
"Tuan, kita sampai." lapor sang sopir pelan agar tidak mengganggu nona mudanya bangun.
Vans mengibaskan tangan kanannya, membuat pria berseragam bodyguard itu turun terlebih dahulu. Sementara Vans masih stay sejenak di kursi penumpang. "Aku sangat mencintaimu, periku. Meskipun aku tahu dimana posisiku. Aku tidak pernah mencoba melewati batas ku. Kamu bukan hanya malaikat bagiku, tapi juga nyawaku. Ku harap, kamu bisa mengerti rasa di hatiku ini."
Seperti hujan di musim kemarau. Seperti itulah cinta Vans untuk Asfa. Tidak ingin menenggelamkan, tapi hanya untuk memberikan kehidupan baru. Benih cinta tidak pernah mati. Justru semakin hari tumbuh penuh kasih sayang dan pemahaman. Jika ada orang yang bertanya, Asfa itu seperti apa? Pastilah pria satu ini akan memberikan jawaban terbaik.
Cinta yang sama, akan tetapi memiliki tingkat kepercayaan yang berbeda. Di satu sisi Vans mempercayai Asfa tanpa syarat seperti cintanya yang tulus tanpa hasrat. Sementara di sisi lain ada cinta Abhi yang berselimut awan mendung. Hati pria itu masih setia mencintai Asfa, akan tetapi tidak ada kepercayaan yang mampu mempertahankan arti cinta sesungguhnya.
Malam berlalu tanpa bintang, hanya rembulan yang bersinar. Waktu tak akan pernah bisa di putar kembali. Meskipun sejuta doa dipanjatkan. Biarlah semua rasa hari ini tenggelam dalam kegelapan, dan esok akan ada hari baru bersama terbitnya sinar mentari.
"Morning, Periku.'' Vans meletakkan nampan berisi sarapan untuk Asfa, lalu langkahnya berjalan menuju jendela dan menyibakkan tirai biru laut.
Sreek!
__ADS_1
Wanita yang masih enggan membuka matanya itu memilih menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuh. Tindakannya membuat Vans menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis.
"Queen! Ayo, bangun! Bukankah kita mau memeriksa Rose?" Vans menarik selimut hitam hingga wajah manis Asfa terlihat.
"Okay, give me time 30 minute." jawab Asfa. (Oke, beri saya waktu 30 menit.)
"Jangan lupa sarapanmu! Aku tunggu di bawah, ok?" Vans mengusap kepala Asfa sebelum pergi meninggalkan kamar tuan putri raja.
Ceklek!
[Hidup, dan utuh. Kapan hadiah diberikan?]~jawab dari seberang.
"Malam ini, Aku ke markas. Pastikan saja tawananku bahagia, dan siapkan semua peralatan baruku!" Asfa mematikan telepon setelah memberikan perintahnya. "Aku ingin tahu, apakah pria itu mendapatkan jawaban dari semua dilema hatinya atau tidak? Apa harus aku kirimkan seseorang untuk membantunya?"
__ADS_1
"Jika kupikirkan lebih jauh, emm biarkan saja. Kebenaran akan selalu muncul meskipun tenggelam setelah sekian lama. Ayo, Asfa. Kamu harus fokus dengan Rose!" sambung Asfa seraya meletakkan ponselnya di atas nakas kembali. Kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar mandi.
Pancuran air shower dingin memberikan kesegaran, membuat aliran darah yang panas perlahan tenang. Asfa menikmati aroma buah strawberry bersama busa putih yang memenuhi bathupnya. Sementara di tempat lain, pemandangan kamar bak kapal pecah membuat sang perusuh tak tahu lagi harus mencari di sebelah mana agar mendapatkan bukti.
"Tidak ada apapun di kamar ini, lalu dimana aku harus mencari? Apakah mungkin semua ini hanya permainan, tapi tidak. Untuk apa memberikan clue, jika tidak nyata? Aku harus menemukan apapun itu yang bisa membuktikan dia tidak bersalah." gumam sang perusuh kembali memandang ke seluruh penjuru kamar.
Hingga netra matanya berhenti pada satu lampu gantung yang terpasang di dinding sebelah pintu kamar mandi. Setelah fokus sejenak seraya berpikir tenang. Lampu gantung itu terlihat aneh dan mencolok, tak ingin menghilangkan satu kesempatan saja. Langkah sang perusuh mendekati kamar mandi, lalu meraih lampu gantung.
"Tidak ada apapun di dalam lampu gantung ini, tapi tunggu dulu." Sang perusuh melihat sebuah tombol di balik tempat lampu gantung itu berada, setelah menekan tombol ada suara sesuatu yang bergeser. "Suara itu dari dalam kamar mandi."
Ceklek!
"WHAT'S?!"
__ADS_1