
"Apa kau yaqin masih stay di tempat ini? " tanya seorang wanita berhijab yang tengah menikmati boba ukuran jumbo.
"Hmm.Apakah dosa ku akan terampuni?" jawab pria muda yang mengaduk cangkir kopi hitam nya tanpa henti.
"Ayolah boy, Allah saja maha pemaaf apalagi kita yang manusia. Berdoa saja semoga semua menjadi baik." ucap wanita berhijab itu dengan menggenggam tangan pria di depannya.
"Tapi kau tahu kan Aisyah, apa yang aku lakukan dulu." ucap lirih pria muda itu melepaskan tangan wanita yang ada di atas tangannya.
"Haah aku pun juga bersalah, bersabarlah Van." jawab Aisyah dengan meletakkan minuman boba nya ke meja.
Keduanya larut dalam fikiran masing-masing, mengingat sebuah peristiwa yang sangat memilukan. Membawa kedua lawan jenis itu tenggelam dalam sebuah dosa yang mungkin sangat kejam, namun nasi sudah menjadi bubur. Bagaimana pun itu sudah menjadi masa lalu, yang bisa di lakukan kini adalah bertaubat dengan doa tulus memohon ampunan.
......................
"Thank you baby, best coffe always.(Terimakasih sayang ku,kopi terbaik selalu)." ucap tuan besar menikmati kopi hitam nya bersanding dengan putri nya yang tengah berselancar di dunia maya di depan laptopnya.
"Thanks too dad (terimakasih kembali ayah) , dad aku mau ini." rajuk Asfa menunjukkan sebuah motor sport keluaran terbaru yang membuat mata gadis itu berbinar terang dengan warna mata biru laut nya.
"Do that baby, everything just for you.( Lakukan itu sayang, semua hanya untuk mu.)." jawab tuan besar dengan santai nya.
Cup.. cup.. cup...
"Love you dad.(Aku sayang ayah.)." ucap Asfa setelah mengecup kedua pipi dan kening ayahnya.
Uang bukan masalah untuk seorang tuan besar dengan kekayaannya yang tidak terhitung lagi, terlebih lagi beberapa mansion dengan koleksi mobil sport dan motor sport menjadi hobi nya. Putri nya pun memiliki hobi yang sama seperti dirinya tapi itu justru membuat nya semakin dekat dengan pembahasan yang memiliki frekuensi sama, terlihat putri nya sibuk membuat transaksi motor sport yang di inginkan nya.
"Nak, bagaimana keadaan suami mu?" tanya tuan besar dengan serius.
"5 minute dad, we will talk serious.(5 menit ayah, kita akan bicara serius.)." jawab Asfa yang masih menyelesaikan beberapa data transaksi.
Hening selama beberapa menit hingga putri nya menutup laptop dan duduk berhadapan dengan dengan dirinya, terlihat raut wajah serius dan dingin seperti wajah nya. Terlihat jelas garis wajah putri nya itu perpaduan antara dirinya dengan istrinya, sayang satu cahaya datang dengan membawa pergi cahaya yang telah redup.
"Papa.. are you okay? (Papa... Kamu baik-baik saja?)." tanya Asfa yang melihat ayah nya terlihat termenung.
"Always okay with you baby, i miss your mom.(Selalu baik bersama mu sayang, aku merindukan ibu mu.)." jawab tuan besar dengan mengelus wajah Asfa.
__ADS_1
"Aku ada untuk mu pa, mom sudah bahagia di surga jadi kita harus bahagia. Soal Abhi, aku melakukan sebuah operasi kemarin malam dan docter Bia akan memberi ku kabar jika pasien sudah kembali sadar." ucap Asfa mengalihkan perhatian ayahnya.
"Apa keluarga Bagaskara tidak tahu apapun tentang perusahaan? " tanya tuan besar.
"Hehehe pertanyaan papa sungguh lucu. Jika papa sudah tahu semuanya, lalu untuk apa pertanyaan ini? " ucap Asfa dengan kekehan akan tingkah ayah nya.
"Benar juga, lalu apa keputusan mu tentang semua yang terjadi?" tanya tuan besar yang menghentikan kekehan putri nya.
"Mungkin sedikit bermain petak umpet, atau permainan lainnya pa, masih otw dalam jaringan." jawab Asfa dengan ambigu seakan membiarkan ayah nya menyerah.
"Lakukan seperti yang kamu inginkan, apa ada yang harus papa tahu? " ucap tuan besar yang kini lebih serius dengan menggenggam tangan putri nya.
"Bisakah aku mengurus Dia sendiri tanpa campur tangan papa?" jawab Asfa dengan tatapan memelas.
"Hhuuft ini pilihan sulit setelah apa yang laki-laki itu lakukan, tapi baiklah. Tapi ingatlah, ketiga laki-laki itu menyakiti putri kesayangan ku lagi maka tangan ini yang akan menghukum nya dan kali ini kamu sendiri tidak bisa menghentikannya." ucap tuan besar dengan menghela nafas.
Greeeb....
"Setuju, apapun yang papa inginkan." jawab Asfa dengan pelukan erat di dalam dada bidang ayahnya.
Kedua nya tampak menikmati quality time tanpa mempedulikan keributan di bawah sana, dimana sepuluh orang pria dengan berbagai ukuran tinggi dan berat badan yang sudah lengkap berpakaian olahraga sedang menikmati upacara dadakan. Terlihat satu pria yang berpakaian paling beda dengan kaos putih polos transparan nya tengah komat-kamit dengan hilir mudik tanpa henti, pasangan mata yang menatap satu sosok berbeda itu menghadirkan kupu-kupu terbang di atas kepala mereka.
