My Secret Life

My Secret Life
Bab 223: DIAM! - Agen J


__ADS_3

Tidak ada jawaban selain anggukan kecil. Aura intimidasi Asfa seperti bius yang memikat wanita itu, dan seperti biasanya. Rencana seorang queen tidak akan pernah gagal. Pasti ada yang berpikir, kenapa Asfa harus menunjukkan identitasnya? Tentu saja setelah mengamati keadaan yang ada, dan melihat setiap perubahan ekspresi Wina. Maka rencana apapun pasti memiliki solusinya sendiri.


Sepuluh menit kemudian.


"Queen! Semua sudah siap. Satu perintah Anda menjadi awal kehancuran pria laknat itu." lapor Justin menghampiri wanita yang bersandar dengan kedua tangannya bersembunyi di balik saku jaket.


Hening.


"Duke! Start!"


Justin tak paham kenapa suara familiar justru menghampiri earphones di telinganya. Sebenarnya apa yang terjadi selama lima menit?


"Jika Queen ditempat lain. Lalu?" Justin mengamati postur tubuh wanita di depannya, dan jelas itu bukan Asfa.


Artinya wanita itu adalah Wina. Kebenaran itu sontak membuat Justin menjambak rambutnya sendiri.


"Hey, jangan jambak rambutmu! Nanti rontok....,"


Justin mengangkat tangannya agar wanita itu diam, seraya mengatur nafas agar tenang. "Jangan banyak bicara. Silent is better!"


"Aku hanya....,"


"Dengarkan Aku, Bu Polisi. Saat ini, kamu menyamar sebagai seorang Queen. Cukup diam, dan ikuti perintahku!" Justin menatap Wina dengan tatapan serius. "Paham?!"


Ketegasan Justin benar-benar tidak ingin di bantah. Orang yang biasanya memberikan perintah di dunia kepolisian. Justru kini harus menerima perintah, tapi satu janji Asfa menjadi pegangannya.


Tidak ada salahnya untuk menuruti apapun perintah pria di depanku. Setelah kupikirkan, tidak mungkin mereka orang biasa. ~batin Wina dengan anggukan paham, membuat Justin menekan earphone nya.


"Queen are you ready?" tanya Justin sebelum memberikan perintah pada pasukannya.


"Ready." jawab Asfa yang kini bersembunyi di atas pohon terdekat sembari mengintai ke dalam markas.

__ADS_1


Kawanan preman dengan senjata lengkap berbaris seperti tengah mengantri sembako. Disisi lain ada mobil truk yang menghalangi pandangannya untuk melihat bagian markas sisi itu, tapi melalui kacamata khusus. Asfa bisa menghitung jumlah pasukan musuh tanpa kesulitan.


"Duke, tahan!" Asfa memberikan perintah, tapi Justin terlanjur mengirimkan pesan pada pasukannya untuk memulai penyerangan.


"What happen? Sniper sudah mode on." tanya Justin penasaran.


Asfa belum sempat menjawab pertanyaan Justin karena dari tempatnya bisa melihat satu persatu penjaga di atas menara tumbang dengan tembakan peluru tepat di kepala. "Terlambat. Lakukan rencana cadangan!"


"Done." jawab Justin, lalu menggandeng tangan Wina agar keluar dari persembunyian mereka.


Tindakan Justin tak terduga, dimana pria itu menutup separuh wajahnya dengan slayer. Kemudian mengunci kedua tangan Wina di belakang. Seperti tahanan saja bu polisi itu. Meskipun terkejut tetap saja tidak ada perlawanan.


Ck. Tidak ada tantangan sama sekali. Bagaimana bisa polisi penurut seperti dia. ~batin Justin dan langkahnya terhenti tepat di depan gerbang markas mafia Dark Cobra.


"Hey, BUKA! Aku temukan penyusup yang mengintai markas." seru Justin mengalihkan perhatian para penjaga gerbang dengan para preman yang berbaris seperti barikade palang merah.


Tak!


Tak!


Tak!


"Siapa kamu?" tanya salah satu penjaga menodongkan senjata melalui celah gerbang.


Justin tersenyum di balik penutup wajahnya. "Aku agen J, tangan kiri Bos. Cepatlah buka gerbang! Sebelum kawanan penyusup menyadari satu rekannya hilang."


Ke empat penjaga saling pandang dengan kode mata untuk memutuskan iya tidaknya membuka gerbang. Hal itu digunakan Justin menarik tubuh Wina agar lebih dekat dengannya seraya membisikkan sesuatu. "Cukup diam, dan aku akan menjamin keselamatanmu. Sampai kita memasuki markas. Pastikan saja bibirmu terkunci rapat! Seluruh wilayah sudah di kepung. Jangan bertindak gegabah! Meskipun hati nurani mu tergugah."


Bukan hanya ingin mengumpat Justin, tapi rasanya ingin menampar mulut yang berbisik tanpa aturan. Siapa pria itu? Berani sekali memberikan tekanan. Seorang polisi yang dengan kemampuan detective terbaik harus diam seperti orang bisu. Haduh yang benar saja?


Pergulatan hati Wina. Sama halnya dengan pergulatan hati seorang pria di dalam markas. Kini luka di tubuhnya bukan hanya satu goresan, tapi beberapa luka sudah memberikan sentuhan cinta. Terlebih pintu di depan saja tertutup rapat.

__ADS_1


"Kurasa nyawaku tidak lagi terselamatkan. Sekarang bagaimana?" Pria itu masih bersiaga dengan pertarungan di sekitarnya.


Sebuah pisau kembali melayang, membuat pria itu melakukan salto ke belakang. Hingga satu langkah lagi hampir saja terkena gergaji yang menyembul.


"ASTAGHFIRULLAH. Hampir saja." gumamnya bersyukur masih selamat.


Perjuangan pria itu hanya seorang diri. Sementara di luar markas masih terjadi keributan, hingga kehadiran satu preman yang membuat para preman lain membuka jalan menuju gerbang.


"Ada apa? Latihan darurat emergency sudah selesai. Kembali ke tempat!" serunya membubarkan para preman lainnya.


"Hey! Apa kalian ini tuli? Kenapa tidak paham penjelasan ku." seru Justin.


Seruan Justin menarik perhatian preman yang baru saja memberikan perintah pada seluruh anak buahnya. Pria itu berjalan menghampiri empat penjaga gerbang.


"Minggir!" titahnya. "Siapa dia?"


"Agen J." jawab Justin tegas.


Tanpa menunggu lama, preman itu maju. Kemudian memasukkan password gerbang. "Masuk!"


,


...----------------...


Hay reader's, Jangan lupa mampir ya di karya othoor yang lainnya. ☺



Karya lainnya juga *Istri Siri Tuan Bryant* *My Psico Wife*


othoor tunggu support kalian 🤭 😌

__ADS_1


__ADS_2