
Sedangkan di belahan negara lain, sebuah rapat akbar tengah dipersiapkan dengan banyaknya para pelayan yang mondar mandir di sebuah hotel berbintang. Rapat akbar akan di adakan dua hari lagi namun persiapan hampir mencapai sembilan puluh persen, membuat decak kagum para pengunjung hotel yang masih menginap di hotel itu.
Sebuah rombongan baru saja memasuki hotel tanpa membawa satu koper pun selain pakaian yang mereka kenakan, terlihat satu pria berjalan paling depan dengan topeng hitam di wajahnya. Tanpa basa-basi di sodorkannya sebuah kartu nama di depan seorang resepsionis, dengan menunduk menyerahkan satu kunci Gold Card dan empat Blue Card kepada pria bertopeng.
"Istirahat lah kalian." perintah pria bertopeng itu menyerahkan ke empat kunci pada ke empat pria di belakang nya.
Satu kunci di masukkan ke dalam dompetnya dengan kartu nama nya yang sudah tak di butuhkan, melihat kepergian ke empat pria bawahannya itu. Kini langkah kaki nya meninggalkan hotel berbintang itu dan di lobi sudah ada sebuah mobil sport yang menunggu kedatangannya, tanpa mengetuk , pintu mobil itu terbuka dan dengan cepat tertutup kembali setelah pria bertopeng memasuki nya.
"Semua sudah siap tuan." lapor sang pengemudi dan menyalakan mesin mobil, meninggalkan hotel berbintang menuju ke sebuah tempat.
Perjalanan hanya memerlukan tiga puluh menit dari hotel berbintang, mobil sport itu memasuki sebuah villa di daerah pinggiran kota L dimana deretan pepohonan mengelilingi villa bergaya modern itu, tidak ada penjagaan ketat bahkan terbilang cukup sepi kawasan itu. Kedua nya turun dari mobil dan berjalan memasuki villa tanpa kunci ataupun permisi, ada sistem keamanan yang hanya menggunakan detector pengenal wajah dari sebuah sirkuit yang tertanam di beberapa tempat dan sirkuit itulah yang akan menjadi sebuah alarm aktif ketika ada penyusup.
"Selamat datang Luxifer, apa kabar mu? " sambut seorang pria beruban dengan tongkat berjalannya.
"Seperti yang kau lihat, bagaimana dengan pencarian ku? " jawab Luxifer melepaskan topeng nya.
"G.One antar tuan besar ke dalam ruang emas." perintah pria beruban itu pada seorang pria yang tadi menjemput Luxifer.
"No. I want you. (Tidak. Aku ingin kamu.)" ucap Luxifer mengangkat tangannya sebagai tanda menolak.
"Hahaha rupa nya kau masih sama saja xifer. Ayo banyak hal yang akan kita bicarakan." ajak pria beruban itu berbalik melangkahkan kaki nya menuju sebuah pintu samping tangga.
Setelah memasuki pintu tanpa adanya seorang pun anak buah, keduanya hanya diam hingga menaiki sebuah lift yang ada di balik pintu samping tangga. Satu tombol menuju lantai bawah tanah adalah tujuan keduanya, tidak ada percakapan kecuali hembusan nafas yang terdengar.
Tiing....
__ADS_1
Suara lift terbuka membuat keduanya bergegas keluar meskipun tidak ada yang mengejar, penyambutan yang luar biasa dengan deretan jeruji besi yang sepertinya masih baru. Tidak semua terisi di balik jeruji besi itu, hanya satu jeruji besi yang terlihat tidak diperbaharui namun ada seonggok manusia yang terbaring menghadap ke arah tembok.
"Apa kau lupa dengan dia xifer? " tanya pria beruban itu yang ternyata memperhatikan setiap gerakan dari Luxifer.
"Hmmm.Tujuanku bukan dia." jawab Luxifer melanjutkan langkah kakinya meninggalkan pria beruban.
"Seberapa besar kau menolak, dia tidak pernah menyerah. Kapan hati mu akan terbuka xifer? " gumam pria beruban itu menyusul Luxifer setelah menatap sekilas ke dalam jeruji besi.
Sebuah pintu besi dengan kunci sidik jari akhirnya terbuka, pemandangan pertama yang terlihat adalah deretan layar besar yang menampilkan berbagai belahan jalan perkotaan berbeda dengan layar-layar sedang di bawahnya. Terlihat kursi-kursi yang cukup tinggi menenggelamkan sosok-sosok yang tengah menari di atas papan keyboard di atas meja, kecepatan ketikan dari jemari itu terlihat tanpa cacat.
"G.Triple tunjukkan File TAM pada tuan besar." seru pria beruban yang berdiri dengan topangan tongkat di tangannya.
"Siap boss." jawab serempak ketiga manusia yang masih belum menunjukkan wajah mereka.
