My Secret Life

My Secret Life
Bab 255: HARI BERSEJARAH


__ADS_3

Satu tembakan tanpa suara menembus dada Mateo. Tidak ada jeritan lagi, tetapi jelas pria itu menahan sakit yang jauh lebih menyiksa. Tanpa Asfa sadari, saat ia sibuk memberikan hukuman pada musuh keluarga besarnya yang menjadi penyebab hidup tanpa seorang ibu. Mahendra diam-diam mengambil senjatanya. Senjata itu diarahkan tepat ke mantan menantu.


"Mati menantu s!alan," kata Mahendra menarik pelatuknya.


Peluru yang tertuju ke arah Asfa membuat Justin bersiap menghadang. Akan tetapi, tubuhnya terlalu lemah dan tidak bisa bangkit karena kehilangan banyak darah, sedangkan Asfa masih blum menyadari. Detik-detik dimana peluru itu siap menembus. Tubuh sang queen terdorong ke sisi lain. Tubuh pria dengan kursi yang terikat menggantikan posisinya menerima amukan senjata Mahendra.


"ABHI!" Asfa berteriak terkejut dengan tubuh mantan suaminya yang harus mengorbankan diri untuk menyelamatkan dirinya, sementara itu Mahendra kembali menarik pelatuk.


Sontak saja, Asfa membalas dengan tembakan beruntun. Peluru yang langsung menembus dada, perut dan juga lengan mantan mertuanya membuat pia paruh baya di depan sana terjatuh bersimbah darah, begitu juga dengan Abhi yang harus menahan sakit.


Tanpa kata, ia melepaskan tali yang mengikat tubuh Abhi. Kemudian menyingkirkan kursi dan langsung merengkuh tubuh sang mantan suami. Warna merah yang mewarnai kemeja dengan wajah pucat membuat Asfa khawatir. Pria yang tidak mengenal dunia gelap harus mengalami insiden seperti ini hanya karena permusuhan keluarga.


"Hey, bertahanlah." kata Asfa seraya menepuk pipi Abhi agar tetap membuka mata, melihat kekacauan semua itu Justin tak mempedulikan rasa sakitnya dan berdiri lalu berjalan menghampiri queen yang dilanda kecemasan.


"Queen, Aku akan bawa Abhi ke rumah sakit," ucap Justin mengambil alih tubuh Abhi.


Asfa menganggukkan kepala tanda setuju, "Cepatlah! Aku, akan mencari Ka Varo."

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya seseorang dengan langkah kaki yang baru saja sampai memasuki ruangan insiden.


"Papa!" seru orang itu menatap tubuh bersimbah darah di depannya.


Sesaat ada rasa sakit. Akan tetapi ia tahu itu adalah hasil dari perbuatan jahat sang ayah kandung. Pria pecandu alkohol yang siap menghancurkan musuh demi kepuasan sendiri. Di sisi lain, pria paruh baya yang ia kenal sebagai mantan mertua sang adik juga sudah terkapar dengan kondisi tak kalah mengenaskan.


Maafkan, Aku, Pa. Dunia ini akan damai setelah satu monster seperti mu binasa. ~batin Varo, lalu berjalan menghindari tubuh yang tak lagi bernyawa menuju Asfa, Justin dan seseorang yang tertutupi tubuhnya.


"Queen...," panggil Varo terhenti ketika dengan mata kepalanya sendiri melihat Abhi di dalam pangkuan sang adik.


Hari ini adalah hari bersejarah. Dimana Abhi menjadi korban permusuhan yang Mahendra dan Mateo miliki. Balas dendam karena rasa iri, ego yang tinggi, dan menyangkut kekuasaan telah berakhir. Suara roda brankar di lorong rumah sakit menjadi saksi proses penyelamatan nyawa sang mantan suami.


"Queen, apa kamu serius mau melakukan semua ini?" tanya Justin yang baru saja selesai mendapatkan perawatan.


Wanita dengan wajah dingin penuh ketegangan menghela nafas panjang. Ia tengah menatap ke dalam ruangan melalui jendela kaca bening. Dimana di ruangan itu ada tubuh Abhi yang menunggu jadwal operasinya.


"Aku berhutang nyawa, dan dia ayah dari putriku. Bukankah itu alasan yang cukup?" Asfa berbalik, lalu mengalihkan tatapan mata dimana jas putih tersampir di kursi kerjanya, "Apa gunanya kepintaran dan keahlian ku? Jika aku tidak berusaha memberikan pertolongan pada Abhi. Jika takdir mengijinkan, aku berdoa agar hidupnya kembali."

__ADS_1


Justin mencerna semuanya tanpa memberikan keluhan. Kenyataan tak bisa diubah, pria yang membutuhkan operasi darurat telah menyelamatkan queen. Maka kewajiban untuk memberikan pertolongan yang terbaik, tidak bisa diganggu gugat. Disaat yang sama, Varo datang dengan pakaian dokternya. Kode mata sang tuan muda, membuat Asfa memejamkan mata sesaat.


"Duke, kabari Ka Vans. Aku tidak mau membuatnya khawatir," kata Asfa dengan langkah menghampiri kursi kerjanya, lalu menyambar jas putih yang langsung ia kenakan.


"Ayo, Ka." ajak Asfa tak lupa mengambil hasil laporan medis milik Abhi.


Kepergian Asfa dan Varo, membuat Justin menatap ke depan. Pria yang terbaring dengan alat bantu pernafasan masih setia memejamkan mata. Tiba-tiba saja semua kenangan masa lalu menghilang berganti doa yang tulus dari hatinya sebagai seorang kakak.


"Terimakasih telah menyelamatkan Asfa. Aku berdoa agar Allah memberikanmu kesempatan untuk menjalani kehidupan ini sekali lagi. Apapun yang sudah terjadi, pengorbananmu jauh lebih berarti."


Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa jam berganti hari dan hari berganti bulan. Hari yang telah berlalu masih setia menjadi kesedihan masa kini. Hembusan angin yang bermain dengan tirai putih menjuntai, tak membuat penghuni kamarnya bergerak dari posisinya saat ini. Netra biru yang setia menatap langit malam dengan tubuh yang terbaring di atas ayunan panjang.


"Queen, sampai kapan kamu menyendiri?" tanya Varo yang berdiri di depan pintu balkon kamar Asfa.


Hening!


"Queen Asfa Luxifer!" panggil Varo tegas menahan rasa geram dan cemas terhadap perilaku sang adik yang terlalu pendiam selama satu bulan terakhir.

__ADS_1


__ADS_2