi utama presdir rumah sakit menjadi tempat duduknya. Satu isyarat tangan Asfa membuat para dokter memulai presentasi.


"Seperti hasil pemeriksaan terakhir dan terbaru. Kondisi pasien mengalami penurunan drastis, kami sudah melakukan semua pengobatan yang terbaik. Bahkan melakukan banyak kerjasama dengan dokter rumah sakit luar negeri tapi semua tidak ada hasilnya. Sepertinya pasien menolak sembuh." lapor pemimpin team dokter dengan nama Ashraf.


"Apa solusi dari anda?" tanya Asfa dengan menopang dagunya.


Dokter Ashraf mengambil satu kertas dengan warna berbeda dari kertas putih lainnya. Dengan tenang, dokter Ashraf memberikan itu pada queen. "Ini hasil penelitian kami selama setahun terakhir. Keputusan ada pada anda, kami akan setuju apapun keputusan Queen."


Asfa membaca hasil penelitian dengan cermat dan waspada. Bahan-bahan hingga cara pengolahan dan juga hasilnya. Semua sesuai dengan metode standar internasional tapi hasil penelitian masih terlalu bau kencur, belum ada uji coba. Ini akan menjadi resiko yang besar. "Duke, bawa sample penelitian ke mansion! Dan untuk sementara kalian lanjutkan penelitian, tapi ingat! Jangan bermain denganku. Dan satu lagi, pasien akan pergi bersamaku."

__ADS_1


"Tapi Queen…" sela dokter Ashraf.


Dominic langsung mengangkat jarinya ke bibir, agar dokter Ashraf diam. Dokter Ashraf pasrah, karena melawan pun tak akan ada gunanya. Asfa masih terdiam mencoba mencari jalan keluar dari masalahnya. "Kalian pergilah! Duke siapkan pasien kamar 6A. Minta dokter wanita menemanimu. Jangan sentuh dia dengan tanganmu!"


"Siap Queen." jawab Dominic dan ikut pergi meninggalkan ruangan konferensi setelah semua dokter menghilang di balik pintu kaca.


Tanpa membuka topeng, Asfa memainkan ponsel pintarnya. Mendial satu nomer yang pasti akan membantunya. Satu dering nada panggilan masuk langsung berganti suara si pemilik nomer. "Dimana kamu?"


"....."


"Seseorang akan menjemputmu, aku tunggu sore ini." ucap Asfa sebelum mengakhiri percakapan singkat.


Beberapa nomer menjadi tujuannya, kini urusannya dengan beberapa orang sudah selesai. Tapi mata Asfa terpaku dengan satu pesan terbanyak, pesan yang membuat dirinya geleng-geleng kepala. Tapi jika tidak dibalas pasti menjadi gunung meletus. "Sepertinya aku terlalu cepat."


[I'AM busy all day. Focus on your training.]- [Aku sibuk sepanjang hari. Fokuslah dengan pelatihan mu.] ~ balas Asfa dan kembali memasukkan ponsel ke saku jacketnya.


Kepergian Asfa dari Villa membuat Abhi terpenjara. Kini Abhi masih bergelut dengan perasaan dan adrenalin, tugasnya sungguh tidak tanggung-tanggung. Abhi harus mengurus satu hewan buas yang menjadi hewan kesayangan nenek Ara. Terlihat hewan itu menatap Abhi dengan permusuhan, beruntung Rhey masih di tempat yang sama. Jika tidak bisa dipastikan akan ada makanan segar untuk si hewan.


"Boy, caramu bisa membuat Ceta memakanmu! Hewan itu perasa, relax. Coba dekati dengan perasaan bukan fikiran!" Rhey menasehati Abhi dengan tegas.


"Kenapa kalian memelihara seekor singa? Tidak bisakah memelihara kucing Anggora saja?" cetus Abhi seenaknya.


Rhey tersedak mendengar ucapan Abhi yang sesuka hati. Dengan kerasnya, tangan Rhey menjitak kepala Abhi. "Jangan bicara ngawur! Apa kamu belum bertemu peliharaan nona muda?"


"Memang apa yang Asfa pelihara? Pasti bukan singa." Abhi mengusap kepalanya sembari meneruskan memotong daging untuk Ceta.


"Ouh. Pantas kamu seperti kelinci. Bagaimana kamu terjebak didunia ini? Sudahlah. Jangan sampai ceta kelaparan." tukas Rhey memilih tak membahas masalah hewan peliharaan lagi.

__ADS_1


Abhi mengernyit dengan ucapan Rhey yang ambigu. Berawal dari Ceta, peliharaan milik Asfa dan berakhir ke dirinya yang dianggap kelinci. Memang dari sisi mana seorang Abhi menjadi kelinci? Telinga masih normal, tubuh kekar dan menjadi seorang presdir. Makanan dan minumannya pun masih sama seperti manusia lainnya. Tanpa Abhi sadari jika setiap pergerakan diawasi oleh pemilik Villa.


__ADS_2