My Secret Life

My Secret Life
Bab 41: Percaya tidak percaya


__ADS_3

Kriingg... kriingg...


"Halo siapa ini? " tanya seorang wanita dari seberang.


"Ada rapat dadakan di perusahaan 30 menit lagi, tolong sampaikan pada tuan untuk menghadiri nya." jawab sang penelfon dengan segera menutup sambungan telfonnya.


"Pergilah! " perintah seseorang yang telah berdiri di depan jendela dengan pakaian kerja nya yang terlihat modis.


"Permisi queen." ucap orang itu dengan menunduk dan meningkatkan ruangan presdir.


Klik..


Setelah pintu tertutup terlihat gadis itu masih setia memandangi pemandangan di bawah sana, lalu lintas di daerah perkantoran sang suami dimana sejak siuman masih belum di temui nya dan hanya mendapatkan kabar terkini dari anak buah nya yang sudah di susupkan di setiap kediaman keluarga Bagaskara. Yah gadis itu adalah Asfa sang Istri presdir dari ABF Company yang telah menyiapkan sebuah kejutan untuk ayah mertua nya dan terlihat jelas wajah serius dengan tingkat kedataran terpantul dari kaca didepannya, dari pantulan terlihat satu sosok lain yang tengah sibuk duduk berkencan dengan laptop tanpa melirik kesana kemari dengan suara ketikan yang memecahkan keheningan ruangan.


"Queen semua sudah siap, dan bocah kacamata itu sudah membawa target untuk kemari." ucap sosok itu tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.


Tidak ada tanggapan tapi dirinya percaya jika gadis di depan kaca itu mendengar ucapannya, setelah memastikan semua pekerjaan nya beres dan bisa diserahkan kini di tutupnya laptop itu sembari merentangkan kedua lengannya yang terasa kaku.


Kedua nya hening hingga sebuah panggilan masuk terdengar di atas meja, dengan cepat sosok yang duduk bangkit dan mengangkat telfon kantor itu. Sejenak berbicara dan memberikan perintah agar semua dipersilahkan masuk, tanpa menunggu lama sekitar lima menit terdengar suara ketukan pintu yang membuat sosok tadi melangkah membukakan pintu dan mempersilahkan masuk.


"Tuan dan Nyonya Mahardika silahkan masuk, Leo pesan kan kami jus." perintah sosok itu yang langsung di angguki pria berkacamata tanpa membantah.


"Tuan Justin anda di sini? " tanya Tuan Mahardika yang sebenarnya sedari tadi memasuki wilayah perkantoran putra nya memiliki banyak pertanyaan.


Biasanya perkantoran anaknya tidak memiliki keamanan yang ketat bahkan terbilang humble untuk umum tapi hari ini dengan mata nya sendiri terlihat begitu banyak perubahan yang membuat nya sendiri hampir mengira salah memasuki wilayah. Terlihat banyaknya keamanan dengan sistem keamanan yang baru, dengan pergantian personil yang terlihat lebih terlatih dan cerdas, jika boleh jujur di dalam hatinya sendiri merasa kagum dengan pengaturan baru dan bisik-bisik karyawan yang sudah tidak terdengar lagi kecuali melihat kesibukan para karyawan dengan wajah serius bak siap di terkam singa.


"Silahkan duduk dulu, setiap pertanyaan anda hanya dia yang berhak menjawab." jawab Justin memandang queen nya yang masih diam di tempat.


"Siapa dia? Kenapa terlihat tidak asing? " tanya Nyonya Mahardika yang mengenali sosok di depan kaca meskipun masih enggan berbalik.


"Sabar bund, papa juga ingin tahu bagaimana perubahan di perusahaan ini bisa terjadi tanpa sepengetahuan papa." jawab papa Mahardika yang memang bingung.


Meskipun dirinya sudah pensiun tapi setiap perkembangan perusahaan sudah pasti dirinya akan tahu karena putra nya dan orang-orang di dalam perusahaan adalah orang-orang kepercayaan nya, tapi sejak kecelakaan putra nya justru berita tentang perusahaan pun hilang dan assisten putra nya itu hanya mengatakan semua terkendali. Dalam keadaan bersedih dan fokus dengan kesehatan putra tunggalnya membuat dirinya percaya begitu saja hingga langkah kaki nya menginjak kembali perusahaan milik keluarga nya beberapa menit lalu, semua pertanyaan terkendali itu menjadi kegelisahan di dalam hati nya berharap perusahaan tidak bangkrut hanya karena di tinggal sejenak oleh putra nya.


"Silahkan di minum Tuan dan Nyonya, sebelum queen membahas masalah perusahaan." ucap Leo yang sudah kembali membawa beberapa gelas jus jeruk ke dalam ruangan boss nya.


Terlihat ragu namun akhirnya kedua orang tua itu menuruti saja tanpa bertanya lagi, satu hingga beberapa tegukan berhasil mengalir. Hingga gelas itu kembali ke atas meja, suara sepatu dengan heels yang tinggi terdengar memecah kesunyian membuat semua mata memandang nya.


