
Setelah kedua orang tua itu memasuki ruangan dan pintu tertutup kembali, di tarik nya tangan gadis di samping nya. Gadis nya tidak melakukan perlawanan selain hanya mengikuti langkah kaki nya, langkah itu berhenti tepat setelah memasuki sebuah ruangan di dekat kolam renang. Di tarik nya sebuah kursi utama dan mendudukkan gadis nya di kursi tersebut, sedangkan dirinya memilih untuk duduk bersimpuh dengan satu tumpuan kaki kanan nya.
"Why like this? Tell me clearly! " tanya dokter itu dengan mengusap kedua tangan gadis di hadapan nya.
"Kakak tahu jika dia baru menyelesaikan dua operasi dalam waktu dekat, satu kejutan bisa memberikan dampak yang tidak bisa kita hindari. Masih ada waktu untuk membuat nya memahami siapa diriku, kakak paham maksud ku. " jawab Asfa dengan mengusap pipi Alvaro.
"Baiklah, lalu bagaimana dengan rencana setelah ini? " tanya Alvaro.
"I still need go, now all's is your responsibility." jawab Asfa dengan melepaskan tangan Alvaro.
Perpindahan adik nya di biarkan seperti nya gadis itu melihat sesuatu di balik tirai yang menutupi pintu kaca, dengan menyibakkan tirai kini satu sosok membuat wajah manis Asfa lega. Sedangkan sosok yang menjadi kikuk justru mengaruk kepala nya yang tidak gatal dan membuka pintu kaca dengan wajah yang dibuat secantik mungkin.
"Ka, bisa tinggalkan kami berdua." ucap Asfa setelah sosok yang mencuri dengar berdiri di hadapan nya.
"Sure, take care of yourself my doll. Always give me breaking news, no matter where you. Understand queen? " ucap Alvaro melangkah mendekati adik nya.
"Hmm." jawab Asfa dan membiarkan Alvaro meninggalkan ruangan itu sembari menutup pintu kaca yang masih terbuka.
"Queen? " panggil sosok itu dengan manja.
"What you want? " ucap Asfa dan kali ini suara nya sudah tegas.
"Maaf." ucap sosok itu menunduk.
"Tatap mata ku jika kamu tidak memiliki niat buruk! " ucap Asfa dengan penuh tekanan dan memegang dagu sosok di depannya.
"Hiks.. hiks.. hiks.. Maaf. Nana tidak berniat buruk, Nana cuma ikutin queen tadi." jawab Rania dengan isakan tangis.
__ADS_1
Mendengar hal itu tidak membuat Asfa melepaskan tangan nya di dagu gadis itu, ada yang harus di ajarkan agar gadis di depannya itu tahu peraturan di dalam circle kehidupan queen.
"Jaga pandangan dan lidah mu di dalam naungan Luxifer, stop rasa penasaran yang membuat mu bertindak ceroboh! " ucap Asfa dan melepaskan tangan nya.
"Queen, sungguh aku tidak memiliki niat jahat. Percaya lah. " rengek Rania dengan lelehan air mata.
Bukan nya menjawab tapi Asfa membuka pintu kaca dan berjalan menuju ke kamar pribadinya dan membiarkan Rania sesengukan dengan mengekor di belakang nya, bahkan para bodyguard dan pelayan yang melihat itu hanya bisa menghela nafas. Sedangkan dari arah pintu mansion terdengar langkah kaki memasuki mansion dan suara nya menghentikan langkah Asfa.
"Queen? " panggil orang itu.
"Semua sudah siap, mau berangkat sekarang atau? " lapor orang itu dengan santai.
"Kirim Leo kemari dan pasti kan pria itu menjaga rahasia. Tunggu sepuluh menit, aku akan bersiap." perintah Asfa dan kembali melanjutkan perjalanan menuju kamar nya.
"Hey stop! Siapa kamu? " tanya orang itu dengan menghadang gadis yang ingin menyusul nona muda nya.
"Dia Rania duke Justin, gadis IT tuan besar yang termuda. Baru kemarin malam gadis itu datang ke mansion, gadis yang manja tapi kemampuan nya cukup lumayan." jawab wanita paruh baya berpakaian tomboy yang ntah datang dari mana.
"Diam di sini! Queen akan turun setelah sepuluh menit." perintah Justin dan tetap berdiri di depan Rania.
