
"Baiklah. Jangan lupa susul aku ke ruangan Vans!"
"Pasti, Hubby ku. Semangat," Sang suster melambaikan tangan mengiringi langkah suaminya yang berjalan meninggalkan tempatnya berpijak.
Abhi hanya mengamati dari sela dedaunan hijau, dan semua percakapan terdengar cukup jelas dan sosok pria yang bersama si suster sangatlah dirinya kenal.
"Apa hubungannya kalian berdua? Mungkinkah, suster itu?" gumam Abhi.
Setelah memastikan pria di depan tak ada lagi. Barulah Abhi keluar dari tempat persembunyiannya lalu berjalan menghampiri sang suster yang masih menatap lorong.
"Ikuti aku!" Suster berjalan setelah mendengar langkah seseorang mendekat.
Keduanya berjalan bersama dengan jarak satu meter. Waktu yang menunjukkan dini hari, membuat suasana rumah sakit tak ubahnya lorong senyap.
Sang suster berhenti di depan sebuah ruangan khusus dengan tulisan Room VVIP, tangannya memutar knop yang ternyata tidak di kunci. Tak lupa melambaikan tangan agar Abhi masuk terlebih dahulu.
__ADS_1
Ceklek!
"Kenapa diam di sini? Pergilah temui Queen!" ujar sang suster menatap pria di depannya yang berdiri mematung dengan tatapan ke brankar dimana Asfa berada.
Ingin mendekati brankar, tapi rasanya kaki pun tak mau di ajak kerjasama. Berat untuk melangkah. Serpihan ingatan seakan mengiringi langkah kaki Abhi. Ucapan tegas penuh kepercayaan saat dirinya mengucapkan janji suci. Senyuman manis dengan wajah sederhana Asfa tergambar jelas di pelupuk matanya.
Andai kamu tahu siapa yang bersalah. Tidak mungkin Queen disini hari ini, tapi siapa yang akan mengatakan kebenaran kepadamu? Semua menjauhimu, dan aku terikat sumpah. Maafkan aku.~batin sang suster mengusap air matanya.
Tangan Abhi gemetar. Pria itu tak sanggup menyentuh wajah separuh hatinya. Meskipun sudah jelas keadaan Asfa seperti patung hidup dengan beberapa alat medis tepat berada di depannya.
Satu nama yang terdengar jelas, membuat Abhi menarik tangannya dari wajah Asfa dan itu mengejutkan sang suster. "Kenapa? Apa kamu masih berpikir jika Queen yang merencanakan semua itu?"
Abhi menatap Asfa tanpa berkedip. Pemberontakan dari dalam hati dan pikirannya seakan tak mau tinggal diam. Jeritan, warna darah, bersama kebisuan menjadi satu.
"Wanita itu bahkan rela tidak tidur berhari-hari demi kesembuhan mu. Dia yang membuat matamu kembali melihat. Bahkan kelumpuhan mu sembuh juga karena dia. Apakah wanita yang sama setelah melakukan segala cara agar kamu kembali hidup normal," Sang suster menghela nafas, "Apakah dia yang merencanakan pembunuhan pada keluargamu, atau?"
__ADS_1
Bruug....
"Hentikan!" Abhi menutup telinganya dengan tubuh luruh kebawah mendengar semua pernyataan sang suster yang mengingat masa lalu tanpa hentinya.
"No! Kamu harus mendengarkan kenyataan hidupmu sendiri. Abhi hidupmu bahkan jauh di bawah hidupnya Queen. Saat kamu buta dan lumpuh justru wanita di atas brankar itu yang siap menghandle semua tanggung jawabmu. Semua dia pikirkan seorang diri tanpa satu keluhan pun. Dia yang kamu benci dan kamu talak begitu saja. Apa yang kamu tahu tentang hidupnya? Tidak satupun. Pengorbanan dia bahkan kamu saja tidak ingat."
"Aku bersyukur dia memiliki keluarga. Jika tidak? Bahkan kamu tidak menengok kebelakang untuk memastikan dia baik atau tidak. Suami macam apa kamu? Dia siap menjadi orang biasa demi keselamatan mu, tapi kamu? Sungguh, kamu orang terbodoh yang pernah ku kenal."
Abhi semakin menutup kedua telinganya. Suara suster seakan tak gentar menyusup menjalar menampar relung hatinya. Bagaikan sebuah flashback kilat. Kenangan awal pernikahan hingga tragedi cafe HighStar bergulir seperti mesin waktu tak berhati. Suara itu semakin memudar berganti dengan wajah manis nan dingin tersenyum ke arahnya.
"Asfa, maafkan aku....,"
Braak!
"Hey!"
__ADS_1