
"Pulaang! " satu perintah dari seberang telfon membuat satu pasang mata mengerjap.
"Kalian bereskan ini! Jangan ada jejak." ucap nya dan meninggalkan kekacauan yang baru saja di buatnya.
Mendengar satu ucapan dari pimpinan mereka, membuat para otot itu mengangguk serempak dan membiarkan pemimpin mereka pergi begitu saja.
Terdengar suara motor yang memasuki sebuah mansion mewah, terlihat adanya tambahan bodyguard yang tak asing di mata nya. Sudah pasti ada hal yang tidak beres di dalam sana membuat gadis yang baru turun dari moge nya terdiam sejenak memandang pintu masuk utama, hingga seorang bodyguard dengan rambut acak-acakan keluar dari mansion menghampiri nya.
"Queen, tuan besar dan tamu nya sudah menunggu di ruang kerja." lapor bodyguard itu dengan jarak satu meter.
"Jaga milikku dan jangan bergerak dari tempat mu berdiri." perintah Asfa setelah melemparkan kunci moge nya dengan tangkapan tangan bodyguard nya.
Tanpa melepaskan helm nya, gadis itu memasuki mansion dengan langkah tegas dan berwibawa. Ruangan kerja milik nya kini terlihat dalam mode tidak terkunci, sudah pasti papa atau kakak nya yang berani membuka nya.
Tok... tok... tok...
Di ketuknya pintu kaca buram itu dengan sopan sebagai tamu sidang, terlihat lengan kekar menyambut membukakan pintu untuknya. Ruangan yang cukup luas namun menjadi sedikit sempit karena koleksi alat-alat canggih miliknya itu kini menjadi tempat pertemuan, terlihat wajah-wajah yang tidak asing di ruangan itu.
"Malam pa." sapa Asfa melepaskan helm nya mencium tangan tuan besar.
"Malam untukmu queen, bisa jelaskan apa yang terjadi? " tanya tuan besar melirik sekilas ke wajah-wajah di depan nya yang cukup jarak jauh nya.
"Apa bibi tidak mau menjelaskan apa yang terjadi? " tanya Asfa tanpa memandang ke arah wanita yang telah mengecewakan nya.
"Tuan." ucap wanita itu menunduk.
"Keluar!" seru tuan besar yang melihat kesalahan di dalam diri kepala pelayan itu.
Tanpa menunggu perintah dua kali bibi Nora keluar bersama anak-anak di belakang nya di bimbing oleh beberapa bodyguard yang menjemput mereka tadi, ruangan kerja itu kini tertutup rapat dan terkunci tanpa menyisakan satu helaan nafas pun. Ntah apa yang terjadi didalam namun di luar ruangan itu hanya ada kebisuan dengan fikiran travelling ntah ke belahan dunia mana, hingga pintu kembali terbuka memunculkan gadis dengan wajah datar nya berjalan melewati segerombolan manusia yang membuat nya lelah.
"Anda seharusnya jujur dari awal, aku sendiri yang akan membantu Anda untuk hidup bebas. Anggap ini balas budi ku, setujui apapun yang Papa katakan dan pergilah." seru Asfa sebelum langkah nya menapaki tangga.
__ADS_1
"Nona muda." gumam lirih bibi Nora yang semakin merasakan kekecewaan dari anak asuh nya itu.
"Tuan besar ingin memanggil mu bibi Nora, silahkan masuk." ucap seorang bodyguard yang memiliki earphones di telinga nya.
Braaak...
Pintu tertutup dengan suara bantingan keras menandakan suasana hati tuan besar nya tidak baik, terbukti dengan berpaling nya wajah tuan besar nya seakan tidak sudi lagi memandang wajah nya.
"Tanda tangani itu dan pergi sejauh yang kamu mau." perintah tuan besar yang di ikuti dengan seorang bodyguard menyerahkan selembar kertas dan pulpen di depan bibi Nora.
Wanita itu terlihat membaca dengan cermat setiap kata di dalam lembaran itu, tidak ada sebuah raut penyesalan karena dirinya sadar telah membuat nona muda nya kecewa. Dan di pastikan siapapun yang mengecewakan apalagi melukai perasaan nona muda putri tunggal tuan besar nya akan mengalami nasib tragis jika satu kata setuju keluar dari mulut gadis muda penguasa keluarga Luxifer.
"Maafkan saya tuan besar, saya permisi dan tolong sampaikan permintaan maaf sebesar-besarnya untuk nona muda." ucap bibi Nora setelah menandatangani selembar kertas yang mengakhiri ikatan dirinya didalam naungan keluarga Luxifer.
Satu lambaian tangan tuan besar menyingkirkan satu kepala pelayan nya yang telah bersama putri nya selama beberapa tahun, jika bukan karena permintaan putri nya sudah pasti pelayan itu akan mendapatkan hukuman yang setimpal.
Flasback
Setelah pintu tertutup dengan lembut di peluknya pria yang memiliki tubuh sangat kekar itu, mengusap bahu yang selama ini menjadi sandaran nya. Perlahan menyalurkan rasa hangat dengan ketenangan kasih sayang dari tubuh mungil nya, setelah beberapa saat akhirnya tangan kekar itu ikut membalas pelukan tubuh mungil putrinya.
