My Secret Life

My Secret Life
Bab 100: Racun baru


__ADS_3

"Tuuuaan..." seru bunda Anya yang langsung membuat Alvaro dan tuan Luxifer melepaskan pelukan dan berlari memasuki kamar.


Deg...


"Tuuan nonaa..." seru bunda Anya dengan gemetar.


"Nak kamu kenapa?" seru tuan Luxifer sembari memangku tubuh Asfa yang mengalami kejang-kejang.


Alvaro yang ikut panik juga memegang tangan Asfa dengan gemetar, ada ketakutan yang menyergap hatinya. Detak jantungnya seakan siap terlepas dari dalam raga, wajah Asfa sangat pucat dengan suhu tubuh yang dingin sungguh membuat ketakutan semakin nyata.


"Nak katakan apa yang terjadi! Bangun lah." ucap tuan Luxifer dengan lelehan air mata yang mengalir begitu saja, sembari memeluk tubuh Asfa yang masih saja mengalami kejang-kejang.


"Pa, cepat bawa Asfa ke ruangan rawat. Maafkan aku yang lupa dengan ucapan mu." ucap Alvaro yang baru saja ingat, jika adiknya mengatakan racun sebelum di bawa masuk ke mansion.


"Ayo!" tukas tuan Luxifer dengan menggendong Asfa yang untung saja sudah di pakaikan pakaian yang dipilih Alvaro.


Sekilas Alvaro bisa melihat jika pundak kiri Asfa mengeluarkan darah lagi, di saat papanya menggendong Asfa dengan posisi seperti koala. Keduanya turun ke bawah dengan lift, sedangkan bunda Anya menggunakan tangga dengan memberikan perintah pada semua bodyguard di rumah untuk meningkatkan keamanan. Dalam keadaan nona muda yang terluka, sudah pasti tuan besar hanya akan focus pada putrinya dan keamanan mansion menjadi tanggungjawabnya. Ketika tidak ada Justin ataupun Dominic di tempat.


Meskipun dirinya sedikit terkejut ketika pria tampan yang di anggapnya sebagai seorang dokter kepercayaan queen, justru memanggil tuan Luxifer dengan panggilan papa. Padahal selama ini hanya Asfa yang nampak sebagai putri tunggal tuan besar. Apapun itu tetap lah akan menjadi rahasia dan diam adalah keputusan yang terbaik.


Sedangkan di bawah. Alvaro sudah membuka kembali ruangan rawat Abhi dengan password retina mata. Membiarkan sang papa masuk terlebih dahulu, sebelum langkahnya mengikuti masuk dan menutup ruangan rawat kembali. Terlihat pemuda yang membantunya tengah terlelap di sofa, sedangkan Abhi masih dalam pengaruh obat bius yang di berikan olehnya sejak pagi.

__ADS_1


"Tunggu pa! Aku buka dulu." ucap Alvaro mendekati sebuah lemari kaca yang berdiri di ujung.


Dengan membuka kaca lemari yang menyimpan sebuah alat medis, namun dibelakang alat medis itu terdapat lukisan. Ketika Alvaro menggambil alat medis dan meletakkannya di lantai begitu saja, diputarnya lukisan bunga lili dengan ukuran 5R.


Kreeteek...


Suara tembok bergeser yang ada di balik Almari kaca, membuat Alvaro memberikan jalan agar sang papa yang menggendong Asfa masuk ke ruangan rahasia itu terlebih dahulu. Setelah memastikan aman, baru lah Alvaro ikut masuk. Dimana sebuah ruangan layaknya kamar hotel berbintang lima menyambutnya, dengan alat medis yang lebih canggih dan termodifikasi.


Dengan pelan tuan Luxifer membaringkan Asfa di kasur king size yang ada di ruangan itu dan memeriksa luka yang tertutup perban di pundak kiri putrinya, dengan perasaan di buka kembali perban yang cukup besar itu. Sungguh matanya melotot, ketika melihat luka itu dipenuhi lebam yang membiru dan luka yang seharusnya tidak memiliki efek samping separah itu ternyata menjadi sangat parah.


"Tenang pa, kita bisa menyembuhkan Asfa. Biar kan aku pasang alat pernafasan dan medis lainnya. " ucap Alvaro yang juga mengamati penyebaran racun begitu cepat, padahal sebelumnya hanya garis biru samar yang terlihat tapi kini menjadi jelas dan semakin lebar warna biru yang seperti luka lebam itu.


"Pa, biar kan Varo lihat racun apa yang memasuki tubuh Asfa." ucap Alvaro dengan mengusap pundak tuan besar yang selalu lemah di saat adiknya terjatuh.


