
Greeeb....
Tarikan tangan reflek Abhi membuat tubuh Asfa terhuyung dan masuk ke dalam pelukannya, membuat irama detakan jantungnya meningkat. Berbeda dengan Asfa dimana dirinya lebih memilih segera melepaskan pelukan di tubuhnya dan bergegas keluar dari mobil sebelum tubuhnya kembali mendapatkan harum parfum favourite Alvaro.
"Pastikan sampai dengan selamat! Pergilah." perintah Asfa pada Zain yang langsung membungkukkan badan seperti seorang pangeran di hadapan tuan putrinya.
"Asfa mau kemana kamu?" tanya Abhi dengan menaikkan satu alisnya menatap tubuh Asfa yang sudah berada di luar mobil.
Braak.... klik....
Bukannya jawaban yang di dapat Abhi tapi justru Zain dengan gerak cepat masuk ke dalam mobil dan mengunci mobil agar Abhi tidak melarikan diri, mobil kembali di nyalakan dan mulai melaju dengan perlahan.
"Bagaimana bisa kamu meninggalkan istri ku sendirian di tengah jalan! Ini daerah rawan, ayo putar balik." cecar Abhi dengan wajah tegang dan khawatir.
"Fikirkan saja dirimu sendiri." balas Zain dengan wajah dinginnya.
"Kau!" seru Abhi dengan mengepalkan tangannya namun dengan memejamkan matanya untuk menetralkan amarahnya.
Bagaimana tidak tegang, khawatir dan marah ketika tahu istrinya berhenti di jalan yang memang terkenal rawan kejahatan, daerah yang memang cukup sepi tanpa di ketahui dirinya jika Asfa tidak akan terluka di daerah miliknya sendiri. Bukannya ikut menetralkan suasana justru Zain memilih memutar musik cinta dengan kencangnya untuk menemaninya melewati perjalanan yang teramat membosankan tanpa gadis termanisnya.
Sedangkan Asfa sudah meninggalkan jalan utama dan memutari sebuah pohon besar yang ada di pinggir jalan hingga berhenti di belakang pohon, saking besarnya pohon itu akan menutupi tiga kali ukuran tubuh Asfa. Dengan santai Asfa menarik sebuah cabang terendah dengan daun hijau segar, tidak ada suara selain terbukanya kulit pohon yang ada di depannya.
Tangga yang tersusun rapi menjorok masuk kedalam dengan kegelapan yang pekat ada di depan mata Asfa, dengan bantuan senter di ponselnya Asfa menuruni anak tangga satu persatu. Dan membiarkan pintu pohon rahasia miliknya menutup dengan sendirinya setelah pijakan tangga ke lima yang menjadi titik kunci dari dalam, senter hanya menerangi tangga yang akan di pijak oleh Asfa hingga ruangan di dalam pohon semakin lama semakin lebar dan langkahnya berhenti di dasar ruangan bawah tanah itu.
Kliiiik
Dengan menarik sebuah gantungan tali yang ada di tengah ruangan membuat suasana redup menjadi terang benderang, deretan komputer canggih sudah memenuhi ruangan bawah tanah milik Asfa. Asfa menghampiri komputer utama dengan layar virtual yang akan nampak setelah keyboard ajaibnya mulai menerima perintah darinya dengan beberapa password yang cukup rumit akan membuat komputer lainnya menyala dengan sendirinya, komputer utama yang menjadi pusat peningkatan keamanan di wilayahnya.
Tik..tik..tik..tik..
Suara ketikan yang memenuhi ruangan bawah tanah milik Asfa cukup memberikan rasa nyaman yang membuat kesunyian menghilang bergantikan suara ketikan dengan rumus matematika dan kimia.
__ADS_1
Setelah lima menit berkutat dengan rumus....
*Welcome Queen. Princess Ready.* sambut mesin virtual yang telah aktif setelah Asfa menekan enter satu kali.
"Princess aktifkan semua senjata rahasia dan keamanan seluruh wilayah utara!" perintah Asfa dengan menatap layar virtual di depannya.
*Done Queen.* ucap Princess dengan menyalakan komputer cabang yang ada di bawahnya.
Kini semua komputer di bawah tanah ruangan rahasia Asfa sudah menyala, dengan aktifnya akses keamanan di ruangan bawah tanah membuat pekerjaan Asfa semakin lebih mudah. Komputer utama yang akan tersambung kedalam ponselnya membuat Asfa bisa mengendalikan semua pekerjaannya dengan lebih baik dimanapun dirinya berada.