Dalam hitungan detik berikutnya, terpampang jelas setiap layar berubah gambar. Layar pertama menampilkan sebuah club yang cukup terkenal di kota L, layar kedua menampilkan sebuah pabrik dengan butiran serbuk putih yang menumpuk di atas meja besi panjang dengan orang-orang yang terlihat kekurangan gizi mengemas barang haram itu, layar berikutnya menampilkan sebuah mansion yang membuat detak jantung Luxifer memacu dengan cepat.
Terlihat jelas tubuh kekarnya seakan merasakan getaran dengan keringat dingin untuk pertama kali nya setelah bertahun-tahun, dengan sekuat tenaga di amati bangunan megah itu meskipun tak semegah mansion nya saat ini. Namun detail dari mansion di dalam layar itu mampu menarik kesadaran nya lebih dalam menyelami sebuah kenangan yang menghancurkan hati dan kehidupan nya.
"Apa dia pemilik mansion itu? " tanya serak Luxifer menahan emosi di dada nya.
"Semua menunjukkan pekerjaan dari pria yang kamu cari dan ya itu mansion milik nya dengan tanah yang sama dan bangunan yang sama, sekitar satu bulan ini pembangunan selesai. Dan baru satu minggu bangunan itu di tempati olehnya, itu hanya bangunan xifer." ucap pria beruban mencoba menenangkan pria di samping nya.
"Itu bukan hanya bangunan tapi itu bukti cinta ku untuk Naura, tapi bajing@n itu beraninya melakukan semua ini! " ucap Luxifer dengan tangan yang mengepal.
"Apa kamu lupa? Bukti cintamu sudah terbakar bersama mendiang Naura, Aurel dan juga keponakan mu baby Zee, dan itu! Hanyalah bangunan palsu dari tuan serakah Sadarlah xifer. " ucap pria beruban menepuk pundak Luxifer.
__ADS_1
"Hmmm. Lanjutkan." perintah Luxifer setelah menarik nafas dalam.
G. Triple secara bergiliran menjelaskan setiap informasi yang mereka dapatkan membuat sudut bibir Luxifer terangkat, ada sesuatu yang melintasi fikirannya. Aura di dalam ruangan yang tiba-tiba berubah menjadi dingin nampaknya sangat membuat canggung G.Triple, tapi pria beruban hanya bersikap acuh tanpa beban. Setelah puas mendapatkan seluruh informasi, kini kedua pria berbeda usia itu kembali ke atas untuk membicarakan langkah selanjutnya.
"Wine?" tawar pria beruban dengan membuka satu botol wine terbaik di dalam kamarnya.
"Thanks Diego, setelah masalah ini aku akan pensiun." ucap Luxifer sembari menerima satu gelas wine.
Namun wajah Diego hanya jengah mendengar keputusan tuan besarnya itu, setiap kali seorang Luxifer mengatakan akan pensiun akan berakhir dengan sebuah pertumpahan darah yang membuat lutut pria beruban itu semakin rapuh.
"Kau tidak senang?" tanya Luxifer yang tidak mendapatkan tanggapan.
"Kamu itu tidak bosan memberikan beban pada lutut rapuh ku, yah seharusnya aku yang pensiun bukan nya tuan besar seperti mu." ucap Diego meneguk wine dari botolnya.
"Lihat lah caramu minum pria tua, jangan bermain sandiwara." sindir Luxifer melirik sekilas tingkah pria beruban di samping tempat duduknya itu.
Bahkan di usia nya yang tidak muda lagi, seorang Diego masih sangat mahir dan menjadi juara untuk urusan minum tapi bukan untuk urusan wanita. Terbukti dengan status lajang nya setelah sang pujaan hati nya menghilang di telan bumi dan tak pernah kembali, namun jangan memandang sebelah mata seorang Diego karena menjadi seorang bayangan tuan besar membuat dirinya tangguh tanpa satu kelemahan untuk membuat musuh berpesta.
"Sandiwara apa maksud tuan? Aku merasa lututku benar-benar harus istirahat total." keluh Diego memijat lututnya dengan wajah memelas.
Tidak masalah jika assisten bayangan nya itu mengelak karena sebagai tuan besar tentu dirinya tidak lepas tangan dan hanya mengandalkan bawahannya, semua ada dalam pantauan nya dalam diam.
"Terserah kau! Aku tidak tertarik dengan drama mu." jawab Luxifer menatap langit di luar sana.
Suasana menjadi hening dengan kedua pria yang sibuk meneguk wine menikmati keheningan di dalam lingkungan villa yang cukup sunyi, sedangkan di belahan negara lain tengah terjadi perdebatan tanpa akhlak antara dua makhluk lawan jenis.
__ADS_1
"Apa ini yang di namakan kontrak hah? Aku tidak percaya! " seru satu makhluk dengan kedua tangan di pinggangnya.