
Meninggalkan api yang berkobar di jiwa seseorang, Asfa justru tengah duduk di pinggir jalan tak jauh dari kediaman Arham tanpa ada yang menemaninya. Wajah yang masih tertutup topeng membuat orang-orang yang melihatnya menatap aneh namun tidak ada respon darinya selain diam membisu menatap jalan perumahan yang terbilang sepi.
"Itu," gumam seorang pemuda yang baru saja keluar dari gerbang rumahnya.
Niat hati ingin hangout setelah membuat janji dengan teman lainnya tapi di luar gerbang matanya tak sengaja menangkap sosok yang tengah menjadi buroban gengnya.
Triiing....
Pesan yang masuk membuat pemuda itu turun dari mogenya dan memilih menyebrang untuk menghampiri Asfa, namun sebuah mobil van mendadak muncul dan berhenti di depan Asfa.
"Si@l! Aku kurang cepat, lebih baik ku kejar." keluh pemuda itu dan bergegas menaiki motornya setelah melihat mobil van membawa pergi gadis incaran geng nya.
"Queen, ada penguntit." lapor Zain yang melihat move di belakang nya mengikuti mobilnya sejak keluar dari perum miliknya.
"Alihkan saja!" perintah Asfa dan engan membuka matanya.
"Okay Queen." jawab Zain dan focus dengan menyetir.
Mobil van yang melaju dengan santai hingga pertigaan berubah menjadi melaju dengan cepat tanpa memikirkan keselamatan orang di dalamnya, moge yang awalnya tenang terlihat sedikit oleng di saat mobil van mengubah kecepatan secara mendadak.
Wuuss... wuuss.. wuuss..
Seperti sebuah balapan yang cukup menegangkan hingga sebuah tangan keluar dari jendela mobil penumpang dan meleparkan sesuatu yang membuat pemuda pengendara moge melakukan pengereman mendadak. Sedangkan mobil van melaju dengan kecepatan yang melewati batas meninggalkan pemuda yang mengelus dadanya sendiri.
"Oh **!!*, aku tertipu." gerutu pemuda itu setelah melihat apa yang di buang oleh Asfa.
Hanya sebuah gulungan kertas dan kertas itu tidak adalah kertas kosong, sungguh menjadi pemuda bod0h.
Triiing.. Triiing..
"Okay aku ke markas! Tunggu satu jam lagi." jawab pemuda itu setelah mengangkat telfon dari sahabatnya.
Tanpa di sadari dirinya jika ada yang tengah mengawasi setiap gerakannya, ada penguntit lain yang tujuannya adalah pemuda itu. Penguntit itu masih stay dengan jarak aman dan tetap mengikuti setiap langkah dari pemuda incarannya, pemuda itu melanjutkan perjalanannya ke arah lain untuk menuju markas geng nya.
Bak hutang di bayar kontan, perbuatannya seperti di balas langsung oleh yang Maha Kuasa, dari seorang penguntit dadakan menjadi target penguntit oleh orang lain. Mogenya melintasi jalanan yang cukup padat dengan kendaraan lain, hingga tanpa sengaja hampir menabrak seorang pengemis yang tiba-tiba muncul di hadapan nya.
Ciiiit....
Hampir saja, lebih baik aku pastikan kondisi pengemis itu terlebih dahulu. ~ batin pemuda itu dengan mengelus dadanya sendiri setelah melakukan penggereman dadakan yang membuat pengemis di depan motornya seperti terkena serangan jantung.
__ADS_1
"Maafkan saya, mari saya antar ke rumah sakit." ucap pemuda itu dengan lembut setelah turun dan menghampiri si pengemis.
"Tidak usah nak, nanti pakaian mu kotor. Simbok pulang saja." tolak si pengemis dengan menatap pemuda itu sekilas.
"Si mbok? Mau pulang?" tanya pemuda itu dengan pengulangan kata dan mencoba memahami arti dari simbok.
"Iya nak, ini sudah magrib. Permisi nak." pamit simbok dengan melakukan langkah pertama meninggalkan tempatnya berdiri.
Melihat kepergian simbok membuat pemuda itu goyah, nuraninya mewajibkan dirinya untuk ber tanggungjawab meskipun si pengemis tidak luka meskipun hanya tergores. Tapi di markas sudah ada sahabatnya yang pasti telah menunggunya, dilema di antara dua pilihan sulit.
[Guy's aku harus melihat keadaan simbok dulu baru datang ke markas, lakukan pencarian dulu dengan foto yang ku kirimkan. Okay.] - isi pesan pemuda itu yang langsung di kirimkan ke group gengnya bersama tiga foto yang memang akan menjadi pembahasan geng motornya.
Berselang sepuluh menit akhirnya pemuda itu melihat jika si pengemis memasuki sebuah gang yang menembus ke lapangan dan tanpa menyadari keadaan sekelilingnya, langkahnya tetap mantap dengan niat ber tanggungjawab.
"Itu rumahnya, lebih baik aku membelikan sesuatu dulu baru kembali kesini." gumam pemuda itu setelah melihat dimana si pengemis tinggal.
"Hay Tuan Muda Exo."
Greeb...
"Tidurlah sampai tujuanmu, Tuan Muda Exo yang baik hati."
Sang pengintai telah berasksi dengan menyapa dan memberikan sugesti setelah menyergap targetnya dengan obat bius dosis tinggi, si pengemis yang sudah masuk di sebuah rumah kumuh pun ikut keluar dan mengacungkan jempolnya ke arah sang pengintai.
