My Secret Life

My Secret Life
Bab 181: Harapan dan Menurut


__ADS_3

Triing


Notifikasi pesan masuk, membuat Abhi mengambil ponsel di dalam saku celananya. Satu pesan yang mengubah ekspresi wajah Abhi menjadi cemas dan buru-buru keluar dari rumah tanpa berganti pakaian.


"Nak...." panggil bunda Aliya.


Abhi tidak mendengar panggilan bunda Aliya dan pergi meninggalkan rumah dengan motor yang terparkir di garasi paling depan. Kunci yang selalu tersedia di lemari kaca kecil, membuat Abhi mudah memilih kendaraan. Bunda Aliya ingin menyusul tapi ada tangan yang menahan pergerakannya.


"Mau kemana?" tanya Papa Mahendra.


Bunda Aliya membalikkan badan, belum sempat menatap wajah suaminya. Satu tangan melayang ke arah pipi, dengan sisa kekuatan. Bunda Aliya menahan tangan papa Mahendra yang siap menampar. "Sudah cukup! Aku istrimu, bukan samsak mu."


Tangan dihempaskan, langkah kaki bunda Aliya menjauh dan berlari meninggalkan wajah tak percaya suaminya. Tangan Papa Mahendra mengepal erat, untuk pertama kalinya sang istri melakukan perlawanan. Jika terus berlanjut, maka itu akan menjadi bumerang. Sedangkan Iska sudah melarikan diri ntah kemana, situasi yang semakin rumit sungguh menjadi tekanan tersendiri.


Sebaiknya aku pergi ke club, kepalaku sakit memiliki istri tak berguna dan putra yang siap melawan. Lama-lama hidupku bisa seperti kapal pecah. ~batin Papa Mahendra.


Langkah kaki Papa Mahendra meninggalkan rumah dalam keadaan wajah memerah, dan urat menonjol. Satpam yang melihat itu langsung menundukkan kepalanya. Kepergian sang majikan, membuat satpam menghela nafas kasar. Setiap kali Tuan Muda tidak di rumah, selalu saja ada wajah amarah dari majikan tuanya. Ingin mengatakan kebenaran pada Tuan Muda, tapi ancaman yang selalu di katakan Tuan Mahendra masih teringat jelas.


Sementara Bunda Aliya mengunci kamar dan tubuhnya ambruk ke bawah lantai. Tetesan air mata tak berhenti mengalir, rasa sesak dan sakit di tubuhnya seperti bara api dipanaskan. "Kurang apa aku selama ini? Semua kukorbankan, demi melindungi putraku. Rumah tangga tak sehat ini semakin membelenggu diriku, ingin aku berlari."


Jangan lari Aliya, ingat nyawa Abhi jadi taruhannya. Kamu mau Abhi tiada karena pelarianmu?~ucap hati Aliya.


"Aku tidak mau, tidak. Abhi harus selamat. Apapun yang terjadi, putraku harus hidup bahagia." jawab pikiran Aliya.


Bertarung lah, tugasmu sebagai seorang ibu lebih dari tugas seorang istri. Ayo Aliya bangkit! ~ ucap hati Aliya.


"Yah, aku harus bangkit. Aku akan coba hubungi dia lagi." jawab Aliya dan bangun dari tempatnya.


Aliya sibuk mencari ponselnya yang ntah tergeletak dimana, sembari mengingat kapan terakhir kali menggunakan benda pipih itu. Pencarian selama sepuluh menit, akhirnya benda pipih ditemukan di balik bantal. Jemari Aliya tidak sabaran men scrol dan mencari nomor yang dituju. Satu tekan dial icon panggilan.


Beep

__ADS_1


Beep


Beep


Panggilan tersambung, senyuman terbit di bibir Aliya. Wajah cemas dan penuh harap nampak jelas tergampar di wajah wanita paruh baya itu, di tempat lain. Ponsel yang menyala beberapa kali mengalihkan perhatian seseorang.


Rasa penasaran dan melihat waktu panggilannya, membuat orang itu mengambil ponsel diatas meja. Nomor dengan nama yang jelas, sudah lama menunggu telepon dari nama itu. Tanpa menunda, panggilan dijawab. "Katakan!"


[Aku ingin bertemu dengan anda]~ ucap bunda Aliya.


"Ok. Waktu dan tempat, tunggu." jawab orang itu.


[Baik. Saya tunggu. Segera.]~ ucap bunda Aliya.


Tuut...


tuut...


tuut...


