
Zain menarik nafas dalam, dan membuangnya dengan kasar. Mata tajam menatap Abhi, dengan kedua tangan menyilang di dada. Perubahan wajah Zain terlihat jelas. "Apa anda tahu arti cinta? Arti kepercayaan? Aku bahagia saat my sweetheart bahagia. Bagiku, bukan cinta ku terbalaskan. Akan tetapi, senyumannya adalah tujuan cintaku. Sekarang, kita bahas kerjasama perusahaan. My sweetheart bisa melakukan apapun yang dia inginkan, tugasku hanya melindungi dan mencintainya tanpa syarat."
Penuturan Zain seperti sebuah tusukan jarum tepat di hati Abhi. Bagaimana bisa ada pria mencintai istrinya melebihi cinta miliknya. Terlebih, cinta tanpa syarat dan ucapan Zain sangatlah serius. Tidak ada raut keraguan, apalagi luka. Kemarahan dan kecemburuan seakan teredam dalam satu tarikan nafas.
"Apapun yang ingin kalian bahas, bisa nanti saja? Maaf bos, aku sengaja membawa anda kemari untuk melakukan meeting dadakan. Silahkan Tuan Zain Arham." ujar Leo.
"Okay. Aku mulai, sebelumnya apa Tuan Abhi sudah tahu tentang kerjasama perusahaan yang akan kita bahas?" tanya Zain kembali ke mode serius namun santai.
Leo menepuk kening, satu cengiran dari bibir asisten Abhi. Maka sudah jelas pemilik perusahaan tidak tahu apapun. "Perusahaan kita bekerja sama setelah pengalihan dari proyek RA company ke ABF Company. Saat ini perusahaan ku membutuhkan suplai berlian terbaik, dan juga desain terbaru. RA Company memberikan proyek itu untuk perusahaan anda, meskipun papa menolak. Aku menerima, karena semua sudah keputusan Queen. Untuk detail kerjasama silahkan tanya asisten anda."
Abhi mengangguk dan beralih menatap Leo.
"Proyek ini menjadi proyek terbaru dan terdaftar di list perusahaan. Tuan Justin yang mengurus semua kerjasama, dan melakukan pengalihan setelah menerima perintah. Berita kerjasama dua perusahaan masih belum ke up ke publik, dan setelah kerjasama deal, barulah kita umumkan kerjasama kedua perusahaan. Tentu ini bertujuan untuk saling mendukung dan menambahkan kepercayaan pada client dan konsumen. Detail permintaan dan syarat serta ketentuannya ada di e-mail. Silahkan dibaca bos." Leo menjelaskan dengan detail dan menyodorkan ponsel pribadinya ke Abhi.
Abhi menerima dan membaca setiap kata dan poin dengan teliti, sembari menunggu Abhi mempelajari kontrak kerjasama. Leo memesan minum dan makanan, Zain memilih untuk duduk menyandarkan punggungnya ke kursi. Mengamati sekitar dengan mata tajamnya.
Selang sepuluh menit, Abhi meletakkan ponsel Leo di atas meja. "Bagaimana pengalihan dilakukan tanpa pihak ketiga? Apa kamu bisa jelaskan?"
"Kamu ini pemilik perusahaan atau salah satu karyawan?" tanya balik Zain dengan tatapan sinis.
__ADS_1
Abhi mengernyitkan alis, membalas tatapan sinis Zain dengan tanda tanya. Apa boleh dikata, benar-benar dirinya seperti bayi baru lahir. Setelah kecelakaan dan menjalani pengobatan dan berakhir pada perasaan, lalu pernikahan dan terpenjara di villa keluarga sang istri. Kini tiba-tiba harus kembali ke perusahaan dan terjun tanpa tahu perkembangan perusahaan selama dirinya tidak datang.
"Aku permudah saja. Perusahaan mu telah menjadi bagian dari perusahaan RA company, dan pemilik RA company adalah Queen Asfa Luxifer. Bukankah mahar mu juga saham ABF company? Maka dengan saham itu tanpa izin mu apalagi izin orang lain, Queen bisa membuat keputusan mutlak. Intinya, Queen ingin kamu kembali memenuhi tanggung jawab mu dan dunia Queen kembali berjalan selaras." Zain menjelaskan dengan singkat jelas dan padat, dirinya tidak ingin ada kesalahpahaman sedikitpun jika menyangkut Asfa.
Reaksi wajah Abhi terkejut, penjelasan Zain mampu membuat bibir Abhi kelu. Satu pertanyaan tentang siapa Asfa, akhirnya terjawab dan itu dari bibir Zain. Jika Asfa adalah pemilik RA company, apa arti saham dari maharnya? Bukankah seperti satu lembar kertas untuk membeli satu mobil sport dan tidak lebih. Jika di ingat semuanya, maka setiap kelebihan dan sikap Asfa patut menjadi seorang pebisnis handal. Pantas saja tidak bisa mencari identitas Asfa selama ini, bahkan RA company masih belum menunjukkan sang CEO selain dengan wajah bertopeng di beberapa kesempatan.
