
Rupanya seperti itu, aku harus turun tangan sendiri. Jangan sampai aku kecolongan karena hal sepele, sudah waktunya memperbaiki kinerja ku dalam mengabdi. Ayo beraksi.~batin Pria itu dan mengirim balasan untuk tetap melanjutkan penyeleidikan, pada si pengirim pesan.
Tok!
Tok!
Tok!
"Duke, ada yang mencari." lapor seorang bodyguard.
Justin meletakkan ponsel kembali ke atas meja, memutar kursi tempatnya duduk. "Suruh masuk!"
Bodyguard mengangguk dan melambaikan tangan ke arah luar, seorang pria dengan permen karet di mulutnya masuk ke ruangan kerja Justin. Satu alis Justin terangkat, untuk apa pria itu datang dengan minta izin. Merepotkan saja. "Pergilah, biarkan Dominic tetap disini."
Bodyguard kembali mengangguk dan keluar, menutup pintu kaca. Dominic berjalan mendekati Justin, pria yang sibuk dengan beberapa file diatas meja itu. Mengacuhkan dirinya. "Apa tidak ada sambutan? Aku datang dengan beberapa berita besar."
Hening…..
"Hello Tuan Justin, are you listening to me?(Hello Tuan Justin, apa kamu mendengarkan aku?)" Dominic melambaikan tangan didepan wajah Justin.
Pluk!
Justin menepis tangan Dominic dari hadapannya. Sekilas melirik pria dengan sikap preman yang sibuk mencari perhatian. "Jika mau bicara, katakan. Jika tidak, keluar saja!"
"Aish, Tuan pemarah. Tidak bisa diajak santai sedikit…."
"Mau santai? Muara buaya atau kandang macan? Tinggal pilih." sela Justin.
__ADS_1
Glek
Ini tidak ada ikatan darah, kenapa semua jadi sealiran dengan Queen ya? Sepertinya kursus para preman tidak bekerja, tidak ada kata santai.~batin Dominic.
Ekspresi wajah Dominic masam dan bibirnya itu sedikit mencebik. "Sudah cukup bicara di hati? Katakan atau keluar."
"Okay, mari ke topik yang serius. Aku selesai melakukan latihan para preman yang diamanatkan oleh Queen, jadi mau diapakan mereka?" lapor Dominic.
"Ada lagi?" tanya Justin.
"Apa boleh aku liburan?" tanya balik Dominic dengan senyuman tipis.
Pertanyaan Dominic, membuat Justin mengalihkan fokusnya dari file yang tengah dipelajari. "Liburan surga atau?"
"Ampun deh, ayolah aku juga manusia…."
Ingin membantah, tapi tatapan Justin siap menerkam dan langkah kaki terpaksa berjalan menuju pintu kaca.
Ceklek
Kepergian Dominic, membuat Justin menyandarkan punggungnya ke kursi. Sedikit memberikan pijatan di pangkal kening. Kelakuan para bawahan selalu ada saja yang mengubah mood dan juga niat hatinya. Justin menarik nafas dalam dan mengeluarkan nafas perlahan selama beberapa saat.
Ponsel diatas meja kembali berpindah ke tangan Justin, mencari sebuah nomor dan mendial icon panggilan. Nada sambung terdengar dan tidak menunggu lama terjawab. "Beberapa hari saya akan mengurus tugas dadakan, tapi perusahaan tidak bisa ditinggalkan. Sementara Dominic meminta liburan. Apa keputusan Tuan Besar?"
[Biarkan Dominic liburan sehari, dan kamu urus masalah yang mendesak. Perusahaan biar aku yang urus, pastikan saja masalah tidak sampai melebar.]-jawab Tuan Luxifer..
"Siap Tuan." jawab Justin.
__ADS_1
Panggilan diakhiri tanpa pembicaraan panjang kali lebar, Justin membereskan file yang berserakan di atas meja. Sementara di tempat lain, sebuah pelukan hangat tengah di nikmati dua insan di atas ranjang ukuran sedang. Tidak ada urat malu, apalagi penyesalan di wajah kedua insan itu.
"Sampai kapan kita berpelukan? Malam semakin larut, aku kedinginan."
Tangan wanita itu terlepas dari pelukan dan menyambar tubuh pria di sampingnya. " Mau gaya seperti apa?"
"As you wish baby." jawab si pria dengan senyuman nakal di bibir.
Tanpa menunggu lama, tangan wanita itu mulai melakukan aksinya menjelajahi tubuh pria di bawah kungkungan dan mulai memberikan kecupan demi kecupan. Bagaikan mendapatkan terapi, tubuh si pria menikmati setiap sentuhan dari si wanita.
Pakaian yang terbang dan jatuh berserakan di lantai, membuat decit ranjang semakin terdengar. Keduanya bekerja sama mencari kenikmatan dengan gaya liar tanpa malu *******, menyesap dan mendesah. Tidak ada lampu yang dimatikan, aktivitas ranjang itu terlihat jelas dari tirai kaca yang sedikit terbuka.
Dari gedung lain, sebuah teropong diarahkan ke kamar panas itu. Kamera yang tersambung dengan teropong merekam semua adegan panas dua insan tanpa ikatan. Senyum kepuasan terbit beberapa orang yang berpakaian layaknya para bangsawan.
"Beneran gila, tidak kusangka ada bajing@n berwajah pahlawan." cetus pria berdasi putih.
Plak!
Satu tepukan keras di kepala menyambar pria dasi putih. "Tidak usah ikut campur, kita bekerja dan fokus itu saja."
"Iya, iya. Tapi rasanya gimana gitu main terobos anak orang, padahal istri dirumah dianggurkan." ujar pria dasi putih.
"Wah kamu itu, kalau istrinya tak dipake. Mau coba? Ya kali, kamu mau digorok mantunya." sahut pria pengamat teropong.
"Sudah, sudah. Berisik. Pastikan setiap bukti kita dapat." ucap pria berjas hitam melerai anggotanya.
Semua hening dan melanjutkan tugas masing-masing, tidak ada lagi perdebatan. Berbeda di dalam kamar mewah di sebuah mansion. Wajah-wajah tegang terlihat jelas, helaan nafas panjang terdengar.
__ADS_1
"Jadi, apa rencana kita?"