My Secret Life

My Secret Life
Bab 151: Emosi


__ADS_3

Buug…..


"Kenapa memukulku?" tukas Abhi memegang perutnya.


Rhey mendelik sebal, sudah kesekian kalinya pria menantu keluarga Aranda sibuk melamun. Maka tanpa ba bi bu, Rhey memukul perut Abhi dengan satu pukulan. "Jangan bermimpi menjadi pasangan Queen. Jika kamu tidak tahu cara bertahan hidup!"


"Kenapa kalian suka sekali kekerasan? Apa tidak ada kelembutan sama sekali?" Abhi menghela nafas, hidupnya seperti rollercoaster.


Rhey tak peduli dengan keluhan Abhi, dua jari Rhey memberikan kode agar mata Abhi serius melihat pertarungan di atas arena. Dua pria itu hampir seimbang, hingga si pria dengan tinggi yang lebih pendek membanting tubuh lawannya tanpa ampun.


Braaak…


Kuncian kedua kaki dan tangan si pria itu, berhasil menghentikan pergerakan lawannya. Rhey melambaikan tangannya, membuat dua petarung mengakhiri pertarungan dan berjalan turun meninggalkan arena. Terlihat dua petarung yang baru saja bringas dengan tatapan membunuh, berubah menjadi penuh kasih sayang dengan saling memapah tubuh masing-masing. Rhey melompat naik ke atas Arena, membuat Abhi ikut naik ke arena tampa gaya.


Rhey memasang kuda-kuda, dan menatap Abhi dengan tatapan memangsa. Abhi mengikuti tindakan Rhey tanpa banyak bertanya, satu tolehan kepala Rhey mengisyaratkan agar Abhi memulai pertarungan.


Tanpa menunda, Abhi melayangkan satu pukulan tangan ke arah wajah Rhey. Dengan sikap Rhey menepis tangan Abhi dan memukul perut Abhi. Abhi beralih menggunakan kaki kiri dengan sasaran pukulan lutut Rhey, tapi semua gerakan Abhi sangat mudah terbaca. Membuat Rhey memutar tubuh dengan menarik tangan kanan Abhi dan menerbangkan Abhi sejenak hingga terbanting ke bawah.


Braaak… Auuw…


Ringisan Abhi bukan tanpa alasan, setelah kemarin seharian bersama Ceta dan kini bertarung bebas. Benar-benar keluarga Asfa memberikan pelajaran tanpa ampunan. Rhey melepaskan tangan Abhi dan menyedekapkan kedua tangannya di dada. "Kamu benar-benar kacang mentah! Pergilah istirahat! Biarkan saja musuh mengepung nona muda, bukankah kamu suka bergantung dengan istrimu?"

__ADS_1


Abhi merasa panas dengan ucapan Rhey, bagaimana bisa pria paruh baya itu berfikir seburuk itu! Dirinya bukan benalu yang akan berlindung dibalik kekuasaan siapapun, terlebih tidak bisa melindungi Asfa. Dengan emosi yang meningkat, Abhi melompat dan bangun dari posisinya. Tidak ada lagi rasa sakit ditubuhnya. "Aku bukan benalu!''


Rhey tersenyum puas dan melepaskan sedekap tangannya, tangan kanan Rhey memanggil Abhi untuk maju. Dengan tatapan serius, emosi memuncak. Abhi menyerang Rhey dengan berbagai jurus, terlalu banyak serangan yang Abhi lakukan. Tendangan kaki menuju punggung, sodokan sikut ke perut, pelintiran tangan dan serangan beragam lainnya. Namun semua serangan Abhi ditepis Rhey dengan mudah, hingga kedua tangan Abhi terkunci dengan posisi Rhey di belakang tubuhnya. " Emosi itu bagus, tapi itu bumerang. Gunakan emosi untuk kekuatan tapi gunakan akal sehatmu untuk strategi! Seorang pemimpin tahu cara mengendalikan emosi. Cukup latihan hari ini."


Rhey melepaskan kuncian tangannya dan membebaskan Abhi dari kekerasan yang belanjut, ada sesuatu yang harus Rhey laporkan pada nyonya Aranda. Kepergian Rhey seketika membuat tubuh Abhi ambruk, para bodyguard yang ada di ruangan tarung bergegas menolong Abhi tanpa menunggu perintah.


Berbeda dengan keadaan Rania, gadis itu harus menerima hukuman atas kelancangan dalam memberikan informasi. Lelehan keringat ditubuhnya membuat tubuh Rania kehabisan tenaga. Bagaimana tidak kehabisan tenaga jika Alvaro justru menerkam tubuhnya seperti singa kelaparan. Tubuh pria yang terlelap dengan rambut sedikit panjang yang menutupi wajah, membuat Rania menyingkirkan rambut Alvaro dari wajah tegas sang suami. "Aku beruntung memiliki keluarga seperti keluargamu. Apakah ibuku akan kembali? Tapi siapa dia? Kenapa hidupku penuh kepalsuan? Apa yang akan ku lakukan jika ibuku kembali?"


"Lakukan seperti suara hatimu! Jangan pernah menyembunyikan apapun dari ku. Satu kebohongan bisa menjadi salah paham. Istirahatlah, nanti malam kita akan berlatih!'' tukas Alvaro yang mendengar ucapan Rania dan menarik tubuh Rania agar diam dalam pelukannya.


