My Secret Life

My Secret Life
Bab 219: BOS


__ADS_3

"Hanya pemimpin menjadi milikmu, tapi tidak dengan anggota musuh lainnya. Apa kamu tahu siapa pemimpin mereka?" tanya Justin menatap ke depan dimana jarak ke markas musuh masih 3 KM lagi.


Tangan dilepaskan seraya meregangkan otot lehernya. "Yah, aku tahu siapa pemimpin mereka. Lalu?"


"Queen….,"


"Calm down. Lanjutkan perjalanan kita!" titah Queen mengangkat tangannya ke samping agar Justin tidak lagi membantah dirinya.


Dari jalan lain sebuah mobil mercedes-benz warna putih memasuki gerbang perbatasan. Para penjaga seragam preman berbondong-bondong berlarian menuju lapangan. Setelah mendengar pengumuman pemimpin mereka datang.


Ciiit!


Mobil berhenti tepat di depan halaman tanah yang luas. Lalu, pintu mobil terbuka bersamaan seorang pria dengan mantel hitam keluar dari dalam mobil.


Braak!


Seorang preman dengan tindik di telinganya berlari menghampiri sang pemimpin tanpa melepaskan senjata laras panjang yang bertengger di pundak.

__ADS_1


"Sore, Bos." sapa pemimpin preman menunduk di depan bosnya.


"Apa mereka belum datang?" tanya sang bos mengibaskan tangannya seraya menatap semua anak buahnya satu persatu.


"Belum, Bos. Sesuai jadwal mereka akan datang tepat saat matahari terbenam." pemimpin preman melirik ke jam di pergelangan tangan kirinya. "Sepuluh menit lagi."


Sang bos mengangguk paham. Tanpa ingin menyapa para anak buah yang tertunduk takut di atas kekuasaannya. Pria angkuh itu berjalan meninggalkan halaman di iringi pemimpin preman memasuki markas yang berupa bangunan dua tingkat dengan pintu besi tanpa jendela satupun.


Empat menara yang terletak di keempat sisi. Selalu digunakan menjadi tempat mengintai, di sertai ada satu pengawas di setiap menara. Pemimpin preman membukakan pintu menggunakan kunci berbentuk hati. Lalu, mempersilahkan bosnya masuk terlebih dahulu.


"Bos, mau minum apa?" tanya pimpinan preman menarik satu kursi besi yang paling besar diantara lainnya.


Sang bos melepaskan mantel, lalu duduk di kursi kebesarannya. Sebuah ponsel dikeluarkan, "Kopi hitam saja."


"Okay, tunggu bos." jawab pemimpin preman berjalan menuju sebuah lengkungan pintu meninggalkan bosnya.


Sembari menanti kopi. Pria yang dipanggil bos memainkan ponselnya. Beberapa file dibuka dan diperiksa dengan teliti. Hingga satu notif email masuk, membuat fokusnya teralihkan.

__ADS_1


Kenapa ada email dari musuhku? Bukankah sebentar lagi akan ada pertemuan? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa mungkin ini hanya tipuan mereka? Aku harus memastikan, sebelum semuanya terlanjur. ~batin pria itu membalas e-mail.


Ketukan di meja berirama semakin terdengar keras. Menandakan pria yang duduk menatap ponsel diatas meja tidak sabar menunggu jawaban email dari musuhnya.


Sepuluh menit kemudian.


"Bos, ini kopi Anda." seru pemimpin preman dengan secangkir kopi yang masih mengepulkan asap putih di atas nampan kaca mini.


Tak ada respon dari pria yang sibuk menatap ponsel hingga lumutan, membuat pemimpin preman itu menaruh nampan di atas meja lalu memegang keningnya sendiri.


"Tidak panas, kok. Eh salah, harusnya 'kan kening bosku." Pemimpin preman mendekatkan tangannya berniat memeriksa. Apakah bosnya sehat walafiat, tapi satu tepukan kasar mengejutkan. "Bos, sakit."


"Mau ngapain, HAH?!" seru sang boss mendelik tajam.


Pemimpin preman menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku pikir bos kesurupan....,"


Plaaak!

__ADS_1


__ADS_2