My Secret Life

My Secret Life
Bab 220: Sang Bos - Sang Sopir


__ADS_3

Tidak panas, kok. Eh salah, harusnya 'kan kening bosku." Pemimpin preman mendekatkan tangannya berniat memeriksa. Apakah bosnya sehat walafiat, tapi satu tepukan kasar mengejutkan. "Bos, sakit."


"Mau ngapain, HAH?!" seru sang boss mendelik tajam.


Pemimpin preman menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku pikir bos kesurupan....,"


Plaaak!


Satu tamparan mengenai pipi pemimpin preman. Bukan dari bosnya, tapi seorang wanita yang ntah sejak kapan berada di dalam markas dan memberikan hadiah manis ala bos besar.


"Kanza! Ngapain kamu disini?" tanya sang bos beranjak dari tempat duduk, lalu menghampiri wanita simpanannya dengan satu rengkuhan berlabuh pada ciuman singkat keduanya.


Pemimpin preman memilih undur diri tanpa kata. Bukan karena cemburu, tapi kehadiran Kanza membuat rasa muaknya kambuh. Siapa yang tidak tahu wanita penjilat itu? Wanita yang selalu nemplok pria secara bergilir, tanpa mengenal lelah apalagi bosan.


Ck. Ck. Kenapa wanita rubah seperti dia hidup sih?! Mati aja biar dunia lebih tentram dan bebas dari sampah. Huft, menyebalkan.~batin pemimpin preman seraya membanting pintu besi.


Braak!


"Dasar pria kurang ajar! Berani sekali dia bertindak seperti itu? Sayaaang, kapan sih, kamu mau depak dia dari mafia kita?" Kanza bergelantungan manja dengan jari jemari yang bermain mengusap dada pria di depannya.

__ADS_1


Sang bos mengernyitkan kedua alisnya menatap Kanza tajam. "Clovis? Dia tangan kanan ku! Jangan berpikir yang bukan-bukan. Lagipula, sejak kapan MAFIA KU jadi MAFIA KITA?"


"Maksudku....,"


"Jangan bermimpi, Kanza! Bagiku, kamu hanyalah pemuas ranjangku. Tidak lebih." Sang bos menangkup wajah Kanza seraya memperdalam tatapan matanya. "Ingatlah hal itu selalu! Tempatmu hanya di atas RANJANG bukan di sisiku sebagai PENDAMPINGKU."


Deg!


Ucapan penegasan sang bos tentang posisinya yang hanya sebagai pelampiasan hasrat. Terasa menghantam hati, bagaikan palu yang dilayangkan tepat sasaran. Wanita itu tersenyum manis. Rasa sesak di dadanya dengan gemuruh panas yang bergejolak ditahan sebisa mungkin. Hingga usapan tangan di atas kepalanya, membuat Kanza bersikap normal demi meredam emosinya.


Sementara di luar markas. Sebuah truk pengantar barang tengah diperiksa. Sang sopir pun tak luput dari penggeledahan penjaga gerbang. Dua penjaga dari belakang truck bergabung kembali bersama rekan kerjanya yang memeriksa sang sopir. Kode gelengan kepala para penjaga, membuat sang sopir di lepaskan.


Smirk yang tertutupi kumis lebat, membuat Sang sopir terlihat seperti seorang sopir biasa. Tak seorang pun penjaga menyadari tatapan mengintai dari pria polos yang kini berjalan menghampiri truck nya kembali. Lalu membuka pintu, dan naik ke atas menempati kursi penyamarannya.


Satu earphones berbentuk klip bersembunyi di balik rambut palsunya. "Posisi satu SIAP!"


Sang sopir selesai memberikan laporan seraya menginjak gas agar mobilnya kembali melaju, dan berpindah memasuki kawasan dengan penjagaan ketat. Dari dalam mobil. Matanya tak lepas mengamati keadaan di sekitar dari berbagai sudut.


"Menara pengawas ada empat dengan penjagaan satu orang bersenjata di setiap menara. Di depan gerbang hanya empat penjaga gerbang. Semakin masuk, maka terlihat para preman berdiri berjejer dengan jarak dua meter antara satu sama lain. Dari keseluruhan, setidaknya tempat ini dihuni tiga ratus orang."

__ADS_1


Sang sopir memarkirkan truk di tempat seharusnya. Dimana di depannya seperti sebuah gudang terbengkalai dengan tumpukan ban bekas, tapi kenapa tidak ada penjaga? Semua sudut pasti dijaga. Bukankah aneh? Apakah ada sesuatu di sana, atau memang terabaikan?


[Ekhem! What happen?]~tanya seseorang melalui earphones yang secara otomatis terdengar lirih, membuat Sang sopir kembali sadar dari lamunannya.


"All fine. Don't worry....,"


Tok!


Tok!


Tok!


Ketukan kaca dari luar truk, membuat Sang sopir menarik nafas. Lalu, mengambil sesuatu dari bawah kursinya. Setelah beberapa detik. Sebuah senjata revolver berpindah menjadi penghuni belakang punggung pria itu. Pintu dibuka, tanpa mematikan mesin mobil.


"Iya, Pak. Ada apa?" tanya Sang sopir menundukkan kepalanya.


Seorang penjaga dengan rambut sebahu menarik kerah kaos Sang sopir seraya mengacungkan jarinya ke wajah sopir itu. "Apa kamu BUTA? HAH! Tulisan segede papan tulis pun tidak berguna. LIHAT!"


Sang sopir mengikuti arah jari pria di depannya yang menunjuk ke arah tumpukan ban. Sesaat dirinya tak memahami hingga tulisan yang memudar mulai dirangkai dari dalam hati.

__ADS_1


Ruang eksekusi. ~ batin Sang sopir.


__ADS_2