Meninggalkan aksi penculikan dengan perencanaan matang, di mansion Abhi justru tengah terjadi rapat penting dadakan. Rapat keluarga yang membuat tiga anggota keluarga Bagaskara menatap tajam seorang pria berkacamata yang baru saja memasuki ruangan kerja Abhi.
"Jelaskan semuanya!" perintah Abhi dengan tatapan tajam tertingginya.
"Leon kamu bekerja untuk keluarga kami! Apa kamu lupa itu?" cecar Bunda Aliya dengan tatapan datar.
"Sebelum kami hilang kesabaran, katakan apa yang terjadi!" sambung Tuan Mahendra dengan serius namun masih bisa menahan emosinya.
"Semua adalah keputusannya dan hanya dia yang berhak untuk memberikan penjelasan, anggaplah aku berkhianat. Tapi percayalah semua yang berasal darinya pasti akan menjadi emas murni, meskipun itu adalah sebuah kerikil di tepi jalan." Leon dengan santainya memberikan jawaban dari ketiga boss utamanya yang memberikan tatapan keraguan dan pertanyaan tentang dirinya.
"Artinya kamu akan tetap bungkam? Bagaimana jika aku memecatmu?!" ancam Abhi yang merasa harus memberikan peringatan pada assistantnya itu.
"Silahkan saja." tantang Leon namun tak bermaksud demikian.
"Nak! Percuma, istri mu lebih memberikan keberanian didalam diri Leon. Papa rasa lebih baik kamu tanyakan langsung pada Asfa." cetus Tuan Mahendra dengan menghela nafasnya.
__ADS_1
Sungguh perasaannya semakin waspada, jika Leon saja yang awalnya hanya assistant sederhana dan bisa berubah menjadi sosok yang berbeda seperti sekarang dalam hitungan sebulan kurang lalu apa yang akan terjadi pada putranya. Tangan Bunda Aliya mengusap lengan suaminya agar mendapatkan kekuatan dan kesabaran yang memang harus tetap di jaga, Abhi memejamkan matanya sembari menetralkan pekerjaan di otaknya.
"Sebaiknya tuan Abhi istirahat! Besok pagi semua laporan tentang perusahaan akan kembali ke pangkuan anda dan ingat dua hari lagi akan ada rapat tamu delegasi asing yang kedua." tutur Leon dengan tenang dan jelas.
"What's? (Apa?)" seru Abhi dengan raut wajah yang aneh meskipun tetap tampan.
"Istirahatlah. Saya permisi." pamit Leon tanpa mempedulikan tatapan speechless dari keluarga Bagaskara.
Abhi melototkan mata dengan satu alis terangkat, tuan Mahendra berulang kali menghembuskan nafasnya dan Bunda Aliya mulai merasakan pening di kepalanya.
"Ayo nak biar Bunda antar ke kamar mu." ajak Bunda Aliya setelah memberikan kode agar suaminya tenang.
"Makasih bunda." balas Abhi dengan menampilkan senyuman meskipun senyumannya terlihat hambar.
"Nak, apa bunda bisa minta sesuatu padamu?" pinta Bunda Aliya menatap putranya dengan tatapan penuh harapan.
"Bunda hanya boleh memberikan perintah bukan bertanya seperti ini, aku putra mu. Maka aku milikmu bunda." tutur Abhi dengan meraih tangan bunda Aliya.
"Bunda...."
Tok.. Tok.. Tok..
"Bicaralah kalian, biar aku yang keluar." usul tuan Mahendra dan bangun dari duduknya menuju pintu ruangan kerja.
Ceklek....
"Katakan bunda ingin apa?" tanya Abhi dengan lembut menatap bundanya.
"Belajarlah mencintai istri mu dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Jadilah sandaran tempatnya berbagi keluh kesah dan dukung Asfa seperti Asfa mendukungmu. Ini permintaan bunda." jelas bunda Aliya dengan tatapan penuh harapan untuk putra tercintanya.
"Abhi tidak bisa berjanji, tapi Abhi akan melakukan perintah bunda setulus hati. Sejak Asfa menjadi istri ku, sejak saat itu lah aku menerimanya menjadi sebagian nafas ku." balas Abhi dengan tenang dan serius.
"Bunda akan berdoa untuk kebahagiaan kalian, semoga tidak ada mata jahat yang mengincar kebahagiaan kalian." ucap bunda Aliya yang terkesan menusuk.
Ntah apa yang terjadi hingga membuat bunda Aliya sangat sensistif perasaannya, membuat Abhi harus menahan emosi di dalam dirinya.
"Ayo bunda antar Abhi ke kamar." tukas Abhi mencoba mengalihkan fikiran bunda Aliya yang pasti tengah travelling.
"Ayo nak." balas bunda Aliya.
__ADS_1
Sedangkan di mansion Asfa, dikamar gelap langsung menjadi terang benderang dan kamar yang sudah seperti kapal pecah menyambut kedatangannya. Dengan langkah pelan menyusuri bola-bola kertas yang berserakan di segala arah. Dengan sekali putaran knop pintu kamar mandi terbuka, harum aroma therapy bunga lavender menyeruak masuk ke hidungnya.
"Aku tidak akan memaksa mu untuk melakukan permintaan ku, tapi fikirkan sekali lagi. Semua keputusan ada di tangan mu Varo." ucap tuan besar yang langsung memasuki telinga Alvaro yang tengah menenggelamkan tubuhnya di dalam bath tub.