
Setelah melepaskan jaket dan meletakkan senjata di tempat nya, terpampang penampilan tubuh nya yang bermandikan darah akibat pertarungan kecil dengan lawannya.
Flasback
Setelah Justin mengatakan semua sudah siap, keduanya meninggalkan perusahaan ABF Company dengan menggunakan kendaraan masing-masing. Yah sedari awal Asfa memang menggunakan moge nya saat berangkat dari pondok tempat nya menginap semalam sedangkan Justin menggunakan jemputan mobil yang sudah menunggu nya sejak pagi buta, kedua nya berangkat dengan berbeda arah karena Justin terlebih dulu mengantar bibi Nora ke mansion dan ke perusahaan setelah itu.
Sebuah nama club Diamond terlihat jelas di atas papan nama pinggir jalan V, dimana club itu termasuk club para orang berduit dengan keamanan yang tidak di ragukan namun pemilik club itu adalah piala bergilir bagai pemegang saham yang berarti setiap tahun nya secara pasti akan berubah kepemilikannya. Hari masih siang namun terlihat club itu tidak sepi pelanggan, hingga sebuah moge edisi terbaru memasuki area parkir bersamaan sebuah mobil sport hitam.
Satu pria bergaya maskulin dengan pakaian ala model pantai tiga kancing baju atas terlepas ditambah topeng di wajahnya menambah kan kesan macho nya berjalan berdampingan dengan seorang wanita rambut terikat berantakan berjaket hitam dengan celana hitam sepatu boot nya dilengkapi topeng hitam bersimbol mawar di sudut sana.
Kedua nya melangkah memasuki club dengan gaya para gangster nan berkelas, satu kartu gold sebagai anggota VVIP disodorkan kepada penjaga yang langsung menunduk dan membiarkan tamu istimewa berjalan bagaikan raja dan ratu. Terlihat pelanggan club ini tidak mengenal usia namun tidak ada namanya bermain di tempat terbuka di dalam club ini karena salah satu aturan club harus di taati , jika ingin tenang menikmati surga di dalam club yaitu silahkan bermain sepuasnya tapi ingatlah tempat. Dimana tersedia begitu banyak kamar di bawah sana untuk mereka yang terbiasa menikmati kehidupan bebas, sedangkan di atas hanya sebagai tempat bergoyang dan minum saja.
Kedua nya kini mengikuti seseorang yang sudah sedari awal stand by di dalam, melewati beberapa ruangan hingga terlihat sebuah lift khusus. Ketiga manusia itu memasuki lift menuju lantai dasar dimana tujuan mereka sebenarnya akan datang beberapa jam lagi, lorong demi lorong kamar di lewati hingga terlihat sebuah kamar dengan tulisan honeymoon ada di depan ketiga nya.
"Silahkan queen, duke." ucap orang ketiga dengan membukakan pintu kamar honeymoon itu.
"Selamat datang queen, duke." sambut serempak orang-orang di dalam kamar itu setelah pintu kembali tertutup dengan kunci.
"Hmm. Show me.(Hmm.Tunjukkan padaku.)" perintah Asfa dengan memperhatikan ke arah para pria berotot yang kini mengisi kamar honeymoon itu.
Hanya ada lima orang pria berotot dengan keahlian masing-masing dan kini kelima pria itu tengah menunjukkan kemampuan mereka masing-masing yang membuat kamar honeymoon itu benar-benar menjadi cetar membahana, hampir sepuluh menit kelima pria itu selesai memperagakan keahlian mereka namun terlihat queen mereka masih diam tanpa kata yang membuat hati mereka was-was.
"Good job duke Justin. Let's play, you start boy.(Kerja bagus duke Justin. Ayo bermain, kamu mulai.)." ucap Asfa sembari menunjuk satu pria yang memiliki keahlian meretas CCTV dan berbagai jenis password.
Mengerti apa yang di butuhkan oleh queen nya, tangan pria itu sudah mulai menari dengan penuh cinta menyadap dan meretas CCTV club tanpa harus di curigai oleh pengawas CCTV. Sedangkan ke empat pria lainnya hanya bisa duduk waspada dan menunggu perintah selanjutnya, terlihat queen dan duke Justin masih setia berdiri tanpa bergerak sedikit pun seakan sudah terbiasa menjadi seorang prajurit tempur.
"Queen sasaran terkunci dengan gerombolan kambingnya." ucap pria yang jemarinya menari di atas laptop.
