
"ASFAAA....,"
Deg!
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Segelas air putih di ulurkan, "Minum! Apa ada yang merebut makananmu? Pelan saja makannya!"
"Thanks, Ka. Dimana Rose?" Asfa menatap Vans lembut, membuat pria itu mengulurkan tangan untuk mengusap pipi perinya.
"Ka?" panggil Asfa menaikan satu alis kanannya.
Vans tersenyum, "Rose masih bermain di alam mimpi. Aku siapkan mobil dulu, kamu selesaikan sarapan dan susul aku ke bawah bersama princess! Okay?"
__ADS_1
"Hmmm. Apa yang mau kakak sembunyikan, dariku? Senyuman manis. Apa kakak lupa, aku tidak bisa di bohongi?" Asfa mengelap bibirnya dengan tisu, lalu menarik tangan Vans untuk di genggam. "Diantara kita, tidak ada rahasia. Jadi katakan!"
Sejenak tatapan mata pria itu terhenti pada mata biru yang selalu memberikan aura ketenangan. Mata yang selalu memberi sebuah harapan terbitnya sinar mentari setelah kegelapan menerjang. Andai boleh memilih, sudah pasti ada keegoisan. Namun, cinta bukan tentang memiliki akan tetapi tentang merelakan. Perdebatan semalam masih mengusik hati dan pikiran, membuat ia tidak bisa melupakan rasa bersalahnya.
Asfa bangun seraya mendorong kursi menggunakan kaki kirinya. Tidak ada kata yang terucap, hanya langkah kaki yang mendekati pria yang selalu menjadi pelindungnya. "Tell, Ka!"
Vans menarik tubuh Asfa hingga masuk ke dalam dekapannya. Lingkaran kedua tangan pria itu terasa erat, ada rasa yang menyusup mengatakan keadaan sang pelindung dalam kondisi kurang baik. Hal itu membuat Asfa membalas pelukan Vans seraya mengusap punggung kekar sang pelindung.
"I am always with you, whatever you blame. I don't mind, you know who I am, and it's enough for me. Remember that!" (Saya selalu ada dengan Anda, apapun yang Anda permasalahkan. Saya tidak keberatan, Anda tahu siapa saya, dan itu cukup bagi saya. Ingat itu!)"
"Maafkan aku," Vans menyandarkan kepalanya di bahu kiri Asfa, membuat wanita itu tersenyum tulus.
"Maafkan aku, apa kakak ini tengah mengigau? Bukankah terbalik? Aku yang selalu melukai perasaan ka Vans tanpa pernah memberikan obat." Asfa melepaskan pelukan, lalu menangkup wajah tampan dengan paras blasteran Arab di depannya. "Aku selalu merepotkan kakak tanpa memikirkan perasaan yang tersimpan di hati ini, aku juga tidak pernah bertanya sejauh apa kakak berkorban untuk kehidupan ku. Aku tahu cinta kakak lebih besar dan tulus dari Abhi. Maaf...,"
__ADS_1
Vans membungkam bibir Asfa seraya menggelengkan kepalanya. "Jangan pernah minta maaf padaku, aku mencintaimu karena kamu adalah nyawaku. Bagiku senyuman dan kebahagiaan mu di atas segalanya. Percayalah, aku tidak memiliki tuntutan apapun dalam cintaku. Ingatlah, kata maaf tidak berhak hadir dalam cintaku untukmu Queen Asfa Luxifer peri ku tersayang."
"I know, kata maaf tidak bisa menjadi penyekat cinta kakak untukku." Asfa melepaskan tangan pria itu, lalu mencium kedua tangan Vans, "Aku akan selalu menyayangi kakak sebagaimana aku menyayangi ka Varo. Aku tahu ini menyakiti hati kakak, tapi aku tidak ingin memberikan harapan palsu....,"
"NO Needs Explain! We know everything, my love is not a choice. I love you like rain in the dry season." (Tidak perlu dijelaskan! Kita tahu segalanya, cintaku bukan sebuah pilihan. Aku mencintaimu seperti hujan di musim kemarau.)
Ucapan lembut penuh makna Vans, menyayat hati Asfa. Siapa yang bodoh disini? Cinta yang tulus selalu siap memberikan support dan menjadi sandaran untuknya. Bukannya mencoba menerima. Justru penolakan yang selalu diberikan. Tidak. Bukan karena bodoh, tapi hati tak mampu berbohong. Rasa sayangnya untuk Vans hanya sebatas seorang adik ke kakak, dan sebagai sahabat saja.
Pembicaraan dari hati ke hati, membuat keduanya saling terdiam dengan tatapan mata saling memandang. Satu hati bergetar, sedangkan satu hati lagi terasa hampa. Sementara di tempat lain, didalam kegelapan nampak pergerakan jari jemari dari layar CCTV.
"Tuan, tawanan siuman. Lihatlah!" lapor si pengawas, membuat seorang pria yang berbaring di sofa putih membuka matanya, lalu bangun seraya meregangkan persendian leher.
"Berikan makanan dan minuman terlezat untuk hidangan pembuka!" titah pria itu dengan tangan menutup mulut yang menguap.
__ADS_1
"Siap, Tuan." jawab si Pengawas beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan meninggalkan ruangan operasi sistem.