My Secret Life

My Secret Life
Bab 197: Bukan Menantuku! - Pria pecandu alkohol


__ADS_3

Ceklek!


Cleo masuk ke dalam ruangan khusus, tak lupa menutup pintunya kembali. Langkah kakinya berjalan menghampiri pria angkuh di dalam ruangan khusus.


"Tuan, saya ingin...."


"Apa kamu tidak lihat, Aku sedang apa?"


Seorang pria paruh baya masih setiap menatap box bayi di depannya. Bayi mungil dengan kulit putih yang mendiami inkubator. Jika tidak salah, itu bayi yang baru dilahirkan melalui operasi caesar.


"Maaf, Tuan. Tapi ini emergency." jawab Dokter Cleo memberanikan diri.


Tuan luxifer berbalik, tanpa kata. Langkah kakinya berjalan mendekati dokter Cleo, bukannya berhenti tapi hanya sekedar melewati. Dokter Cleo berpikir akan terkena amukan, tapi nyatanya tidak. Tanpa menunggu perintah, wanita itu mengikuti kepergian tuan besar berjalan keluar meninggalkan ruangan khusus bayi.


Ceklek...


Tuan Luxifer berdiri bersandar ke dinding di belakangnya dengan posisi masih menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dokter Cleo berdiri dengan jemari saling bertautan, membuat pria itu menghela nafas.


"Tell!"


"Eh, itu...."


"Apa kamu tahu, Aku sibuk mengurus cucuku dan sikap macam apa ini? Cepat katakan!" tukas tuan Luxifer dengan intimidasi.


Glek...


Dokter Cleo meneguk saliva dengan kasar, "Tuan, menantu anda mengalami hipotermia dan....."


"Sejak kapan aku memiliki menantu? Urus saja pasienmu!" cetus Tuan Luxifer memalingkan wajahnya menatap lorong rumah sakit.


"Maafkan saya, Tuan. Tapi, bukankah..."


Tuan Luxifer menarik nafas dalam kemudian berbalik mengintip dari jendela dimana cucunya masih berjuang mempertahankan hidup. Ingatan dimana Asfa saat bayi kembali melintas memenuhi ruang pikirannya. Kehidupan sang cucu dimulai dengan penderitaan, tak berbeda dengan kehidupan sang putri yang juga dimulai dari penderitaan.

__ADS_1


Perjuangan hidup keduanya akan menjadi awal kehidupan yang menuntun kekuatan mental dan juga hati. Jalan dari putri keluarga Luxifer seakan bergaris pada ujian nyawa sejak dilahirkan.


"Dia hanya ayah dari cucuku, bukan menantuku. Aku tidak akan biarkan seorang pria pengecut sepertinya kembali ke dalam hidup putri raja ku. Pastikan saja, mulutmu terkunci rapat! Jika tidak, jangan salahkan aku menghapus nama keluarga mu dari muka bumi." sela tuan Luxifer dengan serius tanpa ada keraguan.


Jawaban tuan Luxifer, membuat dokter Cleo sadar atas kesalahannya. Tidak seharusnya mengatakan tentang Abhi. Semua orang di bawah naungan mafia Phoenix telah diberikan warning tentang Abhi. Namun, tak seorang pun tahu kenapa warning tuh diberikan sebagai peraturan pertama.


"Kurasa kamu sudah paham. Ingat satu hal, jangan sampai berita ini sampai ke telinga yang lain. Terutama putriku. Jika iya, akan kupastikan rumah sakit ini hangus bersamamu. Pergilah!" usir tuan Luxifer.


Tanpa keduanya sadari, percakapan mereka didengarkan seseorang dari balik tembok sudut lorong terdekat. Wajah memerah menahan emosi di dalam hatinya. Kemarahan itu hanya sekejap dan berganti dengan senyuman licik.


Aku akan sampaikan pada orang yang tepat, lihat saja. Akan kupastikan berita ini menjadi bumerang untukmu. I am back my enemy. ~ batin orang itu dan berjalan meninggalkan tempatnya bersembunyi dengan tubuh sempoyongan.


Langkah kakinya terseok-seok dengan wajah seperti orang linglung, membuat seorang suster yang lewat mencoba membantunya.


"Tuan, Anda mau kemana? Mari saya antar," ucap seorang suster cantik dengan rambut terikat ke atas.


Tatapan mata mendamba ketika melihat suster cantik berada di depannya. Tanpa permisi tangannya menarik tangan sang suster lalu memeluk suster itu dengan agresif.


"Toolooong...." seru suster dengan suara terkejut.


"Tuan, lepas! Saya bukan wanita murahan... Toloong..."


"***! Diamlah, ini enak. Jangan sok suci," bisik pria itu semakin agresif.


Suster masih usaha melepaskan diri. Meskipun keagresifan pria itu semakin melewati batas dengan mengecup lehernya.


"Hiks, totooloong..."


"Hey, apa yang kamu lakukan!" seru seseorang dari arah lain.


Langkah kaki yang terdengar memburu dari lorong, mendekati pemandangan yang sangat menjijikkan di tempat umum. Tanpa menunggu penjelasan, tangannya menarik suster dan mendorong pria pecandu alkohol itu.


Plak!

__ADS_1


Sreet....


Satu tamparan keras diberikan,membuat pria pecandu alkohol tersungkur ke lantai


Sedangkan suster terisak semakin keras ketika seragamnya robek akibat pria pecandu alkohol. Melihat itu, membuat sang penolong melepaskan kemejanya lalu memberikan pada suster. "Pakailah!"


"Hiks,"


"Pria seperti ini kenapa ada di rumah sakit. Apa kamu tidak punya uang, hingga mencari mangsa di tempat umum?"


Pria pecandu alkohol menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya, lalu menyibakkan rambut panjangnya ke belakang. Satu tamparan keras membuatnya sedikit sadar. Tubuh yang tak lagi seimbang dipaksakan berdiri. Pria itu dengan susah payah bangun dan berdiri berhadapan sang pengganggu kesenangannya.


"Cu!!h. Pahlawan kesiangan, ayo maju kita duel. Siapa pun yang menang, bisa nikmati wanita cantik itu," godanya dengan kekehan menyeramkan di telinga sang suster.


Suster menggelengkan kepala. Tangannya memegang bahu sang penolong dengan gemetar, membuat sang penolong maju satu langkah. "Pergilah, panggil keamanan!"


"Tapi, bagaimana...."


"Pergi!" seru sang penolong, membuat suster terkejut dan bergegas berjalan meninggalkan lorong sepi itu.


Pria pecandu alkohol berjalan mengejar suster, namun tangannya ditahan oleh pemuda di depannya. Tarik menarik tak terelakkan, membuat pria pecandu itu mendorong tubuh yang menahan pergerakannya.


"Bajing@n! Enyah kau, mengganggu kesenangan orang saja...."


Plaak!


Plaak!


Dua tamparan sekaligus diterima tanpa discount, membuat pria pecandu alkohol murka.


"Hey, beraninya KAU...."


"Shttt. Rupanya kelakuanmu semakin bejad saja, syukurlah akhirnya aku menemukanmu." sela pemuda itu dengan senyuman sinis penuh nada sindiran.

__ADS_1


Pria pecandu alkohol mengamati wajah pemuda di depannya, tapi wajah itu terbagi menjadi beberapa bagian. "Siapa kamu? Aku tidak punya anak."


__ADS_2