
"Gas, ayo bawa ke bangunan utama! Jangan sampai kita terlambat. Buruan!"
Kedua penjaga menggotong pria yang terkapar dalam keadaan kacau menyusuri lorong dengan tiang penyangga yang besar dan kokoh, sedangkan dari arah lain langkah kaki berjalan dengan lemas.
"Pa, biarkan masalah perusahaan aku yang handle." ucapnya dengan tenang, membuat pria yang ada di sebelahnya memberikan tepukan pelan di bahunya.
"Jangan terlalu forsir tubuh dan pikiran mu, Nak. Lagian aku masih sehat, tunggu dulu." Tuan Luxifer menatap dua penjaga rumah sakit utama tengah mengalami kesulitan menggotong seseorang. "Apa yang mereka lakukan?"
Asfa mengikuti arah yang ditunjuk sang papa. Dimana netranya menangkap sekilas pakaian pria yang ia kenali. "Aku akan kesana! Papa keruangan ku saja."
Wajah Asfa yang seketika berubah cemas, membuat Tuan Luxifer penasaran apa yang terjadi. Maka langkahnya mengikuti kemana putrinya melangkah. Hingga tepat menghentikan dua penjaga yang memasuki rumah sakit utama melalui pintu samping.
"Apa yang terjadi? Turunkan!" Asfa memberikan isyarat tangan agar kedua penjaga itu melakukan perintahnya.
Tanpa menunggu apapun, tangannya memeriksa denyut nadi, suhu tubuh dan juga detak jantung setelah tubuh pria yang ia kenal diturunkan dengan posisi bersandar pada salah satu penjaga.
"Cepat bawa ke ruangan pemeriksaan!" titah Asfa bangun, "Suster! Bawa brankar kemari!"
__ADS_1
"Nak?" panggil Tuan Luxifer, membuat Asfa memberikan kode jari meminta waktu lima menit.
Beberapa suster bergegas membawa pria yang terkapar lemah masuk ke dalam rumah sakit untuk segera ditangani. Sementara Asfa masih terdiam di tempat dengan tatapan mata tertuju pada brankar yang mulai menghilang di tikungan lorong depan sana.
"Dia tahu semuanya. Siapa pembunuh bunda, dan siapa papanya." Asfa menghela nafas berat. "Dia juga meminta maaf atas semua yang terjadi. Kenapa semua terjadi tanpa bisa kukendalikan? Pa, apa aku terlalu keras kepala? Aku tidak menyalahkan dia, tapi rasa kecewa ini tidak bisa aku hilangkan."
"Aku takut, bagaimana jika dia tahu memiliki putri dari pernikahan kami? Apa dia akan membawa Rose? Tidak! Rose hidupku, tapi aku sadar dia berhak mengetahui kebenaran....,"
"Sudah cukup!" Tuan Luxifer langsung merengkuh tubuh putrinya. "Calm down! Papa percaya kamu, Nak. Sekarang pikirkan kesehatan Rose terlebih dahulu. Ayo pulang."
Keduanya berjalan meninggalkan rumah sakit. Tujuan yang akan mereka tempuh bukan tujuan awal karena di tengah perjalanan alur jalan berubah. Mobil sport hitam itu menyusuri jalanan hutan dimana hanya ada kegelapan. Sorot lampu mobil menjadi pencahayaan yang diandalkan. Perjalanan selama dua jam berakhir ketika mobil memasuki sebuah gerbang tinggi yang terbuka otomatis.
Begitu banyak penjaga yang siap siaga menjaga setiap titik yang sudah ditetapkan. Jika diperhatikan, para penjaga terlihat seperti bidak catur. Asfa menghentikan mobilnya, lalu mematikan mesin setelah memasuki halaman luas dengan air mancur di tengah.
"Nak, dimana kita?" tanya Tuan Luxifer yang baru pertama kali melihat bangunan istana di wilayah itu.
Asfa melepaskan sabuk pengaman, lalu menatap lembut papanya. "Papa akan tahu, ayo turun."
__ADS_1
"Baiklah." Jawab Tuan Luxifer menuruti ucapan putrinya.
Keduanya keluar dari dalam mobil. Di saat bersamaan pintu istana di depan sana terbuka. Sorot lampu dari dalam membuat beberapa orang yang keluar samar terlihat. Apalagi ada air mancur yang menjadi penghalang. Hingga Asfa mengulurkan tangan agar disambut sang papa.
"Come, Papa akan tahu siapa yang menelponku dan tidak bisa aku tolak." ajak Asfa menuntun papa nya berjalan bersama menuju pintu utama istana.
Bangunan mewah dengan beberapa patung manusia berjejer rapi sebagai pajangan. Seperti tengah mengucapkan selamat datang. Tak kalah mewah dari mansion mafia Phoenix. Sedikit takjub dengan tingkat kesenian yang patut diacungi jempol.
"Indah bukan, Pa. Pemiliknya pun tak kalah dari seorang seniman handal." Ucap Asfa, membuat Tuan Luxifer tersenyum mendengar pujian dari putrinya.
"Seorang Queen memuji? Papa harus berteman dengan siapapun pemilik istana ini....,"
"Jika begitu, mari berteman denganku, Tuan Luxifer." Jawab seseorang yang kini sudah berdiri di depan kedua tamu pentingnya.
Tatapan mata keduanya saling terpaut, senyuman semakin mengembang. Asfa yang memperhatikan semua itu ikut tersenyum.
"Ekhem! Awas jatuh cinta....,"
__ADS_1