My Secret Life

My Secret Life
Bab 34: Kupu-kupu Istana


__ADS_3

Ingatan samar namun nyata itu mulai kembali, rasa sakit di kepala nya yang tiba-tiba datang membuat buliran air mata meluncur tanpa hambatan, diraihnya sebuah kotak biru di laci nakas nya. Butiran pil merah terlihat mengisi separuh tempat kotak biru itu, dengan tangan gemetar satu butir pil merah telah berpindah ke dalam tubuhnya. Rasa sakit itu berangsur-angsur menghilang menyisakan rasa sakit di dalam hati nya , kini memori masa lalu itu melintasi tanpa rasa sakit.


"Akhirnya setelah sekian tahun aku menikmati obat delima lagi, ku harap ini yang terakhir." batin Asfa dengan merebahkan tubuhnya.


Memori itu sangatlah indah namun berakhir tragis yang mengubah hidup nya menjadi deruan peluru dengan pacuan kecepatan, kehidupan yang awalnya adalah kebebasan layaknya kupu-kupu menjadi penuh tekanan meskipun semua yang di lakukan papa nya demi kebaikannya.


Flasback


"Tuan, nona muda mengalami kecelakaan di panti asuhan." ucap seorang bodyguard yang selama ini menjaga putri tunggal orang terpandang di kota itu.


"Apa kerja kalian hah! Cepat bawa ke rumah sakit , aku tunggu! " seru nya dengan wajah dingin dan tampan di usia nya yang masih muda.


Sebuah heli mendarat tidak jauh dari sebuah panti asuhan yang seperempat bagaiannya sudah mengalami kebakaran parah, meskipun sudah di padamkan tapi kerusakan terlihat jelas dan dapat di pastikan seberapa besarnya kebakaran itu terjadi. Terlihat semua orang penghuni panti asuhan tengah berduka dan masyarakat masih membantu menolong para korban yang terluka ringan atau berat dengan petugas puskesmas, hingga tidak ada yang menyadari seseorang di antara korban itu sudah menghilang dengan beberapa orang yang tak di kenali.


Dengan cepat tubuh mungil dengan pakaian nya yang sudah berubah lusuh karena asap terbaring di pangkuan seorang pria bertubuh kekar tanpa senyuman, penerbangan hanya membutuhkan waktu sepuluh menit hingga mencapai titik tujuan. Terlihat di bawah sana sudah ada barisan ratusan bodyguard berbagai ukuran dengan seorang pemimpin dengan penampilan acak-acakan yang membuat sang pilot seakan enggan untuk mendarat, namun tanggung jawab nya hanya menerbangkan dan mendaratkan heli bukan melarikan diri karena gentar.


"Sayang bertahanlah, papa ada bersama mu." ucap pria dengan penampilan acak-acakan yang mengambil putri kecilnya setelah heli mendarat.


"Cari tahu apa penyebab semua ini! Pergilah! " perintah pria itu dan berlari meninggalkan landasan heli memasuki sebuah lift kaca yang merupakan akses satu-satunya untuk ke atap gedung utama.


Seluruh dokter beserta para perawat seakan menjadi hari penghakiman dimana semua penghuni rumah sakit itu menjadi tegang hanya dengan kedatangan satu pasien yang sangat special, barisan bodyguard memblokade satu lantai tanpa terkecuali.


"Selamatkan nyawa putri ku apapun caranya!" ucap pria itu dengan meletakkan putri nya di atas brangkar ruangan operasi.


"Kami usahakan pak, silahkan tunggu di luar." jawab seorang dokter pria paruh baya dengan lembut.


"Ingat satu hal kalian, Jika putri ku tidak selamat. Bersiaplah terbujur di tempat ini tanpa ada sisa untuk keluarga kalian mengenang kalian! " ancam pria berpenampilan acak-acakan sebelum menutup pintu operasi.


