My Secret Life

My Secret Life
Bab 256: QUEEN ASFA LUXIFER!


__ADS_3

"Queen, sampai kapan kamu menyendiri?" tanya Varo yang berdiri di depan pintu balkon kamar Asfa.


Hening!


"Queen Asfa Luxifer!" panggil Varo tegas menahan rasa geram dan cemas terhadap perilaku sang adik yang terlalu pendiam selama satu bulan terakhir.


Hembusan angin menerpa seluruh tubuh wanita itu. Rambut panjangnya bergerak kesana kemari mengikuti irama angin ,dan tatapan sendu menatap langit malam dengan ketenangan deru nafas. Suara panggilan sang kakak dihiraukan, hingga suara langkah kaki terdengar mendekati.


Di saat itulah perlahan Asfa terbangun, lalu menurunkan kaki ke lantai yang dingin tanpa alas kaki. Langkah kakinya berjalan mendekati jeruji pagar balkon kamar. Sementara Varo mengikuti kemana adiknya berjalan dari belakang seraya melepaskan jas kerja dan langsung digunakan untuk menghangatkan tubuh sang adik.


"Putri raja ku bukan wanita yang lemah. Seberat apapun masalahnya, Asfa akan selalu berdiri tegak menghadapi badai yang menerjang. Apa aku kehilangan adikku? Tolong, kembalikan kekuatan keluarga yang hanya tertuju pada Asfa Queen Luxifer."


Varo menahan rasa sesak di dada. Sungguh seluruh dunianya terasa mati karena diamnya Asfa. Suara yang parau dengan sekuat tenaga menahan gedoran dari pelupuk matanya.


"Kehidupan ini terlalu berharga untuk kamu abaikan. Lihat aku, lihat Papa, lihat Vans, dan yang paling utama adalah lihatlah putrimu Rose. Sampai kapan kamu tenggelam dalam rasa bersalah? Ego macam apa ini? Aku kecewa denganmu, tapi bukan berarti aku akan membiarkan kebodohan menguasai hidup adikku."


"QUEEN ASFA LUXIFER!"


Seruan Varo tak mampu lagi menahan diri. Rasa sesak di dada dan luka di hatinya meloloskan air mata terjun bebas mengalir membasahi kedua pipi. Ia memegang kedua bahu Asfa. Tatapan mata keduanya bertemu. Netra biru yang slalu penuh semangat, kali ini terlihat hampa. Sungguh keadaan kian memburuk. Sebulan berakhir setelah tragedi hari bersejarah masih menyisakan duka di dalam hidup sang adik.


"What you want?!" tanya Varo benar-benar putus asa.

__ADS_1


(Apa maumu?!)


Asfa melepaskan kedua tangan Varo dari bahunya, lalu berbalik kembali menatap ke atas langit. Sejenak memejamkan matanya hingga helaan nafas panjang terdengar, membuat Varo mencoba sekali lagi bersabar. Lima menit berlalu hanya ada keheningan.


"...,"


"Persiapkan pernikahan kami!" kata Asfa memberikan keputusan sebelum sang kakak kembali memberikan ceramah.


Satu perintah baru, tapi apa maksud dari PERNIKAHAN? Siapa yang akan menikah? Dia hanya ingin adiknya kembali menjalani kehidupan dengan normal, tapi kenapa tiba-tiba membicarakan pernikahan Keheningan sang kakak, membuat Asfa menoleh ke arah kakaknya. Ia tahu benar ada kebingungan dan pertanyaan yang masih berkelana di kepala Varo.


"Kakak, ingin, Aku kembali menjalani kehidupan. Iya 'kan?" tanya Asfa lembut menatap Varo yang mengangguk pasti.


Asfa mengangkat tangan kirinya, tapi justru menunjuk ke arah lain. Dimana arah itu menuju pintu balkon kamarnya. Sontak Varo mengikuti arah tangan sang adik. Di tengah pintu seorang pria tengah bersandar dengan kedua tangan bersedekap di depan dada. Pria yang ntah sejak kapan berada disana.


"Kami akan menikah," Asfa menggenggam tangan Varo, tatapan mata hampa berubah menjadi lembut. "Persiapkan pernikahan kami. Kakak bisa?"


"My doll, are you kidding me?" tanya balik Varo masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


(Boneka ku, kamu bercanda denganku?)


Langkah kaki tegas berjalan menghampiri kedua kakak adik itu. Wajah tegas dengan postur tubuh kekar, dan jelas pria itu sangat mampu untuk menjaga seorang queen yang memiliki sejuta talenta dan musuh. Langkahnya terhenti tepat di depan Asfa dan Varo.

__ADS_1


"Bro, sebelumnya Aku minta maaf. Aku ingin meminta izinmu untuk bersanding dengan adikmu. Aku tahu, tak seorangpun pria bisa menjaga Asfa lebih baik darimu dan Om Luxifer, tapi akan aku buktikan. Jika aku siap mengorbankan jiwa dan raga ku untuk memberikan kebahagiaan dan perlindungan yang terbaik untuk periku."


"Aku berharap restu darimu agar hubungan kami bisa mencapai pada kebahagiaan nyata. Apa kamu bersedia menyerahkan tanggung jawab untuk menjaga putri raja menjadi tanggung jawabku?"


Pria itu mengulurkan tangan kanannya di depan Varo dengan tatapan mata tertuju pada Asfa. Ia tengah menanti persetujuan sang kakak calon pengantinnya. Restu yang harus didapatkan agar pernikahan nanti menjadi awal baru keluarga besar dan bisa slalu saling mendukung satu sama lain.


"Do you want to marry him?" tanya Varo serius tanpa ingin membuat kesalahan yang bisa melukai adiknya sekali lagi.


(Apa kamu mau menikah dengannya?)


"Yes, Trust this is the best for the future. Apa Ka Varo merestui hubunganku dan Vans?" tanya balik Asfa, jujur ia sendiri tak ingin mengecewakan keluarganya lagi.


(Iya, percayalah ini adalah yang terbaik untuk masa depan.)


Ntah apa yang dipikirkan Varo. Pria itu terdiam, dan bukannya memberikan jawaban. Langkahnya justru meninggalkan Asfa dan Vans. Sontak saja menghadirkan rasa cemas di hati mempelai pria. Namun, usapan lembut tangan wanita di sampingnya mengalihkan seluruh rasa khawatir yang melanda hati.


"Periku, bagaimana ini?" tanya Vans seraya menghembuskan nafas galau.


Asfa tersenyum tipis melihat perilaku Vans yang seperti takut nilai ujiannya gagal. Senyuman tipis itu memancarkan binar kecerian dari netra biru laut dan tertangkap basah. Sontak saja semua rasa takut dari dalam hati seorang Vans sirna.


"Periku, kemari," Vans membimbing Asfa untuk berdiri di depannya, lalu memejamkan mata, "Ya Allah berikan seluruh kebahagiaanku untuk periku, dan ambillah dukanya hanya untukku. Semoga senyuman selalu menghiasi wajah mungil bidadari ku. Amiin."

__ADS_1


Doa yang ia panjatkan diakhiri dengan meniup ubun-ubun Asfa, lalu satu kecupan hangat mendarat menyentuh kening perinya. Perlakuan Vans begitu menggambarkan cinta kasih, membuat pria yang berdiri di balik dinding kamar tersenyum puas.


__ADS_2