My Secret Life

My Secret Life
Bab 147: Kanker Darah


__ADS_3

Ceklek… (pintu terbuka dan Asfa melangkah keluar Villa)


Asfa menahan pintu. Menatap Zoya dengan ketegasan. "Gunakan malam ini dengan baik! Apapun keputusan mu, aku hanya berharap. Keputusanmu bukan luka untuk papa. Aku rela menjadi gadis biasa tapi jangan berfikir melukai papaku. Selamat malam Zoya Attala."


Langkah kaki Asfa semakin menjauh, sedangkan Zoya masih terpaku di pintu dengan celah seperempat. Ucapan Asfa benar-benar membuatnya dilema, maju kalah dan mundur gagal. Apa bedanya dari kedua jalan itu? Bagaimana dirinya membuat keputusan? Jika kini hidupnya pun diambang jurang kematian.


Tangan kekar menyusup, melingkar ke perut Zoya. Harum parfum maskulin menyeruak masuk ke hidung Zoya. "All will be fine honey."


Zoya menutup pintu, mengusap lengan kekar di perutnya. "Mari kita bicara di balkon. Ditemani secangkir teh cinta."


"Sure. Pergilah terlebih dahulu. Kali ini aku yang buat tehnya." Tuan Luxifer melepaskan pelukan dan membebaskan Zoya dari sandaran dagunya.


Zoya berbalik menatap wajah pria paruh baya yang masih sangat tampan, wajah yang menggetarkan hatinya selama lima bulan terakhir. Ada rasa sakit didalam hatinya namun bibir kelu untuk berkata jujur. Rasanya ingin menangis dan memeluk pria pemilik hatinya dengan kepasrahan. Tapi tangannya tak mampu terangkat.


Tangan tuan Luxifer tergerak mengusap pipi Zoya dengan senyuman manis di wajahnya. Meluluhkan hati keras Zoya, perasaan berkecamuk di dalam hati Zoya semakin membuncah. "Aku ke balkon. Cepatlah menyusul."


Zoya berlari kecil hanya untuk menghindari tuan Luxifer melihat air matanya. Tuan Luxifer tidak memiliki kecurigaan sama sekali, dan memilih bergegas membuat secangkir teh hijau dengan secangkir kopi hitam di dapur.


Langkah Zoya mencapai kamar dengan menahan air mata, tak lupa Zoya mengunci pintu kamar setelah masuk. Kini Zoya mengamati isi kamar dengan nuansa romantis, lampu gantung bintang-bintang betebaran di atas langit. Sesaat Zoya menatap penampilannya di depan cermin besar. "Cinta ini nyata, tapi sanggupkah aku melihatmu terluka? Bagaimana jika aku tidak selamat? Melihat kebaikan putrimu, sungguh aku merasa tak pantas untukmu. Pantaskah gadis penyakitan sepertiku mendampingimu? Apa yang harus aku katakan padamu. Aku hanyalah gadis penyakitan."


Hiks…hiks… hiks…


Tubuh Zoya luruh tanpa daya. Beban dihatinya semakin berat. Setelah kehidupan memberikan kebahagiaan, ternyata takdir mengambil sisa umurnya. Lelehan air mata itu semakin deras, Zoya tidak menyadari berapa lama waktu hanya untuk menangis. Di depan pintu kamar, tuan Luxifer sudah berhasil membuka pintu kamar dengan kunci cadangan.


Ceklek..


Praang… pyaaar….


Nampan dengan dua cangkir minuman berbeda, terjatuh begitu saja. Tatapan tuan Luxifer terkejut. Zoya terbaring lemah di lantai dengan suara isak tangis tanpa henti. Langkah kaki tuan Luxifer bergegas mendekati Zoya, merengkuh tubuh lemas Zoya dengan hati-hati dan cemas. "What happend? (Apa yang terjadi?)"


Zoya hanya mencoba memeluk tuan Luxifer dengan sisa tenaganya, wajah Zoya terlihat semakin pucat dengan make up yang mulai luntur akibat derasnya air mata. "Hey wake up honey! (Hey bangun sayang!)"

