
Ternyata, semua benar adanya. Keraguanku terjawab sudah. Tidak ada lagi tempat bagimu di dalam hatiku. Semua sudah berakhir sekarang. ~batin pengawas yang menatap nanar dengan langkah Vans semakin menjauh dan menghilang di balik dinding kaca.
Puk!
Satu tepukan di punggung, membuat pria itu berbalik dan menatap si pelaku. "Ngapain kamu disini?"
Kanza mencebikkan bibir dan menatap Abhi dengan memelas. "Bhi, ini sudah lebih dari setengah tahun. Kenapa kamu masih saja….."
"Bukan urusanmu. Jauhi aku!" Abhi menyingkirkan Kanza dari hadapannya dan berjalan menuju tempat mobilnya berada.
Kanza menghentakkan kaki, dan tangannya mengepal. Sejak kematian bunda Aliya, segala cara sudah dilakukan. Tetapi tak satupun usahanya bisa meluluhkan hati Abhi.
Triiing….
Suara pesan masuk, mengalihkan kekesalannya. Ponsel di dalam tas selempang diambil dan satu pesan dibuka. Seperti mendapatkan hadiah, wajah dongkol Kanza berubah menjadi sinar kebahagiaan. Tujuannya bukan lagi Abhi. Wanita itu berjalan meninggalkan depan rumah sakit, menghentikan sebuah taksi dan pergi ntah kemana.
Sementara Abhi keluar dari mobil dan menatap rumah sakit. Hatinya masih tak puas. Langkah demi langkah, Abhi memasuki lobi rumah sakit dan melihat keseluruh lorong. Di depan resepsionis, bibirnya kelu ingin bertanya. Tapi, bagaimana cara mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
"Ayolah, dok. Aku tidak ingin mengambil resiko. Bukankah semua sudah siap?" pinta Vans di depan ruangan, membuat dokter menghela nafas.
"Baiklah, tapi apakah queen sudah setuju?" tanya dokter menekankan pertanyaannya pada Vans.
Vans menggenggam tangan dokter, "Kita tahu keadaannya. Jangan buat pilihan yang rumit. Aku mau periku dan anak kami selamat."
Perdebatan itu menarik perhatian banyak orang. Termasuk Abhi, dimana pria itu menutupi wajahnya dan duduk di salah satu kursi tunggu. Seperti sebuah kebetulan, perdebatan Vans dan dokter menjadi kemudahan bagi Abhi.
Dokter mengangguk dan berlalu meninggalkan Vans, dan pria itu membuka ruangan kembali masuk ke dalam. Asfa masih terlelap dengan senyuman manis. Selama kehamilannya, tidak ada permintaan yang aneh. Tentu saja, kecuali melakukan balapan liar selama dua bulan dan setiap seminggu sekali.
Vans mengusap wajah Asfa. Ingatannya kembali pada beberapa bulan lalu, setelah tragedi Cafe HighStar. Bahkan setelah terluka dan mengingat semua kisah hidupnya sendiri. Asfa tidak mengeluh, apalagi melakukan pemberontakan. Wajahnya tetap tenang dengan kedewasaan yang semakin meningkat.
"Kenapa? Aku hanya ingin melihatmu terbang seperti kupu-kupu, tapi Tuhan memberikan takdir lain. Kehamilan mu menjadi tanggung jawab baru. Sampai kapan, kamu ingin bersembunyi dari dunia?" gumam Vans.
Tanpa Vans sadari, dari cermin di pintu. Seorang pria menatap ke dalam dengan perasaan berkecamuk. Tangannya mengepal hingga kuku memutih. Mata pria itu memerah dengan bibir terkunci rapat.
__ADS_1
"Permisi, Tuan? Saya mau masuk." tegur seorang suster.
Pria itu menyingkir dan berjalan meninggalkan tempatnya berdiri. Suster masuk dengan wajah bingung, dan Vans mengalihkan perhatiannya ke arah pintu masuk. "Ada apa?"
"Tadi ada pria berdiri di luar pintu dan menatap ke dalam ruangan. Saat saya tegur, justru pria itu pergi…."
Vans bergegas mengecek, sayangnya tidak ada siapapun di luar. Akhirnya kembali masuk ke dalam ruangan Asfa. "Tidak ada siapapun. Apa dokter Rio menyuruhmu?"
"Iya, dokter Rio meminta saya memberikan ini." Suster menyodorkan satu map biru ke arah Vans.
Vans menerima dan membukanya. Beberapa menit terdiam dan membaca hasil laporan terakhir peri kecilnya. Satu pulpen yang terselip di ambil, dan tanda tangan dibubuhkan. Map ditutup dan dikembalikan pada suster. "Pergilah, sampaikan pada dokter Rio operasi sesuai jadwal!"
