
Kejujuran Clovis membungkam pasukannya, tanpa membantah lagi. Satu persatu pasukan itu membubarkan diri untuk masuk ke dalam truk yang ternyata tidak ada muatan apapun. Sementara di dalam markas Agen J baru saja berhasil membujuk Tuan Mahendra untuk meninggalkan markas bersamanya melalui pintu lain yang hanya diketahui pria paruh baya itu, sedangkan Wina ditinggalkan dalam keadaan terikat di kursi menunggu kehancuran markas Dark Mafia.
S!al kenapa aku harus percaya mereka? Lagian apa pengaruh topeng itu? Mana pria model hanya membuatku jadi umpan. Aaahhh s!al benar-benar s!al. ~ batin Wina seraya berusaha melepaskan talinya.
Langkah kaki tak bersuara memasuki markas. Siapa lagi jika bukan Asfa. Ia menghampiri detective wanita yang terikat di kursi, dan dari ekspresi wajah sudah jelas tengah kesal. Umpatan di dalam hati tak mungkin dipungkiri meminta keadilan. Bagaimana usaha Wina untuk melepaskan tali yang mengikat tubuhnya, membuat Asfa terhenti sejenak memperhatikan cara seorang detective melepaskan diri dari jeratan.
Lima menit berlalu, tapi Wina masih kesulitan melepaskan tali yang mengikat kedua tangannya. Hal itu membuat Asfa mendekati wanita itu dan berhenti dengan jarak dua meter. "Jika caramu seperti itu, bukannya lepas. Tanganmu bisa berdarah."
"Emmmptt." jawab Wina yang mulutnya di lakban.
Asfa mengangkat tangan kanannya agar Wina tenang. "Listen me. Relax! Jangan buat dirimu tegang, putar balik tanganmu, peganglah kursi, lalu dorong sandaran kursi mu dengan kuat. Waktumu lima menit! Jika aku kembali, kamu belum lepas. Akan kukatakan cara lain agar kamu terlepas."
Setelah mengatakan sarannya. Asfa mengalihkan perhatiannya ke seluruh ruangan markas mafia Dark Cobra. Dari satu sudut ke sudut lain. Tidak ada yang terlewatkan. Helaan nafas dalam menjadi jawaban.
Pintar juga dia, kupikir hanya bisa menjadi seorang pengkhianat. Ternyata memiliki selera desain yang bagus. ~batin Asfa setelah memahami pola garis di dinding.
Asfa berjalan mendekati Wina yang ternyata sibuk menatap dirinya. Tanpa permisi, tangannya mengambil sebuah pisau lipat di jacket yang dikenakan detective itu, lalu memotong tali yang mengikat tangan Wina. Kini tatapan keduanya saling beradu. "Kita tukar tempat!"
"Tunggu." Wina menahan Asfa agar diam di tempat, tentunya setelah lakban di lepaskan. "Siapa kamu sebenarnya?!"
Pertanyaan Wina hanya di jawab tatapan dingin beraura intimidasi Sang Queen. Hal itu membuat ia menelan ludahnya dengan kasar. "Apa kamu istri tuan muda keluarga....,"
__ADS_1
"Shuuut!" Asfa meletakkan jarinya di depan bibir agar Wina diam. "There is no time to explain. Hurry up! We have to exchange places back." (Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Cepatlah! Kita harus bertukar tempat kembali.)
Gleek!
Wina tidak bisa membalas, apalagi berpikir jernih. Intimidasi Asfa jauh lebih memberikan efek dibandingkan intimidasi pimpinan aparat pemerintah. Diamnya wanita itu menjadi persetujuan.
Setengah jam kemudian.
Tok!
Tok!
Tok!
"Bagasi mobil." jawab pria di kursi supir.
"Pergilah ke markas! Aku akan menyusul." titahnya seraya memakai topeng hitam dengan langkah menjauh dari samping mobil.
"QUEEN!"
Seruan sang sopir tidak ditanggapi, membuat pria itu keluar dari mobil lalu berlari menyusul pemimpinnya. Baru saja melangkah beberapa jengkal. Suara ledakan terdengar begitu keras memekakkan telinga. Hingga tanah pijakan pun ikut bergetar. Tubuh pun ikut bergoyang-goyang.
__ADS_1
"Hitungan mundur belum dimulai. Siapa yang memulai pembasmian? Mungkinkah Queen?" gumamnya seraya menatap ke arah langit, benar di atas sana ada percikan kembang api dan diselimuti kepulan asap hitam.
Fokusnya teralihkan. Begitu kembali melihat ke depan. Jejak Queen sudah tidak nampak. Tatapan mata menyusuri ke seluruh penjuru. Namun, tidak di temukan makhluk mungil yang selalu bermain petak umpet.
"Tuhan, bisakah buat aku lebih pintar dari Queen? Kenapa nasibku selalu ditinggalkan. Jangan marah, aku hanya tidak mau terjadi apapun pada kesayangan Phoenix." racaunya berbalik, lalu berjalan kembali ke mobil melakukan perintah pemimpinnya.
Kepulan asap dengan kobaran api masih menyala menambah hawa panas di tengah puing-puing. Beberapa langkah mulai memasuki kepulan asap. Semua berjalan mengikuti irama wanita di barisan depan. Jemarinya mengarahkan pasukan terbagi menjadi dua bagian yaitu satu ke selatan dan satunya lagi ke utara.
Tak ada kata yang terucap. Hanya ada bahasa isyarat, dan semuanya terpisah. Wanita itu memilih menjelajahi puing-puing seorang diri. Langkah kaki diperhitungkan agar selamat dari benda-benda tajam di sekitarnya. Hingga di satu titik yang sudah ditandai. Ia berhenti seraya mengamati lantai di bawah kakinya.
"Let's open your secret." (Mari kita buka rahasiamu.)
...----------------...
***Pagi Readers, maaf ya othoor gak up dua hari. 🤧
Kepala rasanya sakit banget, gak bisa fokus buat nuis. 😭
Makasih yang stay, jangan lupa support kalian ya😍
Happy Reading reader's 📖***
__ADS_1