
"Bagaimana ini? Aku tidak bisa membuat rapat itu batal, tapi siapa yang akan menggantikan boss." ucap seorang pria berkaca mata dengan menarik kasar dasinya.
Terlihat jelas betapa frustasi nya pria itu, apalagi delegasi asing tiba-tiba saja memajukan meeting yang seharusnya di lakukan empat bulan lagi. Kepala yang hampir pecah karena masalah yang di hadapinya, terlebih lagi dirinya tidak memiliki waktu lagi. Sebuah jalan terakhir muncul di kepalanya, dengan cepat di sambarnya benda pipih di atas mejanya dan mencari satu nomer jalan terakhirnya.
Tut.. tut.. tut... (terdengar nada panggilan tersambung)
"Matikan telfon mu! Aku sendiri yang akan mengurus masalah delegasi itu! " ucap seseorang yang baru saja masuk tanpa mengetuk pintu.
Satu wajah yang kini berada di depannya mampu membuat skot jantung tanpa kejutan listrik dari ruang operasi, gadis itu sukses membuat nya mengerjap berulang kali. Bayangkan saja jika boss nya tahu bagaimana penampilan istrinya, pasti pingsan juga deh.
"Jaga pandangan anda!" seru pria kekar yang langsung menutupi tubuh queen nya dengan tubuh kekarnya itu.
"Maaf, tapi apa yang nona lakukan dan tuan...? " ucap Leo bingung.
"Masalah itu jelaskan saja lain kali, jelaskan semua rincian pekerjaan dengan delegasi asing perusahaan ABF Company dan siapkan meeting 15 menit lagi! " jawab Asfa dengan serius menghampiri kursi suaminya.
"Justin, pindahkan satu kursi di samping kursi Mas Abhi! " perintah Asfa yang tidak ingin berniat menggeser posisi suaminya.
"Hey bro! Lakukan tugas mu sebelum tubuh mu itu terlempar dari atas sana. " ucap Justin menyadarkan Leo yang masih melayang entah kemana.
"Okay. Ini semua berkas dari delegasi asing dan rencana proyek yang akan dibahas dan di akhir pertemuan akan di adakan jamuan makan." ucap Leo memberikan lima map dengan berbeda warna, sedangkan Justin hanya duduk di sofa setelah mengambilkan kursi untuk queen nya.
Terlihat Asfa sangat cekatan membaca setiap baris yang tertulis di map, sedangkan Leo masih asik menatap kagum pada istri bosnya. Justin memainkan ponselnya ntah apa yang di lakukan nya tanpa mempedulikan sekitarnya, Asfa tahu sepasang mata mengawasinya membuat nya merasa risih.
"Sepuluh menit hampir berakhir! Apa ruang meeting dan staf serta jajaran direksi sudah siap?! " ucap Asfa dengan nada yang di tekankan.
"Maaf, akan aku siapkan." jawab Leo meninggalkan ruangan boss nya dengan langkah seribu karena aura intimidasi istri boss nya memiliki level yang berbeda.
"Bagaimana? Sudah selesai? " tanya Asfa tanpa menoleh ke arah lawan bicara nya.
"Done! Now? (Selesai! Sekarang?)" jawab Justin dengan logat yang terasa sangat fasih.
"Siapkan milikku, aku tidak ingin terlalu cepat membuka semuanya." perintah Asfa.
Hanya sebuah langkah kaki Justin yang meninggalkan ruangan sebagai jawaban nya, terlihat pria itu mampu menyihir banyak kaum hawa yang seperti cacing kepanasan melihat pria tampan lewat. Sedangkan Asfa hanya membolak-balikan map tanpa ingin melihat lebih jauh, bukan sok pintar tapi sebelum dirinya memutuskan untuk tampil tentu saja seluruh pengetahuan tentang setiap kontrak kerjasama hingga hal terkecil perusahaan suaminya sudah di kantongi nya
__ADS_1
Detik terakhir terlihat Leo masuk keruangan untuk mengatakan rapat sudah siap dan Justin menyusul membawa sebuah paper bag hitam di tangannya, dengan santai memberikan itu kepada Asfa. Terlihat gadis itu mengambil sesuatu dari dalam dan menggunakan nya di hadapan Leo dan Justin, Leo yang ingin berkomentar langsung membungkam mulutnya setelah mendapatkan tatapan tajam Justin.
