My Secret Life

My Secret Life
Bab 152: Panggilan


__ADS_3

Tanpa menjawab, pria kekar berjalan menuju ke tempat yang seharusnya. Sedangkan suster bermasker sudah mengubah penampilannya dengan wajah asli didalam mobilnya. Senyuman penuh makna terbit dari bibir pria itu, matanya melirik ke kursi belakang. Dimana seorang wanita dengan pakaian rumah sakit utama tertidur pulas karena obat bius.


Permainan dimulai. Selamat datang ke neraka Luxifer!~ batin pria itu dan menyalakan mesin mobilnya, meninggalkan tempat parkir rumah sakit utama dengan hati berbunga-bunga.


Mobil melaju menyusuri jalan utama, keramaian lalu lalang kendaraan lain, membuat mobil pria itu tersedat kemacetan. Sedangkan di ruangan CCTV rumah sakit utama wajah Dominic mengeras, tangan Dominic mengepal dan tanpa sadar meremas remot control digenggaman tangannya. "Perketat keamanan rumah sakit level 5! Aku tidak akan mengampuni kalian semua, jika ini terulang lagi! Segera periksa semua pasien di rumah sakit ini."


"Baik Duke." jawab orang-orang keamanan dan bergegas mengkonfirmasi data para pasien, hanya membutuhkan waktu sepuluh menit semua data terkumpul.


Kertas laporan dari salah satu dokter, membuat Dominic memeriksa dengan seksama. "Siapa itu Aliska?''


Dari daftar pasien, hanya satu pasien yang hilang. Tapi tidak ada rekaman apapun dari CCTV rumah sakit utama. Dan pasien bernama Aliska pastinya pasien baru, karena tidak ada konfirmasi apapun dari para dokter.


"Dua hari lalu, Queen membawa pasien seorang wanita paruh baya bersama tuan besar. Dan pasien memiliki sindrom, sehingga Queen memberikan dokter khusus. Tapi siang ini saat dokter ingin melakukan pemeriksaan, justru diserang dan dillumpuhkan dengan satu jenis racun. Beberapa dokter tengah mengobati dan menganalisis jenis racunnya agar bisa membuat penawarnya.'' jawab dokter yang menjadi pimpinan seluruh divisi.


Dominic menaikkan satu alisnya, dan hitungan ketiga berpindah tempat. Kini di hadapan Dominic terdapat satu set komputer canggih dan menjadi pusat pengawasan di setiap sudut rumah sakit. Jemari Dominic mulai berselancar dengan ketikan tanpa jeda, rumus angka dan huruf berjalan terus menerus.


Triiing……


Suara tanda selesai, membuat Dominic menopang dagu dan menatap hasil pekerjaan kilatnya. Tayangan dari lorong tiga hingga lorong lima, ternyata mati total. Itu berarti camera sudah tidak aktif sejak beberapa jam terakhir, dengan mencocokkan waktu dari rekaman lama dan baru. Dominic mendapatkan jawaban tanpa bertanya pada siapapun. Kini langkah kaki Dominic berjalan meninggalkan ruangan CCTV, dan tangan kirinya mengambil ponsel yang ada di saku.

__ADS_1


Dengan mendial sebuah nomer yang menjadi salah satu anak buahnya, Dominic memberikan perintah. "Siapkan pasukan untuk mencari seseorang, data akan kukirim via email!"


Kini langkah Dominic meninggalkan rumah sakit utama, kabar masuknya Asfa ke UGD tak sempat mampir di telinga pria satu ini. Sedangkan tuan Luxifer masih menunggu Asfa dengan perasaan khawatir, waktu terasa berjalan terlambat.


"Masih tiga puluh menit lagi. Dan operasi Zoya sudah selesai, sebaiknya aku kirim pesan pada dokternya saja." gumam tuan Luxifer mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada dokter utama.