Bukan hanya melotot dan mengelus dada yang dilakukan para dokter dan perawat itu tapi juga pacuan adrenalin yang mampu menerbangkan detak jantung mereka sebelum melakukan pengobatan pada pasien, dengan hati takut namun tanggung jawab menyelamatkan pasien adalah tugas mereka. Terlihat lampu operasi menyala hingga tiga jam berlalu barulah lampu merah itu padam dengan terbuka nya pintu dan pemindahan pasien ke ruangan lain, dokter paruh baya kemudian menghampiri pria yang mengancam nya tadi dengan ketenangan yang susah payah di kumpulkannya.


"Putri anda selamat pak, tapi membutuhkan perawatan lebih lanjut karena paru-parunya di penuhi asap." ucap dokter dan menghela nafas.


"Lakukan yang terbaik dan pastikan putri ku bisa berlari lagi." jawab pria itu.

__ADS_1


"Kalian pastikan keamanan rumah sakit ini dan jangan biarkan siapapun memasuki daerah ini! " seru pria itu yang mampu di dengar oleh seluruh anak buahnya.


"Dan untukmu dok pergilah istirahat, terimakasih atas kerjasama nya." ucap pria itu lagi yang melihat dokter itu masih di depannya.


Kepergian dokter membuat pria berpenampilan acak-acakan itu memasuki ruangan rawat putri nya di mana ruangan itu adalah ruangan utama dari rumah sakit, terlihat jelas fasilitas lengkap ada di dalam ruangan itu. Seorang gadis mungil yang baru saja akan menginjak usia lima tahun kini terpasang alat bantu pernafasan dengan alat-alat kedokteran lainnya, wajahnya yang putih terlihat semakin pucat dengan pakaian biru khas rumah sakit.


Diraihnya satu tangan putri nya yang bebas dari jarum, dikecupnya berulang kali hingga rasa sesak di dada nya mengalirkan butiran bening dari sudut mata nya. Kehidupan nya terasa hampa tanpa kupu-kupu istana nya, dialah putri tunggalnya yang selalu mencintai semua orang dengan keceriaan nya. Tidak memandang kasta ataupun rupa, kupu-kupu istana yang merakyat membuat siapapun menerima dirinya dengan cepat.


"Bangunlah Queen Asfa Luxifer, papa hanya ingin selalu melihat senyuman mu di setiap waktu. Maafkan papa yang akhir-akhir ini terlalu sibuk, tapi papa mohon jangan tinggalkan papa sendirian. Cepatlah pulang nak, kamu lah hidup papa." ucap pria itu dengan lembut dan bergetar.


Tidak terasa hampir dua belas jam dirinya menunggu putri nya tanpa makan dan minum hingga terdengar langkah kaki yang sangat di hafal nya, meletakkan tangan putri nya dan menemui anak buahnya yang sudah menunggu di depan ruangan. Pintu terbuka dan benar saja sosok bodyguard yang menjaga putri nya sudah kembali bersama beberapa orang yang tak di kenalnya, dengan langkah pasti berjalan mendekati sosok itu.


Bug... bug.. bug... Bruuug...


Tiga pukulan telak yang di layangkan nya mampu membuat bodyguard putri nya tersungkur dengan sudut bibir mengalirkan cairan merah, bodyguard itu hanya bangun tanpa membalas pukulan. Dirinya tahu kelalaian dalam menjaga nona muda nya adalah kejahatan bagi tuan besarnya, bahkan tiga pukulan adalah hukuman kecil bagi kesalahan besarnya.


"Jelaskan! " titah tuan besar dengan tangan menyilang di dadanya.