"Maafkan papa nak, papa hanya khawatir dan terbawa perasaan." jawab tuan besar mengelus kepala putrinya.
"It's okay dad, i love you so much.(Tidak apa-apa ayah, aku sangat mencintai mu)." ucap Asfa menikmati sentuhan papa nya.
"Jelaskan apa alasanmu nak." tanya tuan besar melepaskan pelukan putrinya.
Tanpa menjawab di ajaknya sang papa untuk duduk di kursi kerja nya, dan dengan sebuah laptop yang selalu tersedia di atas meja dirinya akan menjelaskan segala sesuatu nya.
"Inilah alasan ku pa, dia adalah Kiki salah satu anak yang papa ambil dari jalan tapi tindakan nya adalah tumpukan pelanggaran di dalam keluarga Luxifer. " ucap Asfa membuka sebuah video yang sudah tersimpan di dalam laptop nya dengan cara pengiriman.
Video berdurasi lima belas menit itu menampilkan penganiayaan yang dilakukan sang pemuda di dalam kamar nya terhadap seorang anak perempuan yang usia nya di bawah pemuda itu, terlihat pelecehan itu membuat guncangan pada anak perempuan yang kini masih terdiam membisu dengan wajah polosnya di luar sana.
__ADS_1
Video kedua di putar dengan putaran percepat hingga pada video inti nya dimana pemuda itu menganiaya bibi Nora yang menasehati pemuda itu untuk mandiri namun justru tamparan dan cacian yang di dapat oleh bibi Nora, bersambung dengan video lain yang tak kalah menyedihkan dimana pemuda itu semakin sering melecehkan anak perempuan yang diam tanpa mengadu pada siapapun.
Terlihat tangan kekar papa nya sudah mulai mengepal, namun sebuah file yang di buka putri nya membuat nya sedikit melirik putri nya.
"Aku putri Tuan Besar Luxifer, jangan ragukan itu." ucap Asfa ringan seringan kapas.
Sebuah senyuman yang menghiasi bibir papa nya menunjukkan rasa bangga memiliki putri seperti dirinya, kepintaran yang tidak lagi di ragukan dengan file yang menyatakan bahwa pemuda itu adalah putra terbuang dari kepala pelayan nya. Data yang dipastikan akurat karena putrinya sendiri yang menyelidiki tentang itu, kini dirinya paham kenapa putri nya mengirim anak-anak pondok ke mansion anak buah junior dan tidak membiarkan anak-anak itu ada di pondok hanya dengan penghuni sedikit.
"Bebaskan bibi Nora pa, dia tidak bersalah tapi biarkan dia menikmati sisa hidupnya tentu dengan jaminan pasti." ucap Asfa menggenggam tangan papa nya.
"Seperti perintah mu queen, papa akan memberikan apapun keinginan mu." jawab tuan besar dengan mengelus tangan putri nya.
Selembar kertas yang di tanda tangani bibi Nora hanyalah formalitas hubungan kerja yang berakhir, dan dengan begitu bibi Nora terlepas dari tanggung jawab tuan besar ataupun nona muda nya. Itulah yang menjadi permintaan nona muda Luxifer, dan anak-anak dikembalikan ke mansion dimana tempat itu akan mendidik dan melatih fisik dan mental mereka agar siap menghadapi dunia luar.
Sedangkan di dalam kamar terlihat gadis itu masih setia mengerucutkan bibirnya setelah melihat mahakarya terbaik sepanjang sejarah, kamar indah elegan yang biasa rapi dengan aroma bunga kini berubah menjadi deburan ombak yang menenggelamkan kapal. Berantakan tanpa bentuk dan terlihat sangat tidak nyaman untuk di pandang apa lagi untuk di tempati, namun satu pria tanpa baju masih dengan mimpi indah nya menikmati pulau kapuk tanpa menyadari penghuni sah telah kembali.
Doorrr..... Praaang....
Satu peluru berhasil memecahkan sebuah guci ukuran sedang di samping sisi tempat tidur, suara itu pula yang langsung membuat pria di atas pulau kapuk meloncat tanpa membuka mata terlebih dahulu.
Dug... Auw..
"Queen Asfa Luxifer! " seru pria itu setelah kepala nya membentur dinding yang membuat mata nya terbuka paksa dengan memar di kening nya.
Di tatap nya gadis dengan jaket terbuka itu terlihat bercak darah yang ada di dalam pakaian dalam putih adiknya, tapi terlihat tubuh adiknya masih berdiri dengan posisi sempurna menggenggam satu pistol di tangan kiri nya dengan bibir mengerucut dan mata tajam nya siap menerkam.
"Bereskan! Sepuluh menit! " perintah Asfa dan berjalan memasuki kamar mandi nya tanpa mengalihkan pandangannya dari pria yang menatapnya.
Braaak...
"Aduh, huft baiklah ayo cepat kerjakan." rutuk pria itu dan mendekati sambungan telepon bukan membereskan kamar.
__ADS_1
Setelah melepaskan jaket dan meletakkan senjata di tempat nya, terpampang penampilan tubuh nya yang bermandikan darah akibat pertarungan kecil dengan lawannya.