Belum sempat memasukkan kembali ponsel ditangannya, nomer tak dikenal melakukan panggilan telepon. Tidak ada niat untuk meladeni orang tak penting, dan panggilan di reject. Tapi panggilan kembali masuk, hingga tiga kali penolakan tapi sang penelpon tak menyerah juga. Dengan kesal tuan Luxifer akhirnya mengangkat panggilan itu, belum sempat berbicara tapi sambutan cukup jelas terdengar menusuk telinganya.


[Akhirnya kebanggaan mu jatuh, bagaimana hadiah ku? Apa masih kurang? Jika kurang, akan ku kirimkan hadiah lainnya beserta special surprise.]


"Shut up!" Tuan Luxifer menahan emosi dan memutuskan panggilan, matanya menatap Asfa.


Dengan mendial satu nomer, sambungan telepon terdengar. Tanpa menunggu dering ke dua, panggilan terangkat. "Pimpin rencana kita! Jemput Alvaro dari Villa Aranda, aku akan mengabari ibu. Biarkan para menantu tetap di villa!''


[Done.] jawab orang diseberang.


Took... took... took...


Panggilan berakhir, bersamaan dengan suara ketukan pintu. " Masuk!''

__ADS_1


ceklek....


"Siang tuan. Saya ingin menyampaikan laporan hasil operasi nona Zoya." ucap Dokter Ashraf menghampiri tuan Luxifer yang masih diam duduk menghadap sang putri.


Dokter Ashraf berhenti di sebelah tempat duduk tuan Luxifer, menyodorkan satu map biru tua. Tangan kekar tuan Luxifer menerima dengan cekatan, tapi tidak ada pergerakan ataupun niat membuka map ditangannya itu. "Siapkan brangkar khusus, aku akan membawa Queen ke mansion! Waktumu hanya sepuluh menit dari sekarang."


Dokter Ashraf merasa terintimidasi dengan tekanan suara tuan besar, kepalanya seakan terpaksa mengangguk. "Saya permisi."


Setelah mendengar suara pintu tertutup, fokus tuan Luxifer kembali ke ponsel. Kini satu nomer yang teramat jarang dihubungi, untuk pertama kali dirinya menghubungi nomer itu. Sambungan telepon terdengar dan berganti sapaan seorang wanita dari seberang, kali ini bukan hanya bibir kelu tapi tenggorokan pun ikut tercekat. "Asfa masuk UGD. Biarkan Varo kembali dan bantu aku tahan kedua menantu ku di sana."


Terdengar suara benda jatuh dari seberang telepon, sudah pasti kemarahan tengah melanda sang ibu mertua. Bagaimanapun Luxifer tahu, Asfa dan Varo menjadi nyawa sang ibu mertua meskipun hubungan ketiganya sangatlah jarang.


Ketegangan berlanjut hingga panggilan ditutup sepihak, helaan nafas tuan Luxifer menjadi bukti keadaan semakin rumit. Berbeda dengan keadaan seorang pria yang masih sibuk mengusap wajah seorang wanita berpakaian rumah sakit, tangan pria paruh baya itu sangatlah penuh kerinduan.


"Iska, akhirnya kita bisa bersama. Tapi bagaimana aku membuatmu percaya padaku? Apakah aku harus menggunakan hasil penelitian ku? Bangunlah segera agar aku bisa mencintaimu." tukas pria itu dengan binar kebahagiaan.


Semakin lama menatap wajah Iska, ada sesuatu yang bangun di balik celananya. Gelora panas menjalar menarik otot tubuhnya, tangannya berpindah menelusuri tubuh Iska dengan liar. Jiwanya tertantang menjelajahi dunia yang terlampau lama tak terjamah, wajahnya mendekati wajah Iska. Membungkam bibir Iska dengan bibir tebalnya.


Seakan tak puas, bibir aktifnya menjelajahi setiap inci kulit Iska dengan penuh gairah. Tangannya bergerilya dengan liar tanpa aturan, menyusuri bukit kembar dan berhenti di lembah gua yang terhalang benang. "I love you. I want you Iska. Tubuhmu candu ku, akan ku berikan kehangatan sama seperti dulu."

__ADS_1


Cup…..


__ADS_2