"Semua terjadi karena anak panti yang biasa menjadi teman main nona muda, anak laki-laki dengan usia sepuluh tahun itu bernama Vano Raymond. Keduanya memang kerap bermain tapi hari ini permainan bocah itu sangatlah berbahaya, dengan sifat nona muda yang penurut dan polos justru membuat jiwa bocah laki-laki itu tertantang. Dengan menerima tantangan anak panti lainnya Vano mengajak nona muda bergabung dalam permainan petak umpet, namun tempat persembunyian nona muda sudah di atur oleh bocah laki-laki itu hingga ruangan gudang dekat dapur itu menjadi pilihan tantangan. Tanpa disadari terjadi kebakaran setelah permainan petak umpet di mulai, disaat api mulai menyebar dengan asap yang mulai bertambah terlihat bocah itu meninggalkan gudang dengan mengunci gudang dan berlari menuju ke persembunyian lainnya. Kebakaran akhirnya menjadi semakin besar hingga merembet ke dinding sisi gudang, saya yang mendengar teriakan kebakaran langsung mencari nona muda dan mendengar suara kecil dimana beberapa bocah berbisik tentang anak pendonasi yang tertinggal di gudang. Dengan cepat saya menghampiri gudang lewat belakang dan mendobrak sebuah jendela kayu hingga asap tebal keluar begitu jendela itu terjatuh, setelah memeriksa setiap sudut dan hampir meninggalkan gudang terdengar suara batuk kecil dari kotak kardus. Kardus itu menjadi tempat persembunyian nona muda yang sudah lemas dengan asap di seluruh ruangan, dengan cepat saya membawa keluar nona muda lewat jalan lain untuk menghindari kerumunan. Seperti itulah kejadiannya, maafkan saya tuan besar. Saya siap menerima hukuman apapun dari anda." ucap bodyguard itu dengan tegas.


"Maaf tuan besar, sepertinya bocah itu melarikan diri dari panti asuhan. Setelah saya kembali tidak ada tanda keberadaan Vano Raymond dan penghuni panti asuhan pun tidak ada yang melihat nya lagi setelah pasca kebakaran berangsur-angsur tenang. Tapi dua abdi panti asuhan ini bisa menjadi saksi jika tuan besar ingin membuat laporan atas kejadian hari ini." jawab bodyguard itu menunjuk dua wanita muda yang datang bersama nya.


"Kembalikan saja mereka! Ambillah bukti dan pernyataan keduanya, pastikan semua itu memang benar adanya." perintah tuan besar dan meninggalkan bodyguard putri nya untuk kembali menjaga tidur panjang kupu-kupu istana nya.


Hampir satu minggu tidak ada kemajuan signifikan membuat tuan besar di landa ketakutan dengan tingkat kecemasan tinggi hingga hari ke tujuh memutuskan membawa putri nya berobat ke luar negeri, perpindahan itu masih menyisakan tanda tanya besar bagi semua anak buah di bawah naungan nya.


Hanya tuan besar dan putri nya saja yang pergi tanpa perlindungan ataupun keamanan, keduanya menghilang bak di telan bumi selama tiga tahun hingga hari besar itu tiba. Dimana pemberitahuan kembali nya sang pemimpin bersama putri tercinta nya, langit berawan gelap menjadi terang benderang dengan cahaya kembang api yang bertebaran.


Di setiap inci langit seluruh kota seakan merayakan tahun baru, namun semua itu adalah perayaan atas kembalinya sang penguasa. Terlihat begitu banyak rona kebahagiaan yang siap melayani dengan sepenuh hati menyambut kedatangan kedua makhluk tak bersayap, meskipun keduanya tidak pernah menampakkan diri tapi debut dalam setiap pekerjaan dan hal lain nya masih berjalan.


"Selamat datang tuan besar dan nona muda, kami menyambut kedatangan kalian sepenuh hati." ucap seorang wanita dewasa yang selama ini menjadi kepala pelayan di mansion.


"Nora, apa semua sudah di siapkan? " tanya tuan besar.

__ADS_1


"Sudah tuan, seperti yang anda jelaskan." jawab Nora kepala pelayan dengan menunduk.


"Istirahat lah nak, jaga kesehatan mu." perintah tuan besar melepaskan tangan putri nya yang masih diam tanpa ekspresi.


"Tuan apa nona muda baik.. " tanya Nora dengan wajah sedih setelah melihat nona muda nya hanya berjalan melewati semua pelayan tanpa satu kata pun menuju ke kamar pribadinya.