Satu isyarat dari tangan queen nya, Justin mengerti jika rencana segera di jalan kan dimana kini tugas akan terpisah. Terlihat dua pria otot yang sudah mengganti pakaian mereka dengan pakaian seorang waiters dan tiga lain nya menyamar menjadi pria pembisnis yang cukup menawan jika untuk menggoda wanita cabe-cabean.
"Good luck.(Semoga beruntung.)" ucap Asfa sebelum anak buah nya keluar dari kamar.
Kepergian semua pria berotot kini giliran dirinya yang bermain dengan berselancar di atas laptop yang sudah tersedia menggantikan pria otot yang kini menjadi waiters, sedangkan Justin terlihat memberikan pengarahan melalui earphones di telinga nya yang tersambung ke setiap anak buah nya.
Terlihat dari dalam layar rombongan ikan yang datang karena undangan nya, satu di antara rombongan itu ikut mengenakan sebuah topeng putih seakan menyatakan dirinya lah yang menjadi pemimpin. Tapi gadis yang menatap intens layar di depan nya itu hanya tersenyum menggeleng kepala dengan pemandangan ter konyol bagi nya, Justin yang melihat itu menaikkan alisnya karena masih belum menyadari isi fikiran queen nya.
"Are you okay queen?( Apa kamu baik-baik saja queen?)" tanya Justin menepuk pundak Asfa.
__ADS_1
"Hmmm.Sisa kan dia untuk ku." jawab Asfa menzoom satu sosok yang terlihat berbeda tapi paling di perhatikan oleh dirinya.
"Pria culun? Di dalam club? " gumam Justin yang masih di dengar Asfa.
"Don't judge by cover duke, always remember that.(Jangan menilai dari sampul duke, selalu ingat lah itu.)" ucap Asfa memberikan peringatan.
"Sorry queen.(Maaf queen.)" jawab Justin dengan memamerkan deretan giginya.
Keduanya kini hanya fokus dengan apa yang di lakukan oleh gerombolan ikan pancingan mereka hingga waktu menunjukkan pergantian waktu, membuat tubuh lelah karena menunggu kini mulai terisi semangat lagi di saat terlihat gerombolan itu mulai terpisah menjadi dua. Bersamaan dengan ketiga anak buah Justin yang sukses menarik minat gerombolan ikan itu untuk membuat sebuah kerjasama bisnis, terlihat sekitar lima belas orang ikut memasuki sebuah kamar yang baru saja di pesan.
Melihat terjadinya perundingan yang alot membuat jemari queen nya mulai bosan menikmati pertunjukan, hingga suara sepatu boots nya terhentak ke lantai membuat Justin sedikit terkejut.
"Come party.( Ayo pesta)." ajak Asfa menyelipkan pistol di belakang punggung nya.
Justin mengikuti setiap langkah queen nya dari belakang dengan tenang menghanyutkan, tepat di sebuah pintu yang berbeda dengan jarak sepuluh kamar yang menjadi tempat perundingan keduanya berhenti. Diketuk nya pintu dengan perlahan dan seseorang membuka pintu mempersilahkan dua waiters yang membawa minuman dan cemilan bersamaan dengan dua sosok bertopeng yang sudah bersiaga di sisi pintu.
Braaak....
Pintu ditutup dengan keras dengan kunci yang sudah di buang ke wastafel oleh satu sosok bertopeng dengan pakaian pantai nya, pandangan para gerombolan ikan terlihat jelas bingung dan juga kagum. Semua diam menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, terlihat satu sosok yang sudah pasti seorang wanita menyingkirkan satu vas bunga di atas sebuah meja kecil yang ada di sudut.
"Siapa anda? Maaf silahkan anda keluar, kami sedang membahas bisnis. Bukan bermain." ucap salah satu ikan yang terlihat paling tampan di antara ikan yang lain.
"Tidak enak rasanya bermain petak umpet queen, bisakah langsung pada inti nya saja? " ucap Justin yang setia berdiri di samping Asfa.
Bukan sebuah jawaban melainkan sebuah isyarat jemari nya mempersilahkan apapun keinginan mereka dan membiarkan yang lainnya bekerja sesuai aturan mereka. Tanpa menunggu izin atau perintah sebuah senyuman yang tak terlihat kini terbit, dengan langkah tenang nya mendekat ke arah para pembisnis dimana kelima belas orang itu juga mulai membuat benteng pertahanan dengan memasukkan tangan mereka ke jas yang sudah pasti di dalam jas mereka ada senjata api.
