
Dengan lembut Abhi merengkuh kedua tangan Asfa. Menatap dalamnya lautan biru di mata Asfa, agar menenggelamkan mata biru miliknya. "I love you Asfa. I'm ready to sacrifice.(Aku mencintaimu Asfa. Aku siap untuk berkorban.)"
Niat mu, hanya kamu yang tahu. Jangan salahkan aku menjadi iblis, cinta apa yang membawamu padaku? Kuharap kamu bertahan dalam badai duniaku.~ batin Asfa memberikan senyuman termanisnya.
Senyuman yang mampu melumerkan hati Abhi.
"I want you, take me away from here tomorrow morning!(Aku ingin kamu, membawaku pergi dari sini besok pagi!)" ucap Asfa.
Alis Abhi terangkat, hanya meminta pergi dari Villa? Tapi kenapa yang diminta Asfa hal sesederhana itu? Bukankah tinggal pergi saja? Sepanjang mata memandang, banyak heli terparkir di setiap sudut.
"Apa hanya itu?" tanya Abhi memastikan.
Asfa mengangguk. Sorot mata biru yang serius dan tenang. Tanpa Abhi sadari, jika permintaan sederhana Asfa adalah hal tersulit untuknya.
"Okay. Aku jan.." ucap Abhi.
Asfa membungkam bibir Abhi dengan cepat, membuat mata Abhi melotot. "Lakukan saja! No need promise.(Lakukan saja! Tidak perlu janji.)"
"Now, leave me alone!(Sekarang, tinggalkan aku sendiri!)" titah Asfa melepaskan tangannya.
"Never!(Tidak akan pernah!)" jawab Abhi menyedekapkan kedua tangan didadanya.
Sikap Abhi perlahan mendominasi, membuat Asfa memilih diam. Membiarkan hubungan tanpa nama itu mengalir dengan sendirinya. Hingga waktu dimana semua kebenaran terungkap, kebenaran akan hubungan tidak sah keduanya.
Satu jam berlalu,...
Asfa memilih memejamkan mata. Menikmati hembusan angin dengan merebahkan tubuhnya diatas rerumputan hijau. Abhi hanya mengikuti apa yang dilakukan Asfa, keduanya seperti sepasang kekasih tanpa emosi.
__ADS_1
"Boleh aku tanya sesuatu?" ucap Abhi mengakhiri kebisuan.
Asfa tetap diam tanpa membuka mata, membuat Abhi memiringkan tubuhnya. Memandang Asfa, sungguh wajah istrinya seperti candu. Menelusuri setiap inci wajah Asfa. "Sempurna."
"Apakah kamu bosan melihat?" tanya Asfa dengan dingin membuka mata.
Mata biru yang sama, seperti menatap cermin. "Kenapa kamu selalu dingin? Apa tidak bisa manis seperti sebelumnya?"
Tidak ada kedipan mata. Asfa memperdalam tatapannya. Membiarkan Abhi menyelami kedalaman jiwanya. "Maka tarik permintaanmu!"
"Jika ini tentang mu, maka aku rela menjadi penghangat didalam kebekuan mu. Tapi jangan pernah memintaku pergi darimu!" tutur Abhi mengayunkan tangannya.
Asfa menahan tangan Abhi. Tangan yang siap menyentuh pipi mulusnya. "Jagalah jarak! Ini untuk kebaikanmu."
"Kebaikan ku? Atau kebaikanmu?" sindir Abhi.
"Ekhem!" deheman seorang pria membuat Abhi menoleh ke arah suara.
"Waktunya makan siang. Ayo masuk!" ajak Alvaro dan melangkahkan kembali menuju Villa.
Tanpa menunda, Asfa bangun dari tempat ternyamannya dan mengikuti langkah Alvaro. Sedangkan Abhi hanya bisa menghela nafas, mengikuti jejak sang istri.
Seperti keinginan bunda. Abhi akan berjuang, siapapun Asfa. Akan kupastikan Cinta ku cukup untuk kami berdua.~ batin Abhi.
Berbeda dengan Asfa, dimana fikiran Asfa di penuhi dengan rencana dan rencana. Tidak ada cinta yang mengalir didalam hati Asfa, kini tujuannya hanyalah melindungi keluarga. Abhi dan Asfa bagaikan hati dan otak, keduanya memiliki tujuan masing-masing.
"Nak Abhi, ayo duduk." ucap Nenek Ara menunjuk bangku kosong di samping tuan Luxifer.
__ADS_1
"Nana, kamu duduk sebelah nenek!" titah Nenek Ara, menghentikan langkah kaki Asfa dan berputar haluan.
Tidak ada yang berani membantah nenek Ara, suasana seperti tenang namun panas. Makan siang berlangsung dalam keheningan. Hanya ada suara sendok berdenting sesekali, Rania yang biasa ceria dan banyak bicara pun. Kali ini bibirnya seperti terkunci.
"Maaf sebelumnya, saya meminta izin untuk pulang ke kota dan sekaligus membawa Asfa." tutur Abhi tanpa melihat situasi.
Tiing.. (Sendok nenek Ara terlepas kasar)
Ditatapnya Abhi dengan tajam. Suasana berubah menjadi tak nyaman. "Nek. Ayo kita bicara!"
Asfa memilih menyelamatkan Abhi. Bukan saatnya Abhi menghadapi nenek Ara, jika menghadapi dirinya saja masih sangat tertekan. Bagaimana akan menghadapi nenek Ara.
Dengan kepergian Asfa dan nenek Ara dari ruang makan, membuat Alvaro menghela nafas lega. Sedangkan tuan Luxifer memilih meninggalkan meja makan dan menyusul putri rajanya.
"Apa kamu tidak pernah mendengar The Mafia Phoenix?" tanya Alvaro menatap Abhi serius.
Sejenak alis Abhi menyatu, dan kembali normal dengan gelengan kepala. Membuat Alvaro tersenyum sinis, Rania yang mengamati bagaimana perangai suaminya hanya bisa bergidik ngeri.
Suamiku persis seperti tokoh pemeran antagonis. Rania sepertinya jodohmu tertukar.~ batin Rania.
"Tidak perlu membatin, dengan bibir manyun seperti itu." sindir Alvaro melirik Rania yang langsung membungkam mulutnya.
"Bagaimana kamu tahu?" cicit Rania hampir tak terdengar.
"Siapa itu The Mafia Phoenix?" tanya Abhi dengan serius.
Alvaro terdiam sejenak. Menimbang apa yang akan diceritakan pada Abhi. Tapi satu hal pasti, hanya Asfa yang berhak mengatakan semua jati diri keluarga Phoenix pada Abhi. Alvaro menghela nafas. "Aku tidak bisa mengatakan apapun padamu. Bersabarlah. My doll akan mengatakan disaat yang tepat."
__ADS_1
"Apa kalian keluarga misteri? Tidak kamu, tidak Asfa. Sama saja membuat ku tenggelam dalam pertanyaan tanpa jawaban." tukas Abhi menggelengkan kepala.
"Terkadang apa yang kita lihat hanyalah topeng, anda pasti akan terkagum dengan Queen. Itu pasti." ucap Rania yang tidak rela , queennya di ragukan.