Terlihat dua pasang mata menatap dengan sorot kagum namun ada pertanyaan , dipandang nya beberapa kali dari atas sampai bawah. Jelas sekali gadis di depan yang berjalan menghampiri meja mereka sangat lah cantik dan modis, bahkan model yang biasa mondar mandir di layar kaca pun kalah dari gadis itu.


Wajah mungil, mata biru setenang laut dengan bulu mata lentik asli, hidung mancung, bibir semerah cerry dengan kulit putih ditambah lagi dengan dress putih yang di gunakannya menambah kesan wanita dewasa meskipun wajahnya terlihat lugu dengan tingkat keseriusan tinggi. Terasa tidak asing namun juga ada keraguan hingga terdengar suara nya yang mampu membuat lamunan kedua mertuanya itu kembali ke dalam dunia nyata bukan dunia imaginasi, terlihat kedua orang tua itu saling pandang seakan masih ingin mencerna dan memastikan penglihatan dan pemandangan di depannya adalah nyata.

__ADS_1


"Ekhem! Bunda Aliya, Papa Mahardika baik-baik saja? " tanya gadis itu sedikit menurunkan wajah dingin nya dengan senyuman tipis.


"Nak ini kamu? Bagaimana ini pa? Kenapa tiba-tiba menantu kita berubah? " tanya bunda Aliya seakan masih belum percaya.


"Tenang sayang, kita dengarkan dulu apa yang sebenarnya." ucap Papa Mahardika setelah melihat Justin yang hanya mengangguk.


"Baiklah pa, siapa kamu sebenarnya? Kali ini jawab jujur, bagaimanapun kamu adalah istri putra kami dan sudah menjadi bagian keluarga kami." ucap bunda Aliya yang menatap menantu nya tanpa berkedip.


Bukan hanya mata nya yang harus diperiksa tapi juga kesehatan nya setelah ini, karena menantu nya yang terlihat sederhana kini berubah menjadi wanita berkelas tanpa sedikit celah pun melihat penampilan gadis itu seakan gadis itu sudah terbiasa.


"Justin tunjukkan." perintah Asfa dengan suara dingin yang mengubah suasana menjadi canggung dan mencekam, terlihat penghuni ruangan itu merinding dengan suara kepemimpinan gadis itu.


"Pa." lirih bunda Aliya yang merasa ngeri sedap untuk pertama kali nya berhadapan dengan menantu nya.


Hanya sebuah genggaman tangan dan elusan untuk menenangkan istrinya, kini kedua orang tua itu melihat presentasi singkat jelas dan padat dari Justin. Dengan beberapa fitur terkini yang sudah di siapkan dirinya seperti perintah queen nya, satu pasang mata terlihat seakan mata nya ingin keluar saking terkejut nya dengan apa yang di lihat dan di dengarnya namun satu pasang mata lagi seakan masih stabil dengan guncangan jiwa yang meminta tolong atas kelancangan keluarga mereka hingga semua melupakan sosok kacamata terakhir yang ikut menjadi penonton di belakang sana dengan tangan didada nya.


Bruuuug...


"Leo! " seru bunda Aliya yang terkejut mendengar suara sesuatu jatuh.


"Tenang, biar dia urusan anak buah saya." ucap Justin santai dan ingin menelfon anak buahnya.


"Baik queen. " jawab Justin dengan hati tidak rela mengangkat pria berkacamata tanpa otot itu, tentu hanya Justin yang berfikir seperti itu.


Kenapa hanya Leo yang pingsan setelah mendengarkan ceramah singkat tuan pemaksa, karena berita yang di bawa pria itu adalah guncangan terbesar selama hidupnya. Sedangkan tuan dan nyonya Mahardika masih bisa menjaga spot jantung mereka dalam taraf aman terkendali, membuat penghuni ruangan itu tahu seberapa besar pengendalian emosi kedua pasangan suami istri itu.


"Nak apa semua ini benar? " tanya papa Mahardika dengan menatap menantu nya.


"Semua yang anda lihat adalah benar tuan dan nyonya, tapi lebih baik queen saja yang menjelaskan nya." jawab Justin dengan tenang.


"Inilah diriku sebenarnya, tidak ada tirai lagi yang tertutup. Bukan maksud saya untuk menipu keluarga anda, tapi janji adalah hutang dan saya ingin menepati janji assisten pribadi saya kepada anda. Siapapun diri saya, saya tetaplah Queen Asfa Luxifer dan tidak akan berganti wajah dengan seribu topeng sekaligus." ucap Asfa dengan tegas menatap mertua nya dengan mata biru yang memancarkan kejujuran.


"Bunda sungguh tidak percaya memiliki menantu yang luar biasa jauh dari kata imaginasi, tidak akan ada yang menyangka jika putra ku akan menikahi gadis misterius yang selalu menjadi perbincangan dunia bisnis. Sungguh ini mimpi bagi bunda, benar kan pa." ucap bunda Aliya dengan mata berkaca menahan genangan air di pelupuk mata nya.


