My Secret Life

My Secret Life
Bab 239: Hmmm?


__ADS_3

"Tuan?" panggil Justin tak digubris, justru pintu terbuka lebar. "Apa ada masalah?"


Tak ingin mengambil resiko, Justin meninggalkan pekerjaannya. Lalu memeriksa laptop. "Damn it! Tawanan ku."


Earphones diaktifkan dengan sebuah panggilan ke setiap pemimpin lorong yang otomatis akan langsung tersambung. "Perketat keamanan!"


Setelah memberikan perintah. Justin menyusul Tuan Luxifer meninggalkan ruangan operator. Rumah yang hanya terdiri dari dua lantai dan sebuah ruang bawah tanah. Meskipun dari luar terlihat sederhana. Begitu masuk ke dalam akan tercengang dengan desain modern yang dirancang khusus.


Para penjaga benar-benar memperketat keamanan. Lihatlah sinar laser yang standby. Siapapun yang tidak memiliki tanda pengenal, bisa dipastikan akan terluka. Ntah itu menerima tembakan atau perangkap tersembunyi. Kecuali mereka tahu kode untuk menghentikan senjata mengunci sasarannya.


Di ruangan yang pengap. Sang tawanan meringis menahan rasa sakit di punggungnya. Meskipun berhasil menghancurkan CCTV, bukan berarti dia bisa melarikan diri. Sisa tenaga sudah terbuang sia-sia. Andaikan digunakan untuk memukul pintu. Sudah pasti hanya peot sedikit, atau justru tidak terjadi apapun?


Suara langkah kaki menyusuri lorong dengan pencahayaan minim. Aroma parfum yang menenangkan menyebar, begitu langkahnya terhenti di depan pintu besi dengan kode yang hapal di luar kepala. Jemarinya langsung menekan beberapa angka dan huruf.


"Succes."


Suara dari alat penghubung kode akses mengaktifkan mode buka pintu otomatis. Baru saja kakinya ingin masuk ke dalam, tiba-tiba sebuah tangan menarik tubuhnya seraya pintu kembali ditutup.


Braak!

__ADS_1


"Tuan, apa yang akan Anda lakukan?" tanya Justin bernafas lega karena bisa mencegah Tuan Besarnya memasuki ruangan tawanan.


Tuan Luxifer melepaskan tangan Justin, lalu berganti menatap pria itu dengan tanda tanya. Benar tatapan itu membuat Justin paham. Kenapa ia menahan bosnya sendiri?


"Queen tidak ingin tawanannya tahu dimana dia berada saat ini, sebenarnya Mahendra tidak tahu siapa pengkhianat yang membuat dirinya ditahan dan disiksa." jelas Justin to the poin.


"Tidak masalah kalau CCTV rusak. Masih banyak cara untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam sana." sambung Justin.


"Hmmm. Urus semuanya! Pastikan pengakuan dari mulutnya menjadi bukti. Aku tidak mau nama baik keluarga ku tercoreng karena satu benalu seperti pria....,"


Triiing!


Triiing!


Triiing!


Ntah apa yang dikatakan dari seberang, tapi yang jelas membuat wajah pria paruh baya itu tertegun dengan alis terangkat. Ekspresi dingin menjadi pemandangan yang biasa. Meskipun begitu, sejak kelahiran cucunya Tuan Luxifer lebih lembut dan tidak sekeras dulu. Percakapan selama lima menit berakhir dengan helaan nafas panjang.


"Ada apa, Tuan?" tanya Justin penasaran dan juga was-was.

__ADS_1


"Nothing. Lakukan perintah Asfa. Aku akan pergi, dan pastikan bukti kita dapatkan. Kamu paham?" Jawab Tuan Luxifer yang jelas tengah menghindari pertanyaan sang asisten.


Tak ingin berdebat lebih lama. Akhirnya Justin hanya mengangguk menyetujui permintaan tuan besarnya. Membiarkan Tuan Luxifer meninggalkan lorong rahasia. Begitu punggung sang bos tidak nampak. Barulah fokus teralihkan menatap pintu besi di sampingnya.


"Let's play!" Justin menekan tombol biru lalu tombol segitiga merah di papan password. "Kalian kemari!"


Earphones yang masih menyala berhasil menyampaikan perintahnya.


"Satu...,"


"Dua...,"


"Arrrggghhh....,"


"Done! Nikmatilah hidangan dari ku." ucap Justin.


Suara langkah kaki terdengar lebih dari satu mulai mendekat, membuat Justin menekan tombol putih lalu berlanjut dengan password ruangan tawanan. Apapun yang terjadi di dalam sana, tidak ada yang bisa membayangkan. Cukup suara jeritan kesakitan menjadi bukti penyiksaan.


"Pindahkan dia ke ruang B7!" titah Justin tepat bersamaan dengan penjaga khusus berhenti di sebelahnya.

__ADS_1


"Siap, Tuan." jawab penjaga khusus serempak.


__ADS_2