"Apapun yang kamu lihat simpan saja untukmu sendiri!" bisik Justin yang mengikuti langkah Asfa dengan penampilan baru nya.
Dengan langkah gontai Leo hanya mengambil map di meja dan ikut menyusul ke ruangan meeting, sedangkan di ruangan meeting sudah terpenuhi dengan jajaran direksi dan staf tertinggi. Terdengar suara resah dengan takut jika proyek besar yang di gadang-gadang akan gagal dengan kursi kepemimpinan yang kosong, memang ada yang berniat untuk bermain namun assisten pemimpin yang tidak bisa di anggap sepele juga menjadi hambatan sendiri untuk kaum serakah.
Tak... tak.. tak..
Terdengar suara langkah kaki yang mendekati ruangan meeting, begitu pintu terbuka terlihat kehadiran seorang wanita dengan topeng hitam di wajahnya dan di susul seorang pria tubuh kekar dengan jas gulung nya berdiri di belakang wanita itu. Beberapa detik berikut nya terlihat assisten Leo ikut memasuki ruangan yang langsung merasakan hawa dingin dan hujan tatapan yang mengarah pada nya seakan baru saja maling jemuran tetangga.
"Duduk! " ucap Asfa yang cukup tegas dengan suara dinginnya.
Hampir saja Leo menjatuhkan map di tangannya saat mendengar perintah istri boss nya, namun akan aman jika menuruti saja. Leo meletakkan map di atas meja presdir yang akan di gunakan oleh Asfa, terlihat semua sudah duduk dengan was-was namun Asfa tidak peduli dengan rasa semua peserta rapat.
"Silahkan KELUAR jika ada yang RAGU! " perintah Asfa menunjuk pintu keluar.
Hening... (terlihat semua wajah seakan pasrah yang pada awalnya siap untuk memberikan protes)
"Tuan Leo, jelaskan inti masalah!" ucap Asfa tanpa memandang Leo.
"Tapi non, eh." jawab Leo serba salah.
"Apakah queen tidak ingin duduk terlebih dahulu? " tanya Leo mengikuti apapun ucapan Justin.
"Hanya Presdir yang bisa menduduki tempat ini! Aku hanya ingin bermain sesaat, bukankah rapat delegasi akan di adakan satu jam lagi? Atau kamu yang akan mengatasi nya? " ucap Asfa yang langsung menjadi skakmat untuk Leo.
Dengan hati menciut akhirnya Leo menjelaskan dan Asfa dengan tenang memberikan semua orang kesempatan untuk memberikan masukan dan kritikan, hingga rapat berjalan sekitar empat puluh menit lebih membuat Justin menguap. Wajahnya untung saja tertutup topeng, Asfa masih setia mendengarkan hingga Leo mengembalikan semua aspek permasalahan pada istri boss nya.
"Dua staf marketing dan anda tuan manager silahkan urus surat pengunduran diri kalian dan masalah yang menjadi inti rapat ini, aku berjanji akan meloloskan tender ini dalam sekali pertemuan. Leo berikan bonus pada sisanya yang sudah setia dengan perusahaan ABF Company! " ucap Asfa menutup rapatnya dengan decakan kagum para peserta rapat dan menangis darah yang terkena musibah.
"Hey kau siapa! Beraninya memecat ku hah! " seru pria dengan kumis tebal itu hendak melayangkan tangannya ke arah Asfa yang masih setia berdiri di depan kursi presdir.
