
Kepulan asap dengan kobaran api masih menyala menambah hawa panas di tengah puing-puing. Beberapa langkah mulai memasuki kepulan asap. Semua berjalan mengikuti irama wanita di barisan depan. Jemarinya mengarahkan pasukan terbagi menjadi dua bagian yaitu satu ke selatan dan satunya lagi ke utara.
Tak ada kata yang terucap. Hanya ada bahasa isyarat, dan semuanya terpisah. Wanita itu memilih menjelajahi puing-puing seorang diri. Langkah kaki diperhitungkan agar selamat dari benda-benda tajam di sekitarnya. Hingga di satu titik yang sudah ditandai. Ia berhenti seraya mengamati lantai di bawah kakinya.
"Let's open your secret." (Mari kita buka rahasiamu.)
Topeng di wajah, tangan terbungkus sarung tangan special dan sebuah pistol revolver menjadi pemanis tangan kanannya. Fokus hanya pada satu lubang di bawah kaki. Senjata terangkat, memejamkan mata kiri, fokus pada bidikan, dan tembak. Satu peluru lepas dari sarangnya dan tepat mengenai lubang, membuat segel di bawah tanah terbuka. Tidak ada suara bising karena memakai peredam. Wanita itu memasukkan senjatanya ke punggung seraya berjongkok, lalu mengetuk sekeliling lubang di depannya.
Tuk!
Tuk!
Tuk!
__ADS_1
Bunyi yang yang dihasilkan seperti ruangan kosong, membuatnya berdiri lalu melangkah mundur satu langkah. Tak menunggu lama. Ia menghentakkan kaki kanannya sekuat tenaga hingga dalam hitungan lima terjadi retakan dari satu pola lantai bergambar kepala cobra. Lubang yang menjadi titik kelemahan adalah mata kiri si ular cobra.
Retakan itu meruntuhkan lantai dengan diameter dua meter kali satu meter. Tidak ada ruangan rahasia ataupun tangga yang menampakkan diri. Dari puing-puing lantai hanya terlihat sebuah kotak peti ukuran sedang. Tanpa memperhitungkan tindakannya. Queen tetap menyingkirkan puing, lalu mengambil kotak peti.
"Jangan bergerak!"
Niat hati ingin berbalik, akan tetapi sebuah benda terasa menyentuh kepalanya. Dari pengalamannya. Sudah jelas benda itu adalah sebuah senjata laras panjang. Jika ukuran senjata saja sudah berbeda, suara yang dihasilkan juga akan berbeda. "Hmm. Apa senjata mu setajam lidahmu?"
Dirinya masih hafal suara yang terdengar tidak asing. Adanya pria itu, menandakan konspirasi baru tengah di jalankan. Ntah konspirasi seperti apa, dan kenapa harus melibatkan pria yang tidak paham dunia tipu muslihat.
Queen berbalik tanpa ragu. Tatapan mata langsung terpatri pada mata biru di depannya yang kini menodongkan senjata tepat di keningnya. Tidak ada rasa takut, apalagi cemas. Peraduan dua mata biru saling mencoba menenggelamkan. Namun, tidak ada yang bisa mengalahkan aura intimidasi seorang wanita berjiwa pemimpin sepertinya.
Senjata di genggam seraya diturunkan tepat di dadanya dengan tatapan tajam, "Shoot!" (Tembak!)
__ADS_1
Pria pemegang senjata tak paham. Kenapa wanita itu justru memasangkan sasaran pelurunya tepat di dada. Apakah nyawanya tidak berguna? Jika iya, apa boleh buat. Tanpa pikir panjang, fokus di alihkan. Di saat siap memulai bidikan, Queen memegang topeng yang menutupi wajahnya lalu dilepaskan. Saat itulah mata terbelalak spontan mengubah arah senjata ke atas dimana hanya ada langit.
Doorr!
Reaksi terkejut dengan tubuh bergetar pria bermata biru, membuat Queen berjalan maju menghampiri pria itu. Langkah kakinya terhenti dengan jarak satu meter. "Kenapa? Bukankah kamu bisa membalaskan kematian bunda mu. Aku tidak akan mengelak dari peluru mu, atau mau memakai senjata ku?"
Queen mengambil senjatanya dari balik punggung, lalu menyodorkan nya ke Abhi. Dimana pria itu masih tertegun karena terkejut hampir saja membunuh wanita mungil yang selalu saja menemani malam-malam senyap selama perpisahan. Reaksi pria itu, membuat Asfa sadar. Jika situasi saat ini sudah pasti tidak beres.
Tak ingin mengambil resiko. Asfa mengambil satu jarum yang tersembunyi di balik selipan lengan jaketnya, lalu berjongkok. Kotak peti di letakkan di atas debu puing-puing bangunan. Tangannya memulai aksi yang biasa dirinya lakukan yaitu membuka gembok hanya dengan bantuan jarum. Setelah dua putaran. Gembok terbuka, lalu dilepaskan dan kotak di buka.
"Ouh damn it!" Serunya menutup kotak, dan bergegas bangun seraya memperhatikan sekelilingnya.
Tingkah aneh Asfa, membuat Abhi bingung. Rasa terkejutnya saja masih stay, dan kini bercampur dengan ketidakpahaman akan sikap mantan istrinya yang fokus, tenang tetapi mata menyorotkan kecemasan. "Ada apa?"
__ADS_1
Asfa mengabaikan pertanyaan Abhi. Langkahnya berlari menjauhi pria itu, menuju keluar puing-puing bangunan.
"Asfa!" Abhi ikut berlari mengejar wanita di depan sana dengan langkahnya yang panjang.