"Papa juga tidak menyangka, maafkan kami karena kami tidak menyelidiki siapa dirimu sebenarnya nak." ucap Papa Mahardika dengan menyesal.


"Tuan Abhi sudah melakukan itu tapi nihil hasilnya." jawab seseorang yang ternyata sudah bangun dari shock nya.


"Benarkah? " tanya kedua orang tua itu menatap assisten nya.


"Tidak seorang pun akan menemukan identitas queen kami, karena queen kami di berkahi dengan kecerdasan dan keluarga yang over protective." jawab Justin dengan senyuman bangga.

__ADS_1


Senyuman yang mampu membuat kaum hawa melting, untung saja hanya dua wanita di ruangan itu yang tidak akan tertarik dengan senyuman itu. Senyuman itu sangat menggambarkan rasa bahagia nya menjadi assisten seorang queen yang memiliki wajah mungil dengan sejuta pesona.


"Justin." peringatan Asfa yang tidak ingin assisten nya itu terlihat manis.


"Baiklah, mari ke inti permasalahan." ucap Justin mendatarkan kembali wajahnya.


Dengan langkah seperti seorang pria pembisnis, justin menghampiri meja yang menjadi tempat presdir bekerja. Di atas meja ada satu map hitam dengan simbol mahkota perak bertepi emas, di ambil nya dengan penuh perasaan.


"Silahkan dipelajari dan apapun keputusan ada di tangan kalian, jika ragu maka katakan saja." ucap Justin sembari meletakkan map hitam itu di depan mertua queen nya.


"Papa dan bunda boleh membawa nya terlebih dahulu, aku tidak terburu-buru." ucap Asfa dengan lembut seakan ingin meluluhkan hati mertua nya.


Dengan bahasa isyarat mata nya, Justin tahu queen nya ingin kedua mertua nya itu di antar kembali ke kediaman mereka dimana leo menjemput mereka. Sedangkan leo terlihat masih harus belajar banyak hal untuk memahami semua nya, cara tuan Justin bekerja terlalu perfeksionis yang sulit di tiru.


"Istirahat lah, jangan terlalu memikirkan banyak hal." ucap Asfa untuk membuat kedua mertuanya tenang.


"Nak kapan kamu pulang? " tanya bunda Aliya yang masih setia duduk di sofa.


"Bunda dan papa pulanglah, setelah melihat map itu pasti kalian akan tahu kapan aku kembali." jawab Asfa dengan senyuman.


"Nak... " ucap papa Mahardika yang terhenti ketika melihat raut wajah menantu nya sesaat berubah dengan jelas namun hilang dalam hitungan detik.


Aura di ruangan itu pun menjadi semakin dingin bukan karena AC bervolume full tapi aura sosok yang tengah menahan amarahnya, Justin yang menyadari perubahan cuaca langsung menghadap ke arah queen nya. Wajah tenang dengan sejuta perasaan yang tertutupi dengan wajah dinginnya, namun terlihat bibir itu menahan sesuatu yang ingin ucapkan nya.


Tanpa satu kata, di sodorkan nya satu tangan dan tanpa menjawab satu earphones bluetooth kini ada di tangannya.


"Katakan! " ucap dingin Justin setelah menggunakan earphones queen nya.


Suara dari seberang membuat Justin melirik boss nya sekilas, pantas saja queen nya mengubah cuaca dalam hitungan detik membuat penghuni ruangan presdir merinding tertekan. Dengan isyarat Justin memerintah Leo agar membawa orang tua Abhi kembali ke kediaman Bagaskara, terlihat kedua orang tua itu tidak paham apa yang terjadi namun hanya bisa menurut dengan membawa map hitam keluar dari perusahaan keluarga nya dengan tanda tanya sekali lagi.


Kepergian mertua nya membuat sebuah senyuman devil terbit di bibir gadis itu, Justin yang menyadari itu harus menelan saliva nya dengan susah payah. Terbiasa yah memang sudah terbiasa tapi rasa dejavu akan senyuman iblis itu yang tidak pernah menjadi biasa untuk nya meskipun dirinya juga kejam jika menyangkut seorang pemain curang.


"Siapkan kejutan untuk boneka ku! Sudah waktu nya aku bermain." perintah Asfa dengan lembut namun menghanyutkan.


Tanpa menjawab, satu benda pipih di saku nya diraih dengan mendial sebuah number. Terdengar beberapa saat percakapan yang membuat pria itu bertindak layaknya seorang pemimpin, percakapan selesai dan menatap queen nya yang masih setia duduk dengan kaki nya menyilang di atas sofa.


"Done.(Selesai.)." ucap Justin singkat dan dibalas senyuman iblis sekali lagi.



(outfit Queen Asfa Luxifer saat tampil perdana di perusahaan ABF company)

__ADS_1


__ADS_2