Terlihat gadis itu sibuk menggerutu tapi bunda Anya hanya berjalan melanjutkan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab nya, sedangkan Justin masih siaga mengawasi gadis yang sangat jelas terlihat merepotkan dan juga manja. Hingga suara langkah kaki mulai terdengar menuruni tangga, serempak Justin dan Rania memandang ke arah tangga, ke dua nya terdiam dengan pesona yang tersaji di depan mata.
Penampilan yang membuat queen terlihat seperti seorang putri dengan dress mewah nan elegan dan rambut terurai dengan sebuah kalung di lehernya yang menambah style girlie, terkadang perubahan penampilan queen cukup membuat orang-orang di sekeliling nya terpesona dan enggan berpaling.
"Ekhem! " dehem Asfa yang melihat Justin dan Rania masih tidak berkedip.
__ADS_1
"Queen are you okay? " tanya Justin yang baru beberapa menit sebelum nya melihat nona muda nya dengan pakaian seperti pembantu dan beberapa menit kemudian sudah berubah menjadi putri raja.
"Queen, ajari aku agar bisa cantik seperti ini." pinta Rania dengan puppy eyes nya.
"Whatever." ucap Asfa dan memilih melenggang pergi dari ke dua makhluk aneh dan berjalan menuju pintu utama mansion.
Bruug.. Greeb...
Sebelum mencapai pintu utama, pintu terbuka dengan kemunculan seseorang yang langsung menabrak orang di depannya dan dengan cekatan tangan kekar nya meraih pinggang seorang gadis yang tidak sengaja di tabrak nya. Mata nya terpaku dengan mata biru laut yang dalam, riasan tipis yang membuat wajah putih itu lebih manis dan mempesona, setiap kali kelopak mata itu berkedip mampu mengetarkan hati nya.
Sedangkan sang gadis merasa jengah dengan posisi nya saat ini, seperti nya orang yang merengkuh pinggang nya masih travelling ntah kemana. Hingga dirinya merasa kan tangan kekar lain menarik tubuh mungil nya ke dalam pelukan orang lain, namun aroma parfum itu sangat di kenali Asfa.
"You okay my doll? " tanya Alvaro dengan membantu adik nya untuk berdiri setelah terjatuh ke dalam pelukannya.
Maksud nya setelah merebut tubuh adik nya dari pria keturunan Inggris yang masih belum memiliki kesadaran sepenuhnya, adik nya hanya mengangguk dan merapikan dress nya yang sedikit berantakan akibat insiden tak ber perasaan itu.
Plak...
Satu tepukan mampu membuat pria keturunan Inggris itu kembali ke dunia nyata dan di dalam lingkaran tangan nya sudah tidak ada gadis cantik yang membuat hati nya menabuh genderang perang dan kini justru ada wajah sangar dari pemimpin nya.
"Temui yang lain dan katakan, akan ada rapat dadakan tiga puluh menit dari sekarang. Aku tunggu di tepi kolam tenang! " perintah Alvaro dan meninggalkan pria keturunan Inggris dengan wajah linglung.
"Le, sadar lah." guma pria keturunan Inggris itu dengan menepuk kening nya sendiri.
Sedangkan di dalam sebuah mobil sports terjadi sebuah pembicaraan dari satu pihak dan pihak lain nya hanya menjadi pendengar yang baik dan tenang, di mobil lain nya justru seorang gadis tengah sibuk menggerutu dengan di dengar kan oleh dua orang pria di kursi depan. Niat nya ingin bisa dekat dengan orang yang membuat nya semangat tapi justru berakhir dengan perpisahan tanpa persetujuannya, tapi siapa dirinya itu? Kesadaran yang masih tersisa membuat gadis itu berhenti menggerutu dan duduk dalam diam menatap keramaian di jalan raya yang kali ini terlihat cukup ramai.
Hingga mobil memasuki sebuah pusat perbelanjaan yang sangat besar dan mobil itu terparkir di tempat khusus , tanpa menunggu pintu di buka kan gadis itu keluar dari mobil dan mulai berjalan menuju lift yang ada di area parkiran. Tentu saja dua pria yang bersama nya mengikuti setiap langkah nya dengan diam dan tidak ada satu pertanyaan pun yang keluar dari ke dua bibir yang seperti terkunci.
__ADS_1
"Ayolah kenapa kalian diam saja, bicaralah! " keluh gadis itu dengan gemas.
"Tugas kami melindungi bukan ceramah!" jawab salah satu pria yang langsung membuat gadis itu mendengus kesal dan keluar dengan langkah seribu setelah lift berhenti dan terbuka.