My Secret Life

My Secret Life
Bab 225: HAMIL ANAKMU! - READY!


__ADS_3

Begitu banyak pertanyaan di dalam benak Wina. Sementara reaksi diam wanita bertopeng itu, membuat papa Mahendra menepis tangan Kanza dengan kasar. Pria tua itu bangun dari tempatnya, lalu berjalan menghampiri Wina.


Tanpa perasaan Papa Mahendra merampas topeng hitam yang menutupi wajah Wina. Selama beberapa saat wanita bertopeng yang dianggap Asfa. Bukan hanya terkejut, tapi pria itu melongo melihat wajah asing.


"Siapa kamu?!" tanya papa Mahendra dengan suara kerasnya.


"Apa pedulimu, Pak Tua? Siapapun aku, bukan urusanmu." jawab Wina seraya mengatur nada bicaranya agar tidak ketahuan tengah gugup.


Gemetar tubuh Wina, membuat Justin menarik wanita itu ke belakang seraya memberikan tamparan pipi kiri. Sentuhan panas yang mendarat tanpa permisi. Sontak Wina menendang perut Justin sebagai balasannya.


"Biar aku yang urus." Justin mencegah Clovis agar tidak mendekat, Preman itu percaya begitu saja.


"Tuan, sepertinya pihak musuh membatalkan janjinya. Lihatlah sekarang waktu melewati jadwal pertemuan." lapor Clovis tanpa berpikir, tapi tidak dengan Tuan Mahendra. Dimana pria paruh baya itu bisa merasakan aura intimidasi di sekitarnya.


Tuan Mahendra menahan tangan Agen J yang mengudara dan bersiap melayangkan satu pukulan pada tahanannya. "Jangan gegabah!"


Agen J berbalik menatap tak paham maksud Tuan Mahendra.


Tuan Mahendra mengambil topeng hitam yang terjatuh ke lantai. "Topeng ini bukan topeng biasa. Clovis berikan perintah pada pasukan untuk bersiaga!"


"Siap, Bos." jawab Clovis langsung berlari meninggalkan markas dalam, sedangkan Agen J, Wina, Tuan Mahendra, dan Kanza stay di tempat dengan tatapan saling terpaut.


Melihat situasi yang memungkinkan. Agen J memberikan kode jari di belakang punggungnya agar Wina melihat dan paham langkah selanjutnya. Akan tetapi wanita itu tidak menyadari kode jari dari yang diberikan Agen J.


Astaga. Ku pikir pingsan. Ternyata terpesona dengan lelaki tua. ~batin Justin melirik ke arah Wina, dimana wanita itu menatap Tuan Mahendra tanpa berkedip.


"Bos, kita apakan wanita ini?" tanya Agen J untuk mengalihkan perhatian.


Tuan Mahendra memainkan jemarinya seperti tengah belajar menghitung. Kerutan di kening terlihat jelas menandakan pria itu sudah tua. Kanza merasa terabaikan, lalu berjalan menghampiri sang kekasih. Tanpa malu, wanita itu melingkarkan kedua tangannya di perut tuan Mahendra.


"Sayang, Aku bosan. Kita pulang yuk?" rengek Kanza.


"Kamu datang dengan siapa? Kenapa mengajakku? Punya kaki 'kan?" Tuan Mahendra melepaskan tangan Kanza, dan memilih berjalan mendekati Wina.

__ADS_1


Tatapan Wina dan Tuan Mahendra saling terpaut. Keduanya menyelam dalam oase mata. Sementara Agen J melangkahkan kakinya mendekati Kanza.


Ada apa dengan pria satu ini? Ngapain juga mendekat ke arahku. Apa make up ku luntur? ~batin Kanza seraya memeriksa kedua pipinya.


"Bos, bukankah akan lebih jika wanita ini dipulangkan?" saran Agen J berhenti tepat di depan Kanza, tindakannya memutuskan tautan mata Wina dan Tuan Mahendra.


Pria paruh baya itu kembali mendekati Kanza dan Agen J. "Potong saja kakinya! Baru lakukan antar barang. Kenapa mengurus hal tidak penting?"


"Apa kamu gila?! Aku HAMIL ANAKMU!" seru Kanza mengejutkan semua orang, terutama Tuan Mahendra yang kini menatap sang kekasih tajam.


Kanza maju dua langkah, lalu meraih tangan Tuan Mahendra untuk diletakkan ke atas perutnya yang rata. Anggukan kecil dihadirkan dengan senyuman manis. "Kita akan punya anak."


Queen ikut mendengar semua perdebatan melalui sambungan earphones. Sesaat rasa syukur menghampiri hatinya. Meskipun kebenaran itu tidak akan mengubah kisah hidupnya sendiri. Hingga satu tarikan tangan menyadarkannya, dan terhindar dari tebasan pisau tajam.