Tuan Luxifer hanya bergeser, namun tak melepaskan usapan lembut di pipi putrinya. Alvaro tetap memeriksa pundak kiri Asfa yang semakin membiru dan semakin membesar. Dari pengamatannya sudah jelas itu racun jenis baru, dengan bergegas Alvaro mencari obat yang bisa memperlambat penyebaran racun baru itu.


"Katakan pada papa yang terjadi? Adik mu baik-baik saja kan?" tanya tuan Luxifer yang menatap Alvaro dengan cemas, setelah putranya itu memberikan suntikan cairan yang tentu saja dirinya tahu apa kegunaan cairan itu.


"Racun baru pa, Varo rasa pemuda itu tahu sesuatu." jawab Alvaro dengan bergegas meninggalkan ruangan rahasia yang membuat tuan Luxifer hanya bisa menyerahkan semua pada putranya, karena saat ini tugasnya adalah memantau reaksi dari cairan yang membuat penyebaran racun melambat.


Sesekali di liriknya jam di pergelangan tangan dengan memperhatikan monitor disisi lain ranjang dan lebih fokus pada warna biru yang semakin menyebar. Hingga waktu sepuluh menit warna biru itu tidak bertambah membuat detak jantungnya sedikit lega. Namun belum juga kelegaan di dalam hatinya benar-benar terasa, tubuh Asfa kembali mengalami kejang-kejang dan kali ini semakin hehat saja. Membuat tuan Luxifer langsung menarik ujung infus yang menggantung di atas.

__ADS_1


"Bertahan lah nak, papa akan melakukan apapun untuk membawa mu kembali." ucap tuan Luxifer dengan memeluk tubuh Asfa yang perlahan kembali tenang setelah cairan infus yang masuk ke tubuhnya terhenti.


Di saat bersamaan, Alvaro kembali masuk ke ruangan rahasia. Namun kali ini dengan seorang pemuda yang di tutup matanya, ada kilat amarah di dalam mata Alvaro membuat tuan Luxifer menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Terlebih pemuda yang di bawa Alvaro memiliki luka yang masih sangat segar, darah yang ada di sudut bibir pemuda itu masih tak terhapus, di tambah dengan lebab yang ada di mata pemuda itu ketika Alvaro membuka penutup mata terlihat sangat baru.


"Jelaskan!" titah tuan Luxifer dengan nada tingkat dingin kutub utara yang langsung membuat ruangan mewah itu seketika berubah menjadi ruangan freezer.


"Maaf, saya tidak tahu jika ada yang melakukan uji coba dengan racun yang saya buat. Itu.." tutur pemuda itu dengan pasrah setelah mendapatkan pukulan tiba-tiba disaat dirinya tengah terlelap, bahkan nyawanya saja seakan di tarik paksa oleh pria yang tengah menatap tajam di sampingnya.


Suara gemerut gigi yang menahan amarah sangat terdengar jelas, membuat telinga pemuda itu ngilu. Namun dari amarah singa di sampingnya, ternyata masih ada raja singa yang jauh lebih menakutkan dan membuat pemuda itu dengan susah payah menahan tubuhnya untuk tetap berdiri tegak.


"Shut up! Tell how help queen? ( Diam! Katakan bagaimana membantu queen?)" tegas tuan besar dengan mengangkat tangan kanannya agar pemuda itu bicara pada intinya saja.


"Racun itu baru di buat oleh perusahaan ku dengan virus yang baru kami temukan, tapi masih dalam tahap observasi. Penawar racunnya masih belum di temukan, meskipun sudah tiga bulan di lakukan uji coba pada hewan percobaan. Perusahaan ka..." jelas pemuda itu dengan panjangnya yang membuat Alvaro langsung membekap mulut pemuda itu.


"Stop! Call anyone for take example and come here now! (Berhenti! Panggil siapapun untuk menggambil contoh dan datang kemari sekarang! )" perintah tuan Luxifer dengan dingin dan tatapan matanya bagaikan anak panah yang baru saja di asah.


"Use it! ( Gunakan!)" ucap Alvaro menyerahkan ponsel pintar miliknya.


Tangan yang sedikit gemetar menerima pemberian ponsel Alvaro dan memencet nomer telepon seseorang, orang yang menjadi pimpinan team dalam pembuatan racun terbaru di dalam perusahaan nya. Terdengar pembicaraan kedua orang berbeda tempat itu singkat jelas dan padat, ada aura kepemimpinan dalam diri pemuda yang justru menahan rasa terintimidasinya dengan helaan nafas berulang kali.


"Kirimkan alamat mansion dan..." ucap pemuda itu yang membuat Alvaro merebut ponselnya kembali dan mengatakan sesuatu, yang membuat pemuda di depannya hanya menelan saliva dengan susah payah.

__ADS_1


__ADS_2