"Perubahan sering kali terjadi karena keadaan memaksa kita untuk berjuang dalam kehidupan ini, tetaplah sayangi dia seperti biasanya." jawab tuan besar.


"Mulai hari ini panggil putri ku dengan QUEEN! " seru tuan besar yang mampu terdengar di setiap pasang telinga yang ada di dalam mansion nya.


Kepergian tuan besar ke ruangan kerja nya membuat semua pelayan membubarkan diri dan berganti dengan berbagai pimpinan bodyguard yang seperti nya sudah di undang secara pribadi oleh tuan besar, terlihat wajah serius dengan simbol tanda tanya di atas kepala mereka. Namun semua bibir seakan terkunci tanpa ada yang memiliki kunci untuk membuka kebisuan mereka, ruangan yang sudah lama tidak beroperasi kini menjadi panas dalam hitungan detik.


"Peraturan baru dan mutlak untuk semua raga bernyawa di dalam naungan ku** *Nyawa putriku Queen Asfa Luxifer adalah yang utama di atas segalanya*. Jika ada yang melanggar, bersiap lah untuk menjadi debu! " ucap tuan besar dengan sorot mata serius tingkat utama.


Merinding dengan aura dingin memanas seakan kulit mereka bersentuhan dengan es batu yang membeku ribuan tahun, dengan nafas yang tertahan setelah pengumuman itu di ikrar kan oleh tuan besar mereka. Melihat betapa menciut nya nyali para anak buah nya, tuan besar tetap tidak menurunkan keseriusannya hingga satu suara yang lembut meluluhkan seluruh perasaannya.


"Biarkan mereka bernafas pa, atau ruangan kerja papa menjadi kuburan massal dadakan." ucap Asfa dengan lembut menghampiri kursi papa nya yang terlihat sangat serius dengan aura intimidasi.


"Pergilah kalian dan lanjutkan pekerjaan." perintah Asfa memandang para pemimpin bodyguard yang diundang papa nya.


"Kenapa tidak istirahat sayang? Papa tidak mau mutiara papa kelelahan." ucap tuan besar memangku putri nya dengan lembut tanpa menghiraukan makhluk lainnya yang mulai mundur perlahan.


"Tenanglah pa, bukankah dengan tangan ini papa membuat ku tangguh? Ayo istirahat pa, aku juga tidak mau tempat ku bersandar menjadi lemah karena hal sepele." jawab Asfa dengan senyuman terbaiknya.


Kenangan itu masih hanya setengahnya, hingga tidak ada yang tahu bagaimana kehidupan gadis polos menjadi gadis bertopeng selama tiga tahun. Wajahnya bisa berubah seperti keinginan nya tanpa ada yang bisa menduganya, hanya dirinya dengan papa nya dan seseorang yang kini masih dalam tempat damainya.


"Istirahat lah nak, papa akan selalu bersama mu apapun yang terjadi. Bertahanlah setiap kali kau terjatuh, papa ada untuk menjadi sandaran mu." batin tuan besar mengelus rambut Asfa yang terlelap setelah mengingat seperempat masa lalunya.


Tangannya masih menggenggam kotak biru yang sudah lama tak tersentuh, berkat obat itu lah putri nya membaik namun mengkonsumsi obat terus menerus tidak lah baik. Dengan perasaan yang tidak bisa terjabarkan terlihat garis halus di wajahnya ketika beberapa hari lalu melihat wajah seorang pria dengan bentuk wajah sama seperti wajah bocah laki-laki yang menyebabkan dirinya hampir kehilangan putri tunggalnya.


*Vano Raymond tidak akan ku biarkan laki-laki itu kembali memasuki kehidupan putriku! Ketulusan pertemanan putri ku kau khianati tanpa ada pengampunan.* batin tuan besar memandang putri nya yang terlihat sangat lelah dengan permasalahan hidupnya.


.......................

__ADS_1


"Nak kau dimana? Cepatlah datang! " ucap seseorang dari dalam benda pipih yang menempel di telinganya.


__ADS_2