"Apa kamu baik?" tanya Dirga dengan tatapan cemas, Asfa mengangguk.


"Kamu lihat tombol di atas sana?" Asfa menunjuk sebuah tombol di atas pintu ruangan eksekusi.


Tombol itu cukup sulit untuk dijangkau. Sementara kesempatan hanya satu kali. Jika gagal, kemungkinan besar seluruh ruangan eksekusi akan meledak.


Asfa memutar bola mata malas. "Durasi lemparan pisau akan semakin singkat setiap dua jam sekali. Sejak aku masuk, sudah lebih dari lima pisau. Tombol itu tersambung dari semua tali jebakan....,"


"Ayolah, lihat saja tombol itu sangat tinggi. Bahkan tanganku saja tidak sampai." sela Dirga, membuat Asfa menarik nafas dalam untuk bersabar.


Percuma juga menjelaskan. Jika pria dengan pangkat detective seperti Dirga tidak sepintar Justin. Situasi kali ini harus dihadapi seorang diri. Sebelum durasi waktu semakin lama. Tanpa berkata lagi. Asfa memakai kacamatanya, lalu mengambil pistol di balik punggung.


"Ready?" tanya Asfa.


Dirga mengerutkan keningnya karena tidak paham. Ready untuk apa? Hingga tangan kiri Asfa mencengkam tangan kanannya, lalu mengarahkan senjata ke salah satu sudut atap. Tidak ada suara tembakan karena memakai peredam.


Satu tembakan menghasilkan lubang menganga dengan benda besar jatuh ke lantai. Bunyi hantaman cukup menyakiti telinga. Akan tetapi wanita itu tidak terpengaruh, dan melepaskan beberapa tembakan beruntun ke beberapa titik.


Seperti melepaskan semua jebakan. Pisau terbang melayang menuju keduanya. Raut wajah tenang Asfa, membuat Dirga tercengang. Tanpa permisi tangannya ditarik mengikuti irama gerakan lihai sang wanita yang terlihat sangat fokus tanpa gangguan.

__ADS_1


Desingan pisau terhindar dengan tarian yang dilakukan keduanya. Tanpa Dirga sadari. Asfa membuat keseimbangan melalui kerjasama. Setelah menghitung di dalam hati hingga sepuluh. Barulah satu peluru terakhir Asfa lepaskan tepat pada tombol di atas sana, dan tarian berhenti.


Kleek!


Kleek!


Kleek!


Pintu ruangan eksekusi terbuka dengan sendirinya. Bersamaan Asfa melepaskan tangan Dirga. Lalu berjalan meninggalkan puluhan pisau di lantai.


"Keluar!" seru Asfa menyadarkan Dirga.


Pria itu mendadak gugup dengan degup jantung berpacu cepat. Menatap tangannya seakan masih ada tangan yang menggenggam nya. Melihat reaksi ambigu sang detective. Asfa kembali masuk, lalu memberikan tamparan keras agar pria itu sadar.


"Aku bisa membunuhmu, jika kamu bosan hidup. Lihatlah sekitarmu! Pria aneh." Asfa meluapkan kekesalannya atas sikap Dirga yang ceroboh, dan kembali berbalik seraya menarik tangan pria itu keluar bersamanya.


Kehebohan di luar masih berlanjut, membuat Asfa mengendap-endap tanpa melepaskan tangan Dirga. Di balik deretan drum minyak, keduanya bersembunyi.


"Mana pistol mu?" tanya Asfa berbisik.


"Aku tidak ada pistol." jawab Dirga jujur.


Jawaban pria itu langsung menyadarkan Asfa betapa nekat dan ceroboh nya orang-orang yang dirinya temui hari ini. Tak ingin berdebat, ia melihat ke sekitar untuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata. Akan tetapi hanya ada drum minyak, selain itu tidak ada lagi. Kecuali jika ingin kembali ruang eksekusi untuk mengambil satu atau dua pisau.


"Hey, kenapa mereka sibuk menampung cairan itu? Lalu suara kesakitan dari mana....,"


"Shut up!" Asfa menekan suaranya agar tidak keras. "Wina ada bersama rekanku. Mobil kalian ada di luar sana, tapi aku mau kamu balik ke truk! Tunggu sepuluh menit nyalakan mesin, lalu putar arah. Jangan pedulikan apapun! Tabrak gerbang, lalu lompat lah dari pintu sisi lain. Nyawamu di tanganmu."


"Apa maksudmu? Dimana Wina?" tanya Dirga khawatir.


"Duke, Ready!" ucap Asfa tanpa peduli pertanyaan pria di sampingnya.


Bukannya mengikuti perintah Asfa. Dirga justru masih stay menunggu jawaban atas pertanyaannya. Hingga pintu ruangan besi terbuka. Lalu seorang pria keluar dan terkejut dengan keadaan di luar bangunan markas.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?!" serunya menggema.


__ADS_2