"Siap, Tuan. Permisi." pamit suster.
Vans memilih merebahkan tubuhnya di sofa panjang, sembari menatap Asfa di atas brankar. Setiap malam akan ada mimpi yang datang menghampiri tanpa permisi. Semua berasal dari ingatan yang menjebaknya.
"Aku hanya ingin kamu bahagia. Sesederhana itu, tapi kehidupanmu masih saja rumit." gumamnya dan memejamkan mata.
Kelopak mata dengan mata biru terbuka menatap sekelilingnya. Rasa lapar menyerang, membuat Asfa bangun dan turun dari brankar. Wajah lelah dan dengkuran halus dari pelindungnya, membuat Asfa tak tega membangunkan pria itu.
Sebaiknya aku keluar sebentar, pasti ada makanan di luar. Ka, aku keluar dulu ya. Pasti balik lagi.~batin Asfa dan berjalan dengan hati-hati.
Asfa keluar dari ruangan dan menyusuri lorong rumah sakit. Pintu depan rumah sakit sudah didepan mata, tapi tangannya di cekal seseorang. Sontak langkahnya terhenti dan berbalik untuk melihat siapa pelakunya. "Maaf, ada apa?"
"Wah, bagus sekali aktingmu. Berapa topeng yang ingin kamu tunjukkan? Dulu kamu polos, tiba-tiba berubah menjadi seorang putri raja dan kini, topeng apalagi?" cecar pria di depan Asfa.
"Apa kita saling mengenal?" tanya Asfa dengan wajah bingung.
Prook!
Prook!
Prook!
__ADS_1
"Tidak diragukan lagi, kamu memang ratu drama. Bagaimana bisa aku mencintai wanita sepertimu? Wajahmu saja palsu……"
"Hentikan!" seru Vans berjalan cepat dan bergegas memeluk Asfa.
Abhi tersenyum masam, melihat bagaimana pria itu melindungi Asfa. "Pemandangan yang epik. Harus ku abadikan," tukasnya mengambil ponsel dan bersiap mengambil gambar.
Vans melepaskan pelukan dan menatap Abhi dengan tatapan permusuhan. Tak peduli dengan banyaknya para penonton. Tangannya merebut ponsel Abhi dan…..
Braak….
Ponsel dilemparkan menghantam dinding. Bukan hanya retak, tapi terpisah menjadi beberapa bagian. Vans mengacungkan jari ke arah Abhi. "Kamu, bukan hanya bodoh! Tapi, tak punya hati. Jangan kamu pikir, aku tidak tahu apapun tentangmu. Jauhi peri kecilku!"
"Ka, sudahlah. Aku lapar, mau ayam bakar." Asfa melerai pertengkaran itu.
Vans menarik nafas, mencoba menetralkan emosinya. "Makan di kamar saja, aku yang...."
"Kaaa...." protes Asfa dengan mata berkaca.
"Okay. Hati-hati perhatikan jalanmu." ucap Vans mengalah.
Bagaimana Asfa bersikap manja pada Vans, membuat Abhi mengepalkan tangan dan memilih pergi terlebih dahulu. Vans tidak peduli dan merengkuh tubuh Asfa berjalan meninggalkan rumah sakit. Para penonton kembali ke tempat masing-masing tanpa komentar ataupun sorakan.
Abhi berjalan ke taman dan berteriak sesuka hati. Jeritan itu terdengar hingga ke parkiran, langkah Asfa terhenti. "Ka, pindahkan semua di Villa!"
"Tapi, operasi....."
Asfa melepaskan tangan Vans dari pinggangnya. "Trust me, it's the best. (Percayalah padaku, ini yang terbaik.)"
"Okay. Masuk, dan tunggu sebentar di dalam. Aku akan bicara dengan dokter Rio." ucap Vans membukakan pintu belakang.
Asfa masuk dan membiarkan pintu di tutup Vans. Pria itu berjalan meninggalkan parkiran, dan Asfa turun dari dalam mobil. Langkah kakinya berjalan menuju taman rumah sakit. Rumput hijau dengan deretan pepohonan rindang dan taman bunga, menyambutnya. Mata biru itu menelusuri taman dan mencari sosok yang diharapkan.
Aku tidak bisa bersamamu. Bukan karena aku bersalah, tapi karena hidupmu akan berbahaya di dekat ku. Aku janji, akan menjaga anak kita. Berbahagialah, aku harus menghilang dari mu untuk selamanya.~batin Asfa menatap Abhi yang duduk dibangku taman dengan wajah kusut dan mata sendu.
__ADS_1