My Secret Life

My Secret Life
Bab 199: Cleo Dilema - Amarah untuk siapa?


__ADS_3

Aku harus apa? Jika aku pindahkan sekarang, ku pindahkan kemana? Di daerah sekitar hanya ada puskesmas, sedangkan rumah sakit cukup jauh jaraknya. Tapi, jika tidak dipindahkan. Maka tuan besar bisa menghapus riwayat keluarga ku. Bagaimana ini?~batin dokter Cleo menatap kertas di depannya dengan tatapan kosong.


Pluk!


"Bu dokter kenapa? Malam-malam kenapa melamun," tanya Niles setelah menepuk lengan dokter Cleo.


Dokter Cleo menghela nafas, "Coba kamu periksa rumah sakit tetangga, masih ada ruangan kosong tidak!"


"Rumah sakit tetangga? Rumah sakit mana, dok?" tanya Niles bingung.


Dokter Cleo mengambil selembar kertas, lalu menuliskan nama rumah sakit dengan huruf kapital. "Baca!" selembar kertas diberikan ke Niles.


"Rumah Sakit Medika, oh itu dok. Tapi, rumah sakit itu jaraknya jauh dari...."


"Aku tahu, hubungi saja dan katakan ini emergency tingkat dua." sela dokter Cleo membuat Niles semakin bingung tapi tetap menganggukkan kepala.


"Ya sudah sana kerjakan!" titah dokter Cleo.


"Permisi, dok." pamit Niles.


Suster pria itu berjalan sambil menghafalkan apa yang harus dikatakan pada pihak rumah sakit tetangga, membuat dokter Cleo geleng kepala dengan tingkah pria satu itu. Kini fokusnya kembali pada laporan di depannya. Ada hal aneh yang mengalir di tubuh pasiennya.


"Apa aku harus melakukan pemeriksaan, tapi tanpa izin keluarga. Aku melanggar kode etik kedokteran dan jika tidak diperiksa takutnya apa yang kupikirkan benar-benar terjadi. Bagaimana ini?" gumam dokter Cleo dilema.


"Jangaaaan......" racau Abhi, membuat dokter Cleo bergegas menghampiri pasien.


Suhu tubuh semakin normal, namun kenapa pasien masih tak sadarkan diri. Denyut nadinya pun tak selemah sebelumnya. "Hey sadarlah! Kenapa pula kamu masuk ke rumah sakit yang sama dengan Queen,"


"Asfaa kembaaaliii...." racau Abhi menggenggam tangan Cleo yang tengah memeriksa lehernya.


Dokter Cleo berusaha menarik tangannya, namun Abhi menggenggam tangannya terlalu erat. "Tuan, lepaskan tanganku. Aku bukan istrimu, sadarlah dan lihat queen tengah berjuang hidup...."

__ADS_1


"Asfaaaa...." seru Abhi membuka mata lebar.


Sontak tangan dokter Cleo terlepas, membuat wanita itu menghela nafas karena ikut terkejut dengan teriakan pasiennya.


"Tuan, minumlah!" Dokter Cleo menyodorkan segelas air putih, namun Abhi masih termenung mengumpulkan kesadarannya.


"Tuan?!" panggil Dokter Cleo lebih keras.


Abhi menatap wanita di sampingnya sesaat, lalu kembali menatap ke depan pintu. "Dimana Asfa?"


"Maaf, apa maksudnya Anda?" tanya dokter Cleo pura-pura tak mendengar.


Abhi menghempaskan selimut hingga terhempas ke lantai. Tanpa peduli keadaannya, pria itu turun dari brankar. Melihat itu, dokter Cleo bergegas berlari memutari brankar dan berdiri di depan Abhi. "Anda mau kemana? Istirahatlah, tidak baik meninggalkan ruangan dengan....."


"Minggir!" tukas Abhi dengan tatapan tajam, tapi tak membuat dokter Cleo gentar.


"Amarah begitu besar, untuk siapa?" tanya dokter Cleo dengan maksud tertentu.


"Duduk! Jangan membuat semua orang menanggung amarah tuan besar, hanya karena satu tindakan emosimu." Dokter Cleo menatap Abhi lembut, dengan nada tegas penuh penekanan.


"Apa maksudmu?" tanya Abhi serius.


Dokter Cleo memberikan isyarat tangan agar Abhi kembali ke brankar, membuat pria itu mendadak merasakan tubuhnya terasa sakit serta kaku. Ringisan di wajahnya tampak jelas. Dokter Cleo tak segan membantu Abhi agar kembali berbaring di brankar.


Selimut di lantai ditepis beberapa kali, lalu kembali digunakan untuk menyelimuti sebagian tubuh pasiennya.


"Bisa jelaskan apa maksudmu?" tanya Abhi tak ingin ditipu.


Dokter Cleo menarik kursi, lalu duduk menghadap pasiennya. Tidak ada acara menatap mata, kedua tangannya saling bertautan.


"Apa kabarmu Tuan Abhi, menantu dari pria tersohor dan penguasa dunia bawah...."

__ADS_1


Abhi memalingkan wajahnya menatap dinding lain, "Aku bukan menantu siapapun."


"Benarkah? Setidaknya kalian berdua sepemikiran, lupakan ini. Apa kamu tidak mau tahu bagaimana kabar mantan istrimu?" tanya dokter Cleo seakan lupa dengan ancaman tuan besar.


Hening...


"Tidak, baiklah. Untuk apa bertanya hal tidak penting, istirahatlah. Lagipula, dunia Tuan Abhi hanyalah ilusi." ucap dokter Cleo bangun dari tempat duduknya.


Wanita itu berjalan melangkahkan kaki menjauhi brankar Abhi.


"Dimana Asfa?" tanya Abhi menghentikan langkah kaki dokter Cleo.


"Kata orang, Cinta itu ikatan hati. Saat kesadaran mu hilang, hanya satu nama yang kamu sebut *Asfa*. Maka, temukanlah cintamu itu!" jawab Dokter Cleo.


Abhi terdiam membisu, membiarkan dokter Cleo berjalan meninggalkan ruangannya. Ntah kenapa ucapan terakhir wanita itu seperti memberikan pesan tersembunyi. Tapi apa?


"Ada apa denganku? Kenapa aku selalu merindukannya, kenapa hatiku masih mengukir namanya? Jika kami ditakdirkan berpisah, untuk apa pertemuan ini?" gumam Abhi menatap plafon rumah sakit.


Ceklek....


"Mil, kamu serius mau ikut lembur?" tanya Niles sembari membawa nampan obat-obatan ke kamar Abhi.


Mila menutup pintu, lalu berjalan menghampiri rekannya itu. "Iya, setengah jam lalu seorang bayi baru lahir. Tapi keadaannya tidak baik. Sementara suster lain sudah pulang satu jam lalu. Aku dengar ibunya juga mengalami koma, semoga saja keduanya selamat dan sehat tanpa suatu kekurangan apapun. Ameen."


"Ameen," Niles ikut meng amin kan doa harapan Mila.


"Tapi, aku tidak melihat daftar pasien baru di rumah sakit ini," sambung Niles berpikir keras mengingat nama pasien beberapa ruangan terbaru.


Mila mencubit perut Niles tanpa tenaga, "Pasien itu buat yang lain, tapi buat mereka bukan. Semua memanggilnya Queen, yah itu dia queen...."


"Queen di ruangan mana?"

__ADS_1


__ADS_2