"Menyerah atau melawan? " tanya Justin dengan menunjukkan senjata api nya di depan dada.
"Habisi mereka semua!" seorang pria yang terlihat tenang, lugu kini angkat bicara dan membuat ke empat belas orang lainnya sudah mengambil pistol masing-masing dengan wajah tegang.
Proook... proook... proook...
Semua mata beralih menatap wanita bertopeng yang kini sudah berdiri di belakang pria bertopeng dengan senjata, aura intimidasi yang tiba-tiba menyeruak memenuhi pori-pori setiap makhluk yang ada di ruangan itu tanpa terkecuali.
"Seorang pemimpin sejati tidak akan menjadi pecundang!" ucap wanita bertopeng dengan tegas dan berkharisma.
Taak.... (sebuah flashdisk di lemparkan nya ke atas meja)
__ADS_1
"Untuk mu Putra. Peringatan pertama dan terakhir ku." ucap wanita itu sekali lagi dan berpaling dari para wajah yang menahan nafas.
Sliiing... Dooor.. Dooor... pyaaar....
"Queen." seru seorang waiters yang langsung menjatuhkan nampan kaca dengan tumpukan gelas di tangannya.
"Game over!(Permainan berakhir!)." gumam Asfa setelah menghindari dua buah peluru yang terlihat dari sudut mata nya sesaat sebelum membalikkan badan.
Dooor.. Braak... Dug...
Baku hantam akhirnya tak terelakkan membuat kedua kubu terluka namun terlihat jelas kekuatan tak bisa di hitung dengan jumlah, sedangkan kini satu lawan satu tengah terjadi di antara wanita bertopeng dengan pria culun yang memiliki tubuh atletis. Kedua nya memiliki ilmu beladiri yang baik dengan kelebihan masing-masing, namun terlihat jelas jika pria culun itu sudah mengeluarkan seluruh kemampuan nya berbanding terbalik dengan wanita bertopeng yang terlihat masih seperti pemanasan.
Krieeet... Kraaak.. Aarrghh..
"Sssttt! Sampaikan salamku pada boneka mu." bisik wanita bertopeng sambil menekan kunci tangan di leher pria culun itu dengan satu tangan yang sudah di patahkan dalam sekali tarik.
"Sii..aa.. pa.. kaa..u? " ucap pria culun itu dengan susah payah.
"Queen." jawab wanita bertopeng dengan memukul telak belakang kepala pria culun itu.
Terlihat pria culun itu menahan perih dengan kepala yang sudah pasti di hampiri oleh burung berterbangan, tepat disaat tubuh pria culun tersungkur ke lantai, suara tembakan dengan baku hantam juga berakhir. Kamar yang menjadi perayaan warna dadakan, di hampiri nya anggota lainnya yang terlihat masih menyiratkan amarah.
"Duke bawa pria itu ke mansion nya." perintah Asfa dengan melirik pria yang tersungkur di lantai.
"Okay." jawab Justin dengan mengangkat pria dengan berat badan yang cukup menyusahkan dirinya.
"Queen." ucap salah satu waiters yang terlihat masih khawatir meskipun melihat jika queen nya tidak terkena peluru sama sekali.
Tanpa menjawab, langkah Asfa mendekati seorang pria yang pertama kali membidik dirinya dengan keberanian , terlihat pria itu masih memiliki deru nafas meskipun tidak stabil. Dengan satu tendangan kaki nya tubuh pria itu terbalik menghadap ke atap , mata nya masih terbuka dan terlihat darah mengalir dari lengannya dan juga bahunya.
"Say bye.(Bilang selamat tinggal.)." ucap lugas Asfa dengan menodongkan senjata api nya ke kening pria di bawah kaki nya.
Dooor.....
Cipratan darah yang mengenai tubuhnya sangat terasa anyir dengan rasa terbalaskan, bagi nya musuh akan di hargai jika penyerangan dari arah depan bukan belakang seperti pencuri. Tangan nya tidak akan melukai seorang lawan yang masih bisa di ampuni, karena dirinya lebih menyukai menghukum musuh di dalam kawasan Moli hewan kesayangan nya.
Disaat itulah dering ponsel membuat nya mengalihkan sejenak ke dunia lain, satu perintah membuat nya harus bergegas pergi dan membiarkan anak buahnya membereskan sisanya. Dan kini guyuran air shower dingin mulai menetralisir sisa jiwa iblis nya yang baru muncul dua persen, tanpa memperdulikan keributan yang terjadi di luar kamar mandi nya.
__ADS_1