__ADS_1


Rasa sakit menerjang dan menjalar dengan cepat, kini kepala Zoya terasa sakit tak tertahankan. Suara tuan Luxifer terdengar samar. Semakin lama pandangan mata Zoya kabur tanpa cahaya. Tangan Zoya tak mampu menggapai pundak tuan Luxifer dan terjatuh begitu saja.


Pluuk…


"Zoyaa…" seru tuan Luxifer panik dan segera mengangkat tubuh lemah Zoya ke atas tempat tidur.


Rasa panik, membuat tuan Luxifer bingung harus berbuat apa. Hingga telinganya mendengar suara langkah kaki mendekati kamar. Rasa waspada mendadak menyergap hatinya. Tapi suara yang familiar, membuat hembusan nafas lega. Suara itu seperti angin sejuk di padang pasir.


"Dad, ikut denganku! Biarkan dokter Hanna memeriksa Zoya." ajak Asfa setelah memasuki kamar bersama dokter Hanna.


Tuan Luxifer mengangguk, apapun yang telah terjadi pasti putri rajanya tahu apa sebabnya. Kini semua kepanikan akan mendapatkan jawaban dari putrinya itu. Kepergian Asfa bersama tuan Luxifer, membuat Hanna menghirup udara bebas. Dan kini tatapan matanya beralih ke wanita diatas tempat tidur. Langkah kaki Hanna terlihat tegas, dengan tangan menenteng tas alat medisnya.


Pemeriksaan dimulai dengan teliti dan hati-hati, sementara Asfa dan tuan Luxifer berjalan menuju tempat terbaik didalam Villa delima. Balkon di lantai teratas dengan lift khusus. Dentingan suara lift terbuka membuat Asfa dan tuan Luxifer masuk, Asfa menekan tombol lantai atas. Membiarkan sang papa merenungi semua yang telah terjadi.


Ting…


"Ayo dad." ajak Asfa mengulurkan tangan kanannya.


Keheningan terjadi selama lima menit,....


"Nak?" panggil tuan Luxifer dengan lembut.


Asfa masih menatap langit tanpa ekspresi dan aura dingin, seperti raga tanpa jiwa. "Zoya mengidap penyakit kanker darah stadium dua. Pertemuan kami tidak sengaja, tapi aku tidak tahu jika papa dekat dengan gadis itu. Hingga Zoya mengajakku berkunjung ke Villa ini, barulah aku sadar siapa Zoya sebenarnya."


"Kanker darah? Bagaimana itu…" ulang tuan Luxifer tidak percaya dengan kenyataan pahit itu.


Asfa memeluk sang papa agar tenang dan berfikir positif. "Kami tengah berusaha. Tapi diagnosa awal harapan hidup Zoya hanya 5 tahun. Sejujurnya, aku sudah meminta Zoya untuk jujur terhadap papa. Tapi rasa takutnya semakin menjadi, setiap kali aku membahas masalah ini. Saat ini aku melanggar janjiku demi kebaikannya. Zoya membutuhkan support papa. Aku siap mengambil alih perusahaan Luxifer. Papa bisa fokus pada Zoya."


Sungguh situasi yang serba salah. Tidak mungkin sebagai seorang ayah, membiarkan putrinya menanggung begitu banyak tanggungjawab dalam satu waktu. Perusahaan RA company, ABF Company, belum lagi masih menangani masalah mafia Phoenix. Putrinya bukanlah mesin, kehidupan rumah tangganya pun baru dimulai.


"Just stay with me. You can take over the company after one year, daddy is still able to become a leader. As long as my king's daughter gave support.(Cukup tetap bersamaku. Kamu bisa mengambil alih perusahaan setelah satu tahun, papa masih sanggup menjadi pemimpin. Selama putri raja ku memberikan dukungan.)" bisik tuan Luxifer dengan mengusap punggung Asfa.

