My Secret Life

My Secret Life
Bab 125: Tak berakhlak


__ADS_3

Permulaan hubungan yang unik antara Alvaro dan Rania, namun di tempat lain tengah terjadi perang mata. Mata dengan warna iris sama tengah berperang dalam diam, seakan dengan diam akan menyelesaikan masalah.


Tok... tok... tok...


Ceklek...


"Permisi, ini yang anda minta."


"Taruh saja di meja!"


"Leo! Kabari Justin, meeting 2 jam lagi!" perintah Asfa.


Abhi terkejut dengan keputusan Asfa. "Apa! Leo, jangan ikuti kemauan istriku."


"Maaf Pak. Tapi saat ini, saya resmi menjadi assistan Duke Justin." Leo memilih berbicara jujur.


"..."


Asfa mengibaskan tangan kanan dan Leo menyingkir meninggalkan perang pasangan suami istri itu. Tentu sebelum boss Abhi menerjang dirinya dengan berbagai jenis senjata pertanyaan kritis.


"Apa kamu tahu! Tamu delegasi asing bukan lagi wakil yang akan menghadiri meeting, tapi pemilik perusahaan langsung. Dan," jelas Abhi yang terhenti karena wajah Asfa hanya datar, dingin tanpa ekspresi.


Wajah mungil yang terbiasa manis kini berubah menjadi sosok lain. Mata biru tajam dengan lekukan alis tipis panjang sempurna. Bibir tipis merah muda tanpa pewarna, sungguh membuat jiwa pria di dalam raganya meronta.


Sadar kamu! Kenapa otakku travelling kemana-mana. Jantung tenanglah.~ batin Abhi dengan rasa cenat-cenut di ubun-ubun.


"Ekhem!" dehem Asfa.

__ADS_1


"Eh. Apa kamu memanggilku?" tanya Abhi salah tingkah.


Bukan jawaban yang di dapat. Tapi alis kanan Asfa terangkat, membuat rasa malu menghampiri hati Abhi. "Tidak ya? Baiklah kembali ke topik awal."


"Stop! Your time just one hours. Take it. For learn proposal.(Berhenti! Waktu Anda hanya satu jam. Ambillah. Untuk pelajari proposal.)" tukas Asfa dan memejamkan mata dengan tubuh bersandar di kursi kerjanya.


Asfa menaruh jari telunjuk kanan di depan bibir. "Don't more argument!(Jangan lagi argumen!)"


Apalagi yang bisa dikatakan seorang suami? Ketika istri memiliki tingkat kepemimpinan lebih! Aura intimidasi dengan tekanan jiwa, meskipun nada lembut tetap saja seperti Skakmat.


Dalam diam Abhi memandang Asfa, berkas pun terabaikan. Hanya Asfa yang menyita perhatiannya.


Wajah mungil, bibir manis yang sexy, hidung mancung, mata sipit dengan iris biru, alis tipis sempurna, bulu mata lentik dan dagu yang menawan. Rambut hitam panjang dengan surai kemerahan, kulit putih mulus tanpa noda. ~ batin Abhi dengan kedua tangan menopang dagu.


"Jika matamu ingin buta! Katakan saja! Aku bisa membuat mu buta lagi." celetuk Asfa dengan santai tanpa membuka mata.


Bagaimana tidak emosi jika seorang istri berbicara sangat bar-bar bahkan melebihi bar-barnya anak sekolah jaman sekarang. Asfa hanya mengabaikan Abhi, membuka mata dan bangun dari tempat duduknya.


Langkah kaki Asfa terhenti ketika mencapai pintu. "Ingatlah permintaan mu. Apakah aku harus bersandiwara? Sudah ku katakan. Jangan Menyesali Permintaan Mu!"


Ceklek...


Mata Abhi sempurna membola dengan bungkaman tangan dibibir, telinganya harus segera diperiksa. Bukan hanya telinga tapi juga kesehatan jantung, belum lagi tekanan darah.


"Apa dia istri mungilku?" cetus Abhi dengan berjuta rasa tak terhingga.


Bukan jatuh cinta tapi shock dengan istri dingin bak kutub utara, datar bak bulan tanpa bintang. Bersyukurkah? Asfa mengabulkan permintaan paten dari hatinya, tapi sungguh diluar imaginasi. Jika istri mungil yang manis melebihi Raja hutan yang terkenal garang.

__ADS_1


"Siapa kamu? Apakah pesan itu benar adanya? Bagaimana aku tahu, mana yang benar dan salah. Aku menerima kamu apa adanya. Tapi takdir mempermainkan ku." desah Abhi.


Abhi masih berkutat dengan perasaan. Sedangkan Asfa memilih mengunjungi kedua mertuanya.


"Apa kalian tahu arti kepercayaan?"


Suara Asfa membuat Tuan Mahendra menghentikan aktifitasnya. "Nak! Apa maksud dari ucapanmu?"


"Apa harus aku tunjukkan?" Asfa menyedekapkan kedua tangan di depan dada.


Bunda Aliya memasuki ruangan khusus milik Tuan Mahendra. "Nak, kapan kamu kembali?"


"Jangan ulangi kesalahan kalian! Aku bukan dewi kebaikan. Ingatlah itu." tukas Asfa dan pergi meninggalkan kedua mertuanya yang saling pandang dengan mata cemas dan takut.


Seperti orang yang ketahuan mencuri. Tuan Mahendra dan Bunda Aliya berbagi tatapan mata khawatir, ucapan Asfa tidak terdengar seperti candaan. Ketenangan dalam mata biru Asfa mampu membius lawan.


"Pa, bukankah bunda sudah bilang.." cicit bunda Aliya.


Tuan Mahendra menghampiri istrinya. Memberikan dukungan dengan sebuah pelukan hangat. "Jangan khawatir. Abhi tahu jalan terbaik untuk masa depannya. Kita hanya perlu mendoakan kebahagiaan putra kita."


"Semoga, Ameen." jawab bunda Aliya.


Ketegangan seakan tersebar disetiap langkah Asfa. Orang-orang disekeliling Asfa mulai merasakan aura tak berhati, namun tidak dengan pria yang mengikuti langkah Asfa. Senyuman manis pria itu bukan patah, tapi semakin terkembang sempurna.


"Bagaimana jika bibir mu, ku museum kan?" tanya Asfa tanpa memandang pria yang setia menjadi ekor.


Pria itu hanya diam tanpa menjawab dengan langkah tanpa keraguan.

__ADS_1


__ADS_2