Meninggalkan kebersamaan Varo dan Rania, kegemparan terjadi dirumah sakit utama. Semua staff rumah sakit merasakan ketegangan luar biasa, para dokter pun tak luput dari aura intimidasi sang tuan besar. Masuknya Asfa ke UGD, membuat tuan Luxifer meninggalkan ruangan operasi Zoya. Langkah kakinya menyusuri lorong rumah sakit dengan hentakan kuat, hingga matanya melihat sosok assisten putrinya tengah berdiri didepan pintu UGD.


Justin menyadari kedatangan tuan Luxifer dan menundukkan kepala sesaat, sebelum menatap tuan besar. ''Maaf saya tidak menjaga queen dengan baik. Saya menemukan queen terbaring didalam salah satu kamar hotel, suhu tubuhnya sangat tinggi. Dokter masih melakukan pemeriksaan didalam."


Justin mengangguk dan berjalan meninggalkan lorong rumah sakit, kepergian Justin membuat langkah tuan Luxifer memasuki ruangan UGD tanpa permisi. Sekali lagi matanya harus melihat selang infus dengan alat bantu pernapasan di tubuh Asfa, keadaan seakan menguji hatinya. Para dokter menegang, tapi tuan Luxifer tak peduli itu dan menghampiri tubuh lemah sang putri.


"Tell!'' titah tuan Luxifer dengan menggenggam tangan kanan Asfa.


Seorang dokter menghentikan kegiatannya dan menatap tuan Luxifer, meskipun tubuhnya terlihat gemetaran. " Keadaan queen tidak baik, ada racun yang merusak daya tahan tubuhnya. Terlebih queen tidak menjaga pola makan dan istirahat cukup."


Tuan Luxifer mendengarkan dengan wajah dingin, teringat ucapan semalam dimana putrinya rela mengambil tanggungjawab demi kebahagiaan dirinya bersama Zoya. Tentu saja ada hantaman didalam dada tuan Luxifer, ntah sejak kapan dirinya egois dan mementingkan kebahagiaan diri sendiri.

__ADS_1


Melihat tuan Luxifer hanya diam membisu. Dokter dengan hijab menghampiri tuan Luxifer dan memberikan hasil pemeriksaan, tuan Luxifer menerima kertas laporan dan membaca apa yang tertera di atas kertas itu. Kedua alis tuan Luxifer mengkerut, tatapan tajam kini teralihkan kepada sang dokter. Kepalan tangan tuan Luxifer jelas menjelaskan emosinya tengah meningkat, dokter berhijab itu menunduk.


"Apa pemeriksaan sudah selesai?" tanya tuan Luxifer dengan suara serak.


"Sudah tuan, satu jam lagi akan diperiksa ulang. Semoga demamnya queen sudah turun, kami permisi." tutur dokter berhijab dan pamit undur diri.


Semua dokter meninggalkan UGD satu persatu, kini hanya tinggal tuan Luxifer bersama Asfa yang terbaring tak sadarkan diri dengan selang ditangan dan selang di wajah pucat Asfa. Alat bantu pernapasan itu membuat jantung tuan Luxifer tak tenang dan ingin berhenti berdetak, sekali lagi matanya harus menyaksikan sang putri terbaring setelah beberapa tahun keadaan membaik. Matanya kembali menatap kertas di tangan kanannya, hasil diagnosis yang kembali mengingatkan perjuangan kehidupan beberapa tahun silam.


"Bangunlah baby, kenapa kamu suka bermain petak umpet? Jika papa melakukan kesalahan atau lalai memberikan kebahagiaan, cukup tegur atau marahi papa. Kenapa harus kembali menjadi putri tidur? Apa yang harus papa katakan pada kakakmu? Cepatlah bangun, kamu jantung dunia kami." Tuan Luxifer mengecup tangan Asfa, tanpa disadari lelehan air matanya terjatuh di tangan Asfa.


Seorang pria bermasker dan pakaian suster berjalan menyusuri lorong rumah sakit, langkahnya terlalu buru-buru hingga menabrak tubuh orang lain dari balik lorong ke empat.


Bruug…


"Tidak lihat lihat jalankan kamu?" sindir pria kekar dengan mengusap bahunya.


Pria bermasker hanya menunduk, kembali berjalan dengan langkah cepat tanpa meminta maaf. Pria kekar merasa curiga dengan gelagat suster pria yang bermasker, dengan langkah memburu menyusul suster yang hilang di balik lorong kelima. Pria kekar menyusuri seluruh lorong rumah sakit hingga lobi rumah sakit, tapi tak menemukan suster bermasker yang menabrak bahunya. Tanpa menunda, pria kekar itu menghampiri meja resepsionis.


"Apa ada suster pria baru dirumah sakit?" tanya pria kekar dengan tidak sabaran.


"Maaf duke, queen tidak merekrut anggota baru. Bahkan semua staff dan dokter adalah perekrutan pertama sejak rumah sakit didirikan." jawab sang resepsionis.

__ADS_1


Tanpa menjawab, pria kekar berjalan menuju ke tempat yang seharusnya. Sedangkan suster bermasker sudah mengubah penampilannya dengan wajah asli didalam mobilnya. Senyuman penuh makna terbit dari bibir pria itu, matanya melirik ke kursi belakang. Dimana seorang wanita dengan pakaian rumah sakit utama tertidur pulas karena obat bius.


Permainan dimulai. Selamat datang ke neraka Luxifer!~ batin pria itu dan menyalakan mesin mobilnya, meninggalkan tempat parkir rumah sakit utama dengan hati berbunga-bunga.


__ADS_2