__ADS_1


Inilah hubungan Asfa dan sang papa. Memberikan dukungan dan kepercayaan. Seberapapun jauh rahasia tersimpan, akan ada waktu untuk mengungkapkan. Kemarahan akan berganti dengan pemahaman. Setiap keputusan memiliki pertanggungjawaban. "Fikirkan sekali lagi dad. Aku masih memberikan waktu satu jam."


Pelukan itu terlepas dengan wajah relax keduanya. Satu kedipan mata Asfa membuat senyuman terbit di wajah tuan Luxifer. "Baiklah. Mulailah mengambil tanggungjawab di mafia, perusahaan biarkan papa yang urus. Bagaimana?"


"Setuju. Bagaimana dengan paman Diego?" Asfa menaik turunkan alisnya.


Tuan Luxifer berfikir sejenak. "Pria drama itu? Sudah meminta balik ke habitatnya."


"Hehehe papa inih. Bayangan tidak akan jauh dari raganya. Biarkan paman kembali, atau kirim saja untuk menggantikan Justin. Biarkan Justin bersamaku." tukas Asfa dengan santai.


"No queen. Better you with Diego. Justin with me." jawab tuan Luxifer serius.


Asfa menganggukkan kepala, tidak ingin membantah untuk satu keputusan sang papa. Siapapun yang bersamanya nanti, pasti akan diterima. Selama itu orang kepercayaan sang papa. "Mari kita bicara soal Zoya."


Wajah tuan Luxifer mendadak berubah sendu meskipun sudah tenang. Asfa menghela nafas, tapi tidak ada gunanya untuk menutupi kebenaran. "Esok jadwal operasi tulang samsung belakang Zoya. Kemungkinan berhasil hanya dua persen. Rumah sakit utama sudah menyiapkan semuanya, tapi kita lihat hasil pemeriksaan dokter Hanna bagaimana dulu. Aku tidak bisa memimpin operasi kali ini. Papa tahu alasannya. Apakah papa bisa menemani Zoya?"


"Bukankah Zoya menutupi penyakitnya karena takut papa tahu? Lalu bagaimana papa menemaninya?" Tuan Luxifer menatap langit.


"Dad! Dengan pingsannya Zoya, kita memiliki alasan kuat. Kenapa daddy menjadi seperti remaja?" keluh Asfa memijat pangkal hidungnya.


Sungguh papanya seperti baru terlahir didunia ini. Hal paling masuk akal pun menjadi mustahil untuk sang papa. Ingin rasanya memberikan hukuman tapi rasa hormatnya masih tinggi untuk sang papa. Tuan Luxifer tersenyum dengan deretan gigi putih, seperti anak kecil ketahuan nakal. "Sorry. Istirahatlah, papa akan menjagamu."


Tuan Luxifer menepuk kedua pahanya, agar Asfa tidur di pangkuannya. Asfa mengikuti keinginan sang papa dengan perasaan sudah tercampur jadi satu. Fikirannya bercabang, namun hanya bisa terpendam diam. Usapan lembut tangan sang papa sungguh membuai Asfa. Matanya perlahan terpejam dengan alunan angin yang menerpa.


Cup…


"Mutiara ku terlalu dewasa. Papa harap bisa memberikan kebahagiaan yang nyata untukmu." gumam tuan Luxifer menatap wajah Asfa yang tenang dalam pangkuannya.


Zoya, apa kekuranganku? Masih adakah keraguan di hatimu? Hal terberat dalam hidupmu pun, aku tak berhak mengetahui. Aku tidak akan meninggalkan mu meskipun kamu menolak ku tanpa alasan.~ batin tuan Luxifer memejamkan mata, membiarkan hembusan angin mengusap wajahnya.


Meninggalkan kegalauan tuan Luxifer, di antara deretan pengunjung sebuah club yang tengah menikmati wine dengan berbagai merk. Seorang pria tengah duduk dengan wajah puas, berulang kali tangannya men scrol layar ponsel di depannya. "Damn it! Umpan sudah masuk. Selamat menikmati pertunjukan my enemy."

__ADS_1


__ADS_2