Puk!
"Tidak perlu sekaget itu. Bersyukurlah, Queen bukan orang serakah apalagi memikirkan tahta kekuasaan. Aku mengatakan ini, agar kamu tahu jika queen hanya membutuhkan support dan sandaran. Baginya harta bisa dicari, tapi tidak kesetiaan, kepercayaan dan kejujuran…"
"Dia lebih memilih misteri, pertanyaan ku tak pernah mendapatkan jawaban. Apa kamu tahu rasanya jadi aku? Aku ingin mengenalnya lebih dari orang lain, tetapi lihatlah. Aku disini dan dia entah dimana. Bukankah hubungan kami rumit dan aku tidak paham, kenapa Asfa terlalu menyukai menghilang tanpa kata." sela Abhi dengan helaan nafas.
"Ayo kita makan dulu. Kenapa wajahmu bos?" Leo datang dengan membawa nampan minuman bersama seorang pelayan yang membawa nampan makanan.
"Apa kamu resign dari perusahaan? Atau ini profesi tambahan?" tanya balik Abhi kesal.
Leo tidak paham kenapa bosnya menjadi kesal, tapi kekehan Zain seperti menjadi jawaban. Apapun yang dua pria itu bicarakan, sudah pasti sesuatu yang mengubah mood Abhi. "Ayolah bos, jangan lampiaskan kekesalan mu pada makanan. Kita makan, setelah itu kita bahas pekerjaan."
"Hmm."
__ADS_1
"Sorry oke. Tuan Abhishek, percayalah pada istrimu. Maka, ku jamin hidupmu akan baik-baik saja. Jangan pernah ragukan Queen, kamu tidak tahu bagaimana hidupnya berjalan. Ku harap kamu bisa memahami queen suatu saat nanti. Ayo kita makan, terimakasih Leo." tutur Zain menetralkan suasana.
Abhi mengangguk dan memilih diam, Leo bisa merasakan perubahan suasana menjadi dingin. Namun, ketiganya tetap menikmati makanan dan minuman yang tersaji.
Setelah menyelesaikan makan siang bersama, Leo memanggil pelayan dan membiarkan meja di bereskan. Tiga kopi berbeda rasa tersaji setelah meja kembali bersih. Kini Leo, Abhi dan Zain sudah duduk saling menghadap. "Baiklah, apa bos sudah memahami syarat dan ketentuan dari perusahaan Tuan Zain Arham?"
"Lanjutkan." jawab Abhi dengan tegas.
Leo mengangguk, dan membuka ponselnya. Setelah terlihat sibuk beberapa saat, Leo meletakkan ponselnya diatas meja dan tepat ditengah. "Ini kontrak kerjasama dari RA company, baik pihak bos Abhi dan Tuan Zain harus mematuhi aturan perusahaan kiblat. Meskipun kerjasama terjalin, tetap saja perusahaan RA company yang menjadi penanggungjawab. Jadi fikirkan sekali lagi, karena menyalahi satu klausul dari RA company sama saja menghancurkan perusahaan sendiri."
Tangan Zain mempersilahkan Abhi untuk melihat kontrak kerjasama RA company terlebih dulu, setelah bersama Queen beberapa waktu. Peraturan seorang Queen tidak akan jauh dari prinsipnya. Pasti kemakmuran untuk kesetiaan dan kehancuran untuk pengkhianatan. Klausul terpenting dan pertama diatas klausul lainnya.
Berpindah pada klausul kedua, dimana pasti berisi tentang pembatasan akses rasa ingin tahu para client. Bagi para client tidak diperkenankan ikut campur terlalu dalam, dan hanya bisa memberikan satu kali protes dan saran. Tanggung jawab kerugian memang dibebankan pada RA company, tetapi tanggung jawab kepercayaan dan kesetiaan menjadi mutlak tanpa syarat.
Keuntungan yang pasti bisa mengubah satu perusahaan biasa menjadi perusahaan terkenal dalam satu malam. Jika mematuhi dan menerima semua klausul tanpa ragu. Hanya saja banyak client memilih melakukan kerjasama dalam bisnis kecil. Sedangkan RA company sendiri sangat selektif saat menerima pengajuan kontrak kerjasama.
"Apa semua peraturan ini Asfa yang buat?"
Zain dan Leo saling pandang, keduanya sepakat menggelengkan kepala. Kali ini bukan helaan nafas. Akan tetapi wajah polos dan tanda tanya Abhi, sungguh membuat kedua pria di tempat itu gemas.
__ADS_1