"Siap!" jawab pasukan berbaris dengan keterkejutan.
"Hey kau, ini bukan waktu nya tidur! Bangun." bentak nya menunjuk barisan paling ujung kanan.
"Hah apa? Maaf." jawab nya yang baru sadar mendapatkan tatapan tajam dengan tatapan lainnya seakan semua tengah berpusat pada nya.
"Baiklah, cepat lakukan yang tadi sudah ku jelaskan. Tapi untuk mu tetap disini!" perintah pria yang menjadi pemimpin.
Kepergian pasukan membuat bulu kuduk pria berkacamata berdiri seakan insting nya mengatakan untuk lari tapi apa daya nya jika kaki nya terasa membeku dengan tusukan mata tajam bak elang yang siap menerkam nya. Di dalam hati nya berdoa ayat kursi untuk mengusir segala jenis marabahaya yang sudah siap menerkam nya tanpa aba-aba, senyuman devil terlihat jelas di wajah pria itu.
"Tuan Justin tenang lah, aku akan menuruti semua perintah mu tapi bisakah gunakan penutup wajah lagi?" pinta pria berkacamata dengan susah.
"Apa?" tanya balik Justin yang sedikit tidak paham maksud pria berkacamata.
"Eem itu loh benda yang anda gunakan saat meeting." jawab pria berkacamata seraya menggambar di atas wajahnya sendiri yang membuat Justin menahan tawanya.
__ADS_1
"Apa aku menyeramkan bagi mu Leo? " tanya Justin semakin mendekati pria berkacamata.
"Eeh tuan mau apa? Tuan Justin ganteng kok pake banggeeet malah." jawab leo melangkah mundur teratur.
"Stop! " seru Justin yang melihat pria satu ini tidak memiliki jiwa pria.
Deg....
"Mulai hari ini kau adalah assisten ku, ingat ASSISTEN! Jadi tugasmu hanya mengikuti semua perintah ku tanpa penolakan atau pertanyaan, Apa dari sini kau paham?! " ucap Justin dengan suara intimidasi nya.
"Paa..haam." jawab Leo tampak gugup dan menunduk karena silau ketajaman mata Justin ternyata lebih mengerikan dari bossnya.
Sebenarnya hati nya bersyukur ternyata boss nya masih lebih baik dari orang-orang yang baru menjadikan nya sebagai assisten, meskipun hatinya juga memiliki tanda tanya besar dengan kehidupan istri boss nya yang terlihat jauh dari kata wow. Bahkan pernah dirinya bertanya pada salah satu bodyguard yang menjaga pintu siapa sebenarnya nona muda itu tapi justru sebuah pistol yang di arahkan ke kepala berkacamata nya bukan sebuah jawaban yang baik bukan maka sejak itu mulut terkunci dengan rapat.
"Hari ini pelajari semua peraturan dan tanggung jawab mu sebagai assisten ku dan satu lagi jangan tinggalkan mansion sebelum queen mengizinkan mu! " perintah Justin memberikan satu map merah kepada Leo yang ter bengong dengan hentakan sesuatu di tangannya.
"Ya ampun sabar Leo, keluar dari kandang macan malah masuk ke kandang singa. Apa ini?" gumam Leo membuka map merah itu yang ternyata deretan huruf seperti berkas perusahan tapi di atas nya tercetak satu kalimat yang membuat nya menelan saliva dengan susah.
...*Peraturan Hidup atau Mati*...
Kepegian Justin setidaknya memberikan ruang bernafas untuk Leo, dan seorang pelayan menghampiri nya untuk menunjukkan kamar yang akan di tempati nya. Sebuah kamar yang terlihat bisa menjangkau ke segala arah, kamar itu masih mewah meski pun dengan desain yang sedikit membuat nya pusing. Terlihat jelas cat dinding dengan berbagai warna dan beberapa papan tulis ukuran kecil menempati beberapa bagian, lebih tepatnya setiap satu warna dinding akan memiliki satu papan tulis yang terlihat seperti tangga papan tulis jika di perhatikan lebih teliti.
Klik... (Kepergian pelayan membuat Leo menutup kamar nya)
Di pandangi nya sekali lagi seluruh sudut kamar, hingga sebuah poster terlihat tertempel di belakang pintu, poster itu hanya sebuah kalimat yang membuat Leo tersentuh hatinya, siapapun yang membuat poster itu sudah pasti memiliki hati yang baik.
...********...
...Hanya membutuhkan satu tetes air untuk memberikan sedikit harapan dan kehidupan akan mulai terasa merasuki jiwa yang kosong_🌞...
...********...
*Sungguh kata-kata yang bijak, siapapun penulis nya aku tersentuh.* batin Leo seakan mendapatkan semangat baru.
Tanpa di sadari Leo jika sosok yang telah membuat nya kagum adalah istri bossnya sendiri, karena poster itu memang ada di setiap kamar dalam mansion milik Asfa.
.....................
__ADS_1
Sebuah benda pipih yang terlihat menyorot kan sinar nya di dalam kegelapan menandakan ada seseorang yang menghubungi nya, dengan cepat di sambarnya benda pipih itu yang masih terisi baterai hanya sepuluh persen, dibukanya dengan satu geseran jemari nya.
[Temui aku di Club Diamond jika kau ingin balas dendam dengan musuhmu! ]