Terlihat setiap komputer yang berjumlah lima belas menampilkan beberapa tempat dengan sensor yang sensitif dan satu komputer sisi kanan Asfa yang memantau pergerakan ruangan seluruh mansionnya dengan sabotase keamanan CCTV dimana peretasannya tidak terdeteksi. Kecanggihan mesin komputer layar virtual yang di ciptakan Asfa selama lima bulan akhirnya dapat di uji coba, terlihat pengaturan keamanan mansion sudah seperti keinginanya meskipun masih setengah jalan karena terlihat bunda Anya masih melakukan pergantian posisi bodyguard dengan tingkatan yang berbeda-beda.
Sedangkan di dalam ruangan kerjanya ada papanya di kursi kebesarannya bersama Justin yang tengah menerima hukuman dengan menghadap tembok dan di sebuah kamar pribadi yang gelap tanpa cahaya apapun dimana tempat kakaknya tinggal membuat hati Asfa tidak tenang. Bukan maksud hatinya untuk meragukan kakaknya apalagi membuat kakaknya terjebak dengan dalih berbakti pada orang tua tapi setelah melihat emosi yang teramat besar hari ini, sungguh membuat Asfa mencemaskan kakaknya.
"Maaf ka, bertahanlah sebentar lagi. Aku akan berusaha yang terbaik." ucap Asfa dengan memejamkan matanya.
Ada rasa gelisah menyusup ke dalam dadanya, tembakan peluru akan lebih baik dibandingkan rasa di dadanya yang sangat menyesakkan. Setelah melihat bagaimana kakaknya berusaha dengan keras untuk melindungi serta menurunkan ego dan juga harga diri demi menyelamatkan nyawanya, sudah pasti menjadi tanggungjawabnya untuk menjauhkan masa lalu itu dari kakaknya.
"Salah alamat ini! Rumah ku tidak seketat ini penjagaannya. Siapa yang memberikan mu alamat?" tanya Abhi dengan polosnya.
"Lalu siapa mereka?" tanya balik Zain dengan menunjuk dua orang paruh baya yang baru keluar dari rumah besar Abhi.
Kedatangan Tuan Mahendra beserta sang istri membuat Abhi kembali melihat sekelilingnya melalui jendela dari dalam mobil, ternyata bukan hanya penjagaannya saja yang sangat ketat tapi ada beberapa hal-hal baru yang mengubah tata letak depan rumahnya.
Kliiiik...
"Ayo ku bantu." ucap Zain setelah membukakan pintu untuk Abhi dan meletakkan kursi roda Abhi di depan samping mobilnya.
"Selamat datang nak, kami sangat merindukanmu." sambut Tuan Mahendra dengan senyuaman terbaiknya.
"Pa! Bantu Abhi masuk dulu, baru kita bicara di dalam." sela Bunda Aliya yang mengingatkan suaminya.
__ADS_1
"Abhi bisa sendiri, sebaiknya kamu susul istri ku!" perintah Abhi setelah duduk di kursi rodanya.
"Apa kamu benar-benar bisa sendiri?" tanya Zain yang terdengar seperti sebuah ejekan di telinga Abhi.
"Hmm. Pergilah!" perintah Abhi dengan tegas membuat Zain menahan tawanya dan kembali memasuki mobil van setelah memastikan Abhi bersama keluarganya sendiri.
Meninggalkan kediaman Abhi, Zain menyusuri jalanan dengan berbeda arah dari kedatangannya. Arah yang pasti akan membuat kegemparan di dalam tujuannya, sebelum melangkahkan kakinya lebih jauh untuk meraih masa depannya maka restu dari keluarga adalah hal pertama yang harus di dapatkan olehnya.
"Kuharap tidak ada yang menghalangiku dari Cinta ku." gumam Zain dengan melantunkan sebuah siulan yang menjadi ciri khas darinya.
Siulan yang akan memiliki nada sama dengan tingkat frekuensi berbeda di setiap emosi terbaik dan terburuk dari seorang Zain, siulan yang akan menjadi teman hidupnya dalam memuja Cinta dan menghapus noda dalam hidupnya.
...*********...
.
.
. Hay Reader, othoor hari ini up dobel yah.. 🤭
.
.
. Selamat Hari Raya Idul Fitri, othoor lebih terbiasa bilang Happy Eid Mubarak minal aidzin wal faidzin.. 🙏
~Allah bless us all with the special time, happy together with family.. 🥰
.
.
__ADS_1
. Take care all, othoor udahan nih ya... 🤭