"Don't touch Queen! (Jangan sentuh Queen!)." seru Justin menangkap tangan pria kumis itu dan menghempaskan nya dengan kasar.
"Bedeb@h! Aku sudah lama bekerja di sini, bagaimana kau seenaknya memecat ku! " teriak pria berkumis itu.
__ADS_1
"Queen... " ucap Leo yang bingung dengan keputusan mendadak istri boss nya.
Pria berkumis itu adalah manager yang bernama Dirga Pradana dengan usia sekitar lima puluh tahun, sudah mengabdikan hidupnya selama dua puluh tahun di perusahaan ABF company. Banyak karyawan yang mengenal sosok nya namun pemecatan yang di lakukan Asfa tentu saja membuat banyak jantung berdetak melambat.
"Urus pengunduran diri anda Tuan Dirga Pradana! Atau aku tidak segan mengirim mu dibalik jeruji besi." ucap Asfa dan meninggalkan ruangan rapat di ikuti Justin.
*Boss cepatlah bangun, singa mu sudah mulai menunjukkan taring nya. Tuhan selamat kan hamba dari kemarahan singa betina.* batin Leo menatap nanar manager yang kini pingsan setelah mendengar ucapan terakhir Asfa.
Diruangan Abhi, Asfa sudah mengeluarkan sebagian data yang memang di perlukan dan di bantu Justin yang langsung menjadi tempat penyimpanan memori otaknya. Terdengar suara ketukan pintu yang sangat lirih, Justin yang membukakan pintu menatap jengah pada pria berkacamata yang sangat lembek itu.
"Duduk dan lihat lah sendiri!" ucap Justin menunjukkan laptop di meja depan sofa, Leo hanya pasrah dan mengikuti apapun perintah Justin yang selalu menunjukkan aura intimidasi seperti boss nya Abhi.
"Bagaimana mungkin ini terjadi dan ini sudah lama sekali." keluh Leo setelah melihat berbagai laporan dan bukti tentang penggelapan dana perusahaan oleh tiga orang yang di minta mengundurkan diri oleh Asfa.
"Justin, dia lah tugas mu. Bukankah itu adil? " ucap Asfa menatap Leo yang tengah memijat keningnya.
"Hehehe sangat adil, apapun bisa ku lakukan." jawab Justin melihat Leo dengan wajah jailnya.
"Make him better!(Buat dia lebih baik!)." ucap Asfa mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Sure queen(Tentu queen).Rapat akan siap malam nanti dan semua perwakilan sudah setuju untuk tempat rapatnya. " ucap Justin yang baru saja membaca pesan masuknya.
"Hmm. Ayo pulang." ajak Asfa tanpa mempedulikan banyaknya berkas yang berserakan di ruangan itu.
"Bereskan semua ini dan jangan lupa datang untuk rapat malam ini, tempat dan waktu akan ku kirimkan." ucap Justin sebelum menyusul Asfa.
"Eh... " jawab Leo terkejut.
Ting... (satu pesan masuk, Leo terlihat gusar membaca pesan masuk itu namun hanya helaan nafas yang bisa di lakukan nya)
"Baiklah, lagi pula dia istri boss. Terlihat aura kepemimpinan gadis itu lebih kuat dari boss Abhi, apa boss Abhi akan terkejut jika mendengar kehebatan istrinya?! " gumam Leo yang langsung menepuk kening nya sendiri.
Bagaimana isi pesannya hanyalah sebuah catatan halus dengan peringatan pemecatan dan pemindahan tempat tinggal ke kutub utara, jika pria berkacamata itu memberitahu kejadian hari ini dan hari berikutnya pada keluar Bagaskara.
.....................
__ADS_1
"**Apa? Bagaimana bisa tidak ditemukan sama sekali! Ini pasti ulahmu, sudah pasti. Awaaas kau brengs3k! " seru nya dengan menghentakkan tangannya ke meja.
Dug**...