My Secret Life

My Secret Life
Bab 211: Ruang Kerja Tuan Luxifer


__ADS_3

"Apa alasan kegelisahan mu adalah berita itu?" tanya Vans.


"Kakak benar, Aku memikirkan hal itu. Ntah kenapa wanita itu seperti serigala berbulu domba. Apakah hanya perasaan ku?" jelas Asfa dengan jujur.


Vans terkekeh mendengar pernyataan perinya yang terkesan meragukan kemampuannya sendiri. Kekehan itu disambut lirikan tajam, membuat pria itu membungkam bibirnya sendiri. "Kita pulang ke Villa, pasti Rose sudah menunggu. Soal wanita aneh itu, aku sendiri yang akan menyelidikinya. Agree?"


"Agree." jawab Asfa.


Mobil kembali melaju melintasi jalan utama menuju Villa. Tidak ada percakapan lagi karena Asfa memilih terbang ke alam mimpi. Kesehatan yang masih saja suka mempermainkan dirinya, membuat fisiknya sangatlah rentan.


Vans tengah fokus mengemudikan mobilnya. Sementara di mansion mafia Phoenix, Tuan Luxifer merebahkan punggungnya ke sandaran kursi kerja dengan kedua tangan diatas kepala.


Suara langkah kaki memasuki ruangan kerjanya, dan aroma parfum yang cukup menyengat menyebar.


"Apa semua sudah beres, Justin?" tanya Tuan Luxifer tanpa membuka matanya.


"Dia tetap tidak mau mengakui kesalahannya. Semua penyiksaan sudah dilakukan, tapi keras kepalanya tidak mau luntur sedikitpun." lapor Justin berhenti tepat di depan meja kerja tuan besarnya.


Tuan Luxifer menurunkan kedua tangannya, lalu mengambil pulpen di atas meja.


Tuk!


Tuk!


Tuk!


Justin tahu jika tuan besarnya itu tengah berpikir bagaimana membuat musuh besarnya buka mulut.


"Kenapa, Tuan, tidak mencoba meminta bantuan Queen?" saran Justin, membuat ketukan meja tuan Luxifer berhenti dan menjadi tatapan tajam ke arahnya.


"Saya tahu, jika Tuan hanya ingin Queen menjalani hidup sederhana tanpa penekanan dunia mafia. Akan tetapi, jujur saja. Satu perintah dari queen bisa mengubah banyak hal....,"


"Apa kamu mau jadi santapan Molly?" tanya tuan Luxifer dengan santainya.

__ADS_1


Justin menggelengkan Kepala, lalu menunduk. "Tuan, masalah perbatasan semakin besar. Sejak berita kepergian queen bocor, sejak saat itu para musuh mulai membuat ulah. Mereka berpikir, jika mahkota mafia Phoenix telah tumbang."


"Aku tahu, bukan hanya para musuh. Sebagai seorang ayah pun, aku sangat kehilangan putri rajaku." Tuan Luxifer mengusap wajahnya kasar. "Aku akan coba bicarakan masalah ini dengan Varo."


Ceklek!


"Siang, Pa." sapa dua orang yang masuk ruangan kerja tanpa permisi.


Justin menatap sesaat, sedangkan Tuan Luxifer tersenyum melihat putranya sudah kembali bersama dengan Rania.


"Siang juga, Nak. Bagaimana pemeriksaan adik kalian?" tanya Tuan Luxifer.


Wajah cemas sang papa, membuat Varo melepaskan tangan Rania dan menghampiri papanya.


"Tenang, Pa. Queen baik, dan begitu juga hasil pemeriksaannya. Semua alat medis yang dibutuhkan juga sudah sampai. Kini doll hanya fokus dengan baby Rose." jelas Varo.


Tuan Luxifer menghela nafas lega. "Rania, apa pekerjaanmu sudah selesai?"


"Iya, Pa. Rania sudah mencari semua informasi, dan satu kebenaran tentang Tuan Mahendra mulai tercium. Apa papa belum check e-mail? Rania sudah kirimkan beberapa buktinya." jawab Rania seraya berjalan mendekati meja kerja papa mertuanya.


Semua masih tentang mantan mertua adiknya. Hingga satu foto yang cukup wow terpampang jelas, "Pa, perbesar foto itu!" Varo menunjuk ke foto di sudut teratas.


Tuan Luxifer melakukan permintaan putranya, dan foto diperbesar. Wajah wanita dengan penampilan vulgar tengah asyik memainkan terong di dalam mulutnya.


"Ck! Menjijikkan." gumam Varo, membuat Tuan Luxifer melirik putranya.


"Dia itu Kanza, wanita yang selama beberapa bulan selalu mengekor di belakang Abhi. Wanita itu, juga menjadi alasan pria bodoh itu tidak sadar. Betapa dangkalnya pemikiran yang dianggap benar selama ini. Aku sengaja memantau semua kegiatan mantan suami adikku. Aku tidak mau dia mendekati doll lagi." Varo menjelaskan sebelum papanya memberikan pertanyaan.


Rania tersenyum tipis, sedangkan Justin hanya bisa mendengarkan.


"Itu hak mu, Nak. Papa tidak melarang semua bentuk perlindungan mu, tapi kamu ingatkan. Jika adikmu ingin kita semua menjauhkan diri dari masa lalunya?" ujar Tuan Luxifer mengingatkan putranya.


"Aku ingat, Pa. Anggaplah ini sebagai bentuk antisipasi. Terlebih saat doll melahirkan, wanita aneh itu juga ada di rumah sakit yang sama." jawab Varo dengan serius.

__ADS_1


Triing!


Triing!


Suara dering ponsel mengalihkan perhatian Justin, tangannya mengambil benda pipih dari dalam saku celananya.


[Siapkan pasukan! Aku tunggu malam nanti di jalan Veteran empat.]


Apa ini mimpi? Sepertinya tidak, tapi apa aku harus mengatakan pada Tuan besar? Bagaimana ini?~batin Justin dilema.


Rania yang tak sengaja melirik Justin sesaat, melihat gelagat aneh dari asisten adik iparnya itu. Ada senyuman di bibir Justin, tapi kecemasan dan ketegangan juga jelas nampak di wajah pria itu.


"Tuan besar, Tuan muda, dan Rania. Aku pamit dulu, ada informasi baru yang harus aku periksa dari markas." pamit Justin, membuat Tuan Luxifer melambaikan tangan sebagai tanda memberikan izin.


Langkah kaki Justin berjalan menuju pintu.


Aku harus tahu apa yang dia sembunyikan. ~batin Rania.


"Hubby, boleh aku ke kamar terlebih dulu?" Rania meminta izin suaminya dengan lembut.


"Pergilah, dan istirahat! Aku akan bersama papa untuk membahas bukti darimu." jawab Varo.


"Jangan lupa makan, Nak." sambung Tuan Luxifer.


Rania mengangguk dan berbalik. Langkah kakinya berjalan meninggalkan ruangan kerja papa mertuanya.


Ceklek!


Tatapan matanya mencari sosok Justin.


"Itu dia," Rania berlari di dalam ruangan utama mansion tanpa mempedulikan tatapan para bodyguard.


Justin yang menuju pintu utama mansion, harus berhenti ketika tangannya di hadang saat ingin membuka pintu.

__ADS_1


"Ada apa?"


__ADS_2