Triing


Satu pesan masuk, membuat bunda Aliya memeriksa pesan dan itu pesan waktu dan tempat pertemuan. Benda pipih itu dipeluk erat, seperti sebuah benda paling berharga.


Syukurlah, aku bisa menghubungi dia. Sekarang aku harus lebih waspada. Setelah apa yang kulakukan tadi, sudah pasti Mahendra tidak akan tinggal diam. Apa aku harus melakukan antisipasi? Tapi apa? Menulis surat kah atau mengirim pesan pada Abhi? Tidak, tidak. Surat lebih baik.~batin bunda Aliya.


Setelah berdebat dengan hati, akhirnya bunda Aliya memilih mengambil buku dan pulpen. Tangan gemetar itu mulai menuliskan kisah hidupnya, sementara di tempat lain. Asfa masih diam dan membiarkan pemeriksaan terakhir dilakukan. Terlalu banyak proses pemeriksaan, membuat waktu terasa membosankan.


"Apa kalian ini pada kekurangan pekerjaan? Haruskah semua ini dilakukan?" cetus Asfa menatap Varo dan Vans.


"Apa kamu wonderwoman? Tidak kan? Jadi diam dan biarkan kami bekerja." tukas Varo.

__ADS_1


Vans memilih diam dan bekerja, setelah melakukan tes darah dan juga fisik selama satu jam full. Akhirnya pemeriksaan selesai. Varo menghampiri sang adik dan memberikan satu obat merah delima bersama segelas air putih. "Minumlah. Semoga ini yang terakhir. Jangan lagi bertindak seorang diri. Apa gunanya punya kakak?"


"Hmm. Ambil saja semua kerjaan, dan aku tinggal minta uang dari kakak. Bagaimana?" jawab Asfa.


"Hehehe kamu ini, seperti bisa jadi gadis pendiam saja. Atau sibuk shoping ke mall, yang ada malah nongkrong di balapan liar tengah malam." Varo menerima gelas kembali, setelah Asfa minum obat. "Vans awasi Queen. Efek obat kali ini bekerja cukup lama, tapi tidak seperti kemarin."


Seperti biasa, Varo paham seperti apa dirinya. Maka lebih baik diam dan menurut. Mencari aman terkadang perlu dilakukan sesekali.


"Siap." jawab Vans.


"Ka, bagaimana perusahaan dan...."


Satu telunjuk Varo ditaruh di depan bibir, auto membuat Asfa menghentikan pertanyaan. Vans yang melihat itu menahan senyum. Di dalam hati merasa lucu, untuk pertama kalinya seorang gadis pemimpin menjadi gadis penurut.


Awas saja kamu, lihat apa balasan ku Ka Vans. Aku tahu kamu menertawakan kelemahanku. Kita lihat siapa yang diam nanti. ~batin Asfa melirik Vans.


Tatapan mata biru itu terpatri tepat di mata Vans. Vans tersenyum semanis mungkin, karena mata Asfa tengah menandakan peperangan. Varo berdehem melihat tatap menatap dua lawan jenis di depannya itu. "Ingat, kalian hanya pasien dan dokter. Kakak pamit dulu, good night my doll. Vans titip Queen."


"Okay." jawab Vans.


Varo berjalan meninggalkan kamar Asfa, kini hanya tinggal Vans dan Asfa. Belum sempat berpaling, Asfa sudah menunjuk ke arah laptop di atas meja. Tatapan serius Asfa, membuat Vans mengikuti kemauan peri kecilnya. Vans mengambil laptop dan duduk disebelah Asfa. "Katakan, apa yang mau kamu lakukan."


"I can..."


"No. Jangan membantah, biarkan aku melakukan untukmu. Cukup katakan perintahmu." sela Vans.


Huft.....


Setelah menghela nafas, Asfa membenarkan posisi duduknya dan mengambil satu bantal untuk menahan rasa nyeri di perut. "Retas perusahaan RA Company!"


Perintah Asfa, membuat Vans menutup laptop dan menatap tanya pada peri kecilnya. Untuk apa meretas perusahaan sendiri, kan bisa masuk tanpa perlu meretas. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran satu anak ini, selalu saja ada hal baru. Asfa sadar dengan tatapan mata Vans, alis terangkat dan bibir merapat.

__ADS_1


"Lakukan saja, tidak akan terjadi apapun. Aku ingin tahu seberapa jauh perkembangan